Hikmah Peristiwa Ghadir Khum

Hikmah Peristiwa Ghadir Khum

  Bismillahirrahmanirrahim..............

Pertama-pertama kita hrs sepakat, bahwa sahabat adalah orang-orang pilihan (terbaik) Allah utk Nabinya, meskipun mereka manusia biasa yg tak luput dr kesalahan-kesalahan (sesuai dengan kodratnya sebagai manusia biasa), yang jasa-jasanya terhadap penyebaran islam telah banyak terbukti....Allah dan Nabinya mencintai mereka....Mengenai peristiwa Ghadir Khum, sangat banyak hadist-hadist yg menjelaskan dan penafsiran-penafsirannya yg juga disalah artikan demi kepentingan......Hal ini gak bisa dipungkiri !!!

Ana dalam bersikap selalu berkhusnudzhon, Disepanjang sejarah....banyak hadist-hadist yg sengaja ditutup-tutupi demi kepentingan waktu itu....tapi kadang krn banyaknya yg meriwayahkan shg hadist tsb masih bisa eksis, salah satunya : 


Dalam literatur Islam tercatat hadits Ghadir Khum ini berbunyi من كنت مولاه فعلي مولاه. Sementara hadits ini memiliki jalur periwayatan yang cukup banyak. Hadits ini diriwayatkan di dalam Musnad Imam Ahmad 2/71 nomor 641. Di dalam Musnad Ahmad, Hadits ini masuk kategori Shahih Lighairih, karena memiliki sanad yang shahih dari jalur periwayatan lain yang mencapai 30 sahabat. Imam Dzahabi di dalam Siyar A'lam Nubala menyebut matan hadits ini mutawatir (8/335)

Hadits tersebut juga diriwayatkan di dalam Mustadrak Hakim 3/109-110 yang mengambil jalur Imam Ahmad dari Zaid bin Arqam. Hadits ini malah disebut shahih atas syarat Imam Bukhari dan Muslim.I mam Dzahabi di dalam Mukhtashar Istidrak Dzahabi Ala Mustadrak Hakim menyebut bahwa hadits ini memiliki 12 jalur periwayatan.Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Turmudzy dalam Sunan 10/214,  Nasai dalam Khashaish, hal. 96, Imam Bazzar dalam Musnad 3/189, Ibn Hibban dalah Shahih Ibn Hiban nomor 2205 dan jalur periwayatan lain sebagaimana tertera di dalam kitab-kitab hadits.

Maka tidak ada keraguan tentang keotentikan hadits ini sebagaimana telah dijelaskan oleh berbagai ulama lintas zaman. Walaupun sanad pada beberapa jalur periwayatan dianggap memiliki cacat akan tetapi memiliki penopang melalui riwayat lain.



Setelah Kematian Imam HASAN r.a.
Pada suatu kesempatan Mu'awiyah bin Abi Sofyan bergurau kpd Abdullah bin Abbas r.a tapi dgn maksud serius: " Anda yang patut menjadi pemimpin masyarakat Anda sesudah Hasan." Tetapi Abdullah tdk terpancing dgn memberikan jawaban ketus :"Selama masih ada Abu Abdullah--maksudnya Husain bin Ali--hal itu tidak akan terjadi."

Saat ia (Abdullah) menemui Mu'awiyah ,ketika sedang beradadi mesjid ia mendengar Mu'awiyah bertakbir di tengah-tengah pasukannya dan disambut pula dengan takbisr,dan pada gilirannya orang-orang di dalam mesjid juga bertakbir. Abdullah bin Abbas pun datang menemui Mu'awiyah. "Ibnu Abbas,Anda tahu Hasan sudah meninggal?" Tanya Mu'awiyah.
Abbas " untuk itu anda bertakbir?"
Mu'awiyah "ya" Ibn Abbas mengecam keras sikap Mu'awiyah itu.
Fakhita binti Qarazah, istri Mu'awiyah mendengar suara-suara itu keluar menanyakan apa yang terjadi. "Ada berita apa maka anda begitu gembira?" Tanyanya. Setelah diberi tahu bahwa ia bertakbir gembira karena kematian Hasan, perempuan itu berucap: Inna Lillahi Wa inna ilaihi raji'un, dan dia menangis sembari berkat "Pemimpin para rasul dan anak Putri Rasulullah SAW telah meninggal,"katanya.

Sebelum Imam Hasan menemui ajalnya Ia berpesan kepada adiknya Husain,
Bahwa setelah Rasulullah SAW wafat diharapkan ayah mereka (Ali) yang akan menggantikannya,tetapi rupanya Allah belum berkenan dan mengalihkannya kepada Abu Bakar.Menjelang kematian Abu Bakar juga diharapkan demiian tetapi sekali ini juga dialihkan kepada Umar.menjelang kematian Umar membentuk sebuah majelis syura dan walaupun ayah menjadi salah seorang dari enam orang anggota yang di calonkan sebagai penggantinya,tapi kekhalifahan jatuh ke tangan Usman.
Setelah Usman meninggal dan kekhalifahan di tangan ayahnya,keadaan tak juga reda. Selanjutnya ia berkata : Adik ku, rupanya Allah tidak menghendaki keNabian dan ke Khalifahan itu berada di satu tangan,kita AHLULBAIT...Anda telah diminta oleh orang-orang pandir Kufah datang kesana dan mereka pula yang mengeluarkan Anda dari sana..saya sudah memohon kepada AISYAH kalau saya meninggal agar di ijinkan untuk dikuburkan dalam lingkungan rumahnya bersama Rasulullah SAW. Dia mengiayakan.tetapi saya tidak tahu,mungkin hanya karena rasa malu.kalau saya meninggal ajukanlah permohonan saya itu.jika ia menerimanya dengan senang hati,kuburkanlah saya dirumahnya.saya rasa akan ada orang yang akan mencegah kehendakmu itu. Kalaupun demikian janaganlah menentang mereka.kuburkan saja saya di Baqi'al-Garqad"

Husain melaksanakan pesan kakaknya itu,dan ia pergi menemui Aisyah menyampaikan permintaannya."Ya" sambut Aisyah,"dan Suatu kehormatan."
Bila berita itu sampai kepada Marwan bin Hakam ia menolak. "Pemakaman Usman dilarang,sekarang mereka mau menguburkan Hasan dirumah Aisyah.

Peristiwa ini membuat Husain marah,yang disambut serupa oleh Marwan. Tapi Abu Hurairah dapat membujuk Husain dengan mengatakan : bukan kakakmu sudah mengatakan ,jikajika dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah, bawa sajala kekuburan Muslimin.
Jenazah Hasan dibawa ke Baqi', dan dimakamkan disamping neneknya Fatimnah binti Asad.


Imam Hasan bin Ali r.a :

Meninggalkan sebelas anak laki-laki tanpa menyebutkan ada anak perempuan: Zaid,al-Qasim,Hasan,Abu Bkr,Abdullah (kelimanya terbunuh dalam pertempuran bersama pamannya,Husain), Amr.Abdur-Rahman.Husain,Muhamm
ad,Ya'qub dan Ismail. Sember lain. Menyebutkan lima belas anak laki-laki dan perempuan, dan yang memberikan keturunan hanya Zaid dan Hasan.

Demikian sekelumit yang dapat kita tela'ah dan mengambil hikmah dar segala kejadian, akan tetapi bukan lagi waktunya kita harus mengutuk apapun yang sudah terjadi
.
Kebenaran ttg hadist dimana Beliau bersabda
“Ya Allah barangsiapa yang aku menjadi pemimpinnya maka Ali pun menjadi pemimpinnya, dukunglah orang yang mendukung Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya”, adalah BENAR.....

dan jika dikaikan dgn hadits Tsaqalain : 

"Aku tinggalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat setelah (berpegang teguh kepada) keduanya; kitabullah (Alqur'an) dan 'itraty wa ahli baity (keturunanku dan keluargaku yaitu ahli Baitku), 

dimana ana pribadi menilai ada kandungan wasiat yg ingin disampaikan Rasulullah, sepakat para zumhur ulama bahwa ahlulbait dan keturunanya adalah yg paling berhak yg menjaga Alquran, siapa yg dekat akan selamat dan yg jauh akan tenggelam (bahtera nuh), karena dr merekalah tariqah diturunkan dr turun temurun, meskipun banyak badai fitnah melanda, selama mereka berpegang teguh dgn ajaran datuknya pasti tdk akan tersesat (Shohiburratib Alhaddad)......
Adapun mengenai "Maula" atau Pemimpin, jg hrs kita bs lebih bijak menafsirkannya....


Ketika Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib ditanyakan kepadanya, Bukankan Nabi Muhammad telah mengatakan من كنت مولاه فعلي مولاه, lantas Imam Hasan menjawab, sekiranya yang dimaksud oleh Nabi adalah pemimpin, maka Nabi akan menjelaskannya secara lebih terperinci, sebagaimana dijelaskannya perkara wajibnya shalat, puasa dan zakat.

Salah satu bukti nyata bahwa hadits Ghadir ini tidak mengandung makna khalifah adalah ketika terjadi Musyawarah Bani Tsaqifah yang pada akhirnya membaiat Abu Bakar sebagai Khulafaur Rasyidin pertama, tidak ada seorang pun sahabat yang menggunakan dalil ini untuk mengangkat Imam Ali.

Bagi penulis makna "Maula", jika diartikan sbg :

1. Pemimpin dunia (khalifah) / Amir.
 
Berapa banyak org rusak krn kekuasaan, berapa banyak kekuasaan merusak "hati" dll.
Ini harus jg dipertimbangkan kenapa Sy Ali meskipun mengetahui haknya, tetapi dengan besar hati , beliau tdk bersikeras utk mempertahankannya krn pertimbangan kemaslahatan umat....dan begitu juga yg mendorong banyak orang – terutama tokoh-tokoh para dzurriah yang menonjol – berhijrah meninggalkan kampung halamannya mencari kediaman yang aman.

Di antara orang yang hijrah dari Irak adalah Al-Iman Ahmad Al-Muhajir Ilallah (berhijrah mencari ridha ALLAH) Sebab Al Muhajir- seperti tokoh-tokoh ahlul bait yang lainnya selalu merasa ketakutan dan senantiasa menjadi sasaran pembunuhan dan penganiyaan. Hal demikian makin terasa pada saat terjadi pemberontakan dan huru-hara, di mana musuh-musuh Alawiyin rnenggunakannya sebagai kesempatan untuk menganiaya dan membantai mereka. Hal ini terutarna akibat rasa khawatir bahwa di dalam suasana kacau itu, kaum Alawlyin akan menampilkan diri untuk memegang kendali kekuasaan di tengah umat Islam yang tetap berpendirian bahwa kewajiban mereka adalah menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada Ahlulbait, keturunan Nabi pembawa agama ini serta bernaung di bawah panjinya, betapapun secara lahir mereka (umat Islam) tunduk kepada pemimpin yang lain. Atau demikianlah semestinya.
Namun banyak di antara tokoh Alawiyin berusaha menahan diri dan menghindar untuk tidak terjebak ke dalam huru-hara itu serta berupaya untuk tidak terlibat dalam pergolakan-pergolakan politik, disebabkan pelajaran-pelajaran praktis yang mereka terima dari berbagai pengalaman dalam bidang ini. Karena itu, bergerak di dalam lapangan politik – menurut pandangan mereka – akan selalu berakhir dengan kegagalan. Demikianlah pendirian segolongan Alawiyin. Namun ada segolongan lain berpendirian, bahwa Alawiyin harus berkorban dalam segalanya untuk menyelamatkan umat, yang harus terus menerus berjuang sehingga tujuan tercapai, atau mati bergelimang darah di tengah medan pertempuran.
Imam Al Muhajir termasuk golongan pertama, sedang saudaranya Muhammad bin Isa termasuk golongan kedua, dibuktikan dengan perlawanannya terhadap kekuasaan Abbasiyah. Dalam hal ini, Al Muhajir selalu memperingatkan dan memberi nasihat kepada saudaranya agar tidak melakukan perlawanan. Peringatan dan nasihat diberikan secara terus menerus, sehingga akhirnya merasa puas dan yakin akan kebenaran pendirian Al Muhajir, lalu menghentikan perlawanannya."
Al imam Muhajir ilallah, ahmad bin isa yg hijrah dr basyrah ke hadramaut, dlm rangka menjauhkan diri dr fitnah2 kekuasaan, dan menyelamatkan tariqah datuknya, dan banyak lagi contoh2 para dzurriah yg sengaja menjauhkan diri dr lingkaran kekuasaan agar bisa lebih fokus dlm memperdalam dan menyelamatkan aqidah.........


2. Imam berbeda dari segi arti dengan"faham Imamiyah".
 
Ahlulbait dan keturunan suci Rasulullah, dimuliakan oleh Allah karena ada titisan darah yg mengalir ditubuh mereka, tapi tdk menjadikan mereka maksum, yg mrpkan hak kenabian. Mengenai keutamaan mereka banyak dalil2 yg menjelaskannya....Kesimpulannya, mereka para Ahlulbait dan keturunan suci Rasulullah memiliki kodrat yg sama dgn manusia yg lain,bisa melakukan kesalahan2 ..... tetapi dikarenakan Kemuliaan Allah ada pada mereka, dan keberkahan Datuknya yang selalu membimbing, sehingga ana melihat mereka bagaikan "Ilmu yg belum terasah", 

wallahu alam bisy syawab....

Makna Imam juga berarti Pemimpin, banyak ulama mengartikan maknah imam yg begitu luas, cm ana mengartikan sempit yakni dalam hal keagamaan....Jadi ana menganggap imam adalah gelar yg boleh disandang oleh siapa saja yg memiliki kapasitas sesuai dengan kriteria yg dimaksud, tidak berarti membatasi hanya 12 saja.Inilah perbedaan yg ana kira dr faham imamiyah.


Tetapi intinya bukan itu, Apa yg terjadi sudah menjadi ketentuan Allah yang terbaik, dimana Para dzurriah bisa lebih fokus dalam menyelamatkan agama dan aqidah dan tdk berada dalam lingkaran kekuasaan yg hubbun dunniya yang malah bisa menjerumuskan seseorang dalam kebatilan. Kami tidak memungkiri tentang Kebenaran Peristiwa Ghadir Khum, tetapi kami mengambil hikmah dari peristiwa itu...
Meski banyak yg memungkiri, tetapi semua sepakat tentang kelebihan Sy Ali, yg sepanjang hidupnya paling dekat Rasulullah, yg otomatis selalu mendapat bimbingan langsung dr Beliau.
Memang tidak diragukan bahwa ‘Ali merupakan seorang yang berpengetahuan tinggi di kalangan para shahabat dan memiliki banyak keutamaan. 


أَنَا مَدِيْنَةُ اْلعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا

“Aku (Rasulullah) adalah kota ilmu dan ‘Ali adalah pintunya.”
Tetapi Sy Ali adalah bukan seseorang yg haus kekuasaan, beliau sgt bijak dalam melihat situasi, dgn berbesar hati melepaskan tongkat pemerintahan dgn pertimbangan yg matang utk keturunan suci Rasulullah dan kemaslahatan umat.....dan aqidah terselamatkan......

Sayyidini Ali sendiri sangat menghormati dan sangat mencintai Khalifah-Khalifah sebelum dia (Ali) terbukti saat Abi Sufyan bin harb datang kepadanya ingin membaiatnya (Ali) setelah wafatnya Rasulullah. namun Ali berkata : anda (Abu Sofyan) msh saja memusuhi Islam..tiada seseorang yang lebih pantas menggantikan Rasulullah selain Abu Bakar r.a anda (abu Sufyan) hanya ingin memecah belah kadaulatan Islam.

Terlepas dari itu semua......Allah azza wa jalla tdk salah dalam memilih semua sahabat yg hidup di zaman rasulullah, karena zaman itu yg terbaik......dan Begitu besar jasa dan perjuangan mereka....
Jadilah umat yg terbaik, serahkanlah semuanya kepada NYA, kita gak perlu mengungkit2 kesalahan2 yg terjadi, jadikanlah pelajaran utk kedepan. jangan hanya satu kesalahan menutupi semua kebaikan mereka....


Wallahu Alam........

abdkadiralhamid@2013

Subscribe to receive free email updates: