//

Wafatnya Sayyidatuna Fatimah Azzahra


Wafatnya Sayyidatuna Fatimah Azzahra


Rumah kecil yang diberkahi Allah dan Rasulullah diselimuti kelam. Hasan dan Husein cucu kesayangan Rasul pun seakan faham bahwa mereka akan ditinggal bunda tercinta. Siang itu menjadi salam perpisahan buat Imam Ali k.w., cucu Rasul tercinta Hasan, dan Husein Sang Martir.
Fatimah pun memanggil suami tercintanya, agar duduk disebelahnya, ia memohon: "Wahai suamiku 'Ali tercinta: "peganglah dadaku sebelah sini."
Ali k.w. pun melakukan perintah istri yang sebentar lagi akan menghadap Sang Khaliq. Lalu putri Rasulullah r.a. mengambil sehelai sutra hijau bertuliskan suatu maklumat.
"Wahai Suamiku, sertakanlah maklumat ini di dalam kafanku. Apakah engkau mengetahui hal ini? Ketika aku akan diserahkan kepadamu sebagai istri, aku menolak empat ratus dirham yang diwariskan. Aku berdoa bahwa yang diwariskan kepadaku menjadi syafaat di Hari Kiamat dan semoga Allah SWT ridha. Maklumat Ilahi ini adalah suatu yang membuktikan bahwa aku telah menerima hak dan sejumlah keharusan terhadap syafaat, atas nama pendosa-pendosa di kalangan umat ini. Tempatkan ia dalam kafanku, agar aku nanti membacanya di hadapan Allah Jalla Jalaaluh".
Kemudian Istri Solehah melanjutkan wasiatnya, "Suamiku, engkaulah yang mesti mengantarkanku dan menguburkanku dekat makam ayahku dan ucapkanlah, Ya Rasulullah, kami bawakan Anda Fatimah kesayangan Anda, cahaya kedua mata Anda. Engkau harus mengimbangi tanggapan apapun yang Engkau terima."
Sesaat kemudian, ruh Fatimah r.a. terbang melayang menuju alam atas sana, memenuhi panggilan Ilahi. Pulanglah!" ('irji').
Saat itu anggota Ahlul Bait tenggelam dalam lautan kepedihan dan derita, helaan nafas dan tangis mereka mengakibatkan para malaikat di langit berduka. Seluruh Madinah menumpahkan air-mata kesedihan mendalam. Ia yang oleh para Raja Para Rasul dikatakan bagian diri Rasulullah saw, meninggalkan dunia fana pada saat yang sama meninggalkan seluruh umat yang tak beribu lagi. Hanya Fatimah lah yang sangat berbahagia dengan kepergian itu untuk menemui ayah tercinta.
Imam Ali Karamallahu Wajhah (Wajah yang Diberkahi Allah) memandikan dan mengafaninya sendiri, dan pada saat yang sama menyertakan maklumat Ilahi di kafan Nabi Muhammad saw. Sang Imam melaksanakan prosesi pemakaman sesuai wasiat Al Batul dan di junjung tinggi. Pemandian dan pengkafanan menjadi hak prerogatif Abul Hasan atau Abu Turab (Gelar Beliau) saja.
Shalat pun telah dilangsungkan, Imam Ali bin Abi Thalib pun pergi menuju makan Rasulullah saw. Ia letakkan jenazah Fatimah r.a. di pintu gerbang makam dan berseru ke dalam makam, "Ya Rasulullah, saya membawakan Anda putri tercinta Fatimah."
Diriwayatkan bahwa ketika Imam Ali mengucapkan ini, makam Rasulullah saw merenggang dan terbuka, dua tangan yang diberkahi mencuat dari dalam dan suatu suara menjawab, "Bawalah ia kepadaku, Fatimahku, cahaya mataku, kebahagiaan hatiku." Lalu tangan tersebut merangkul Fatimah dan menariknya kedalam. Ia berada ke tempat semula sesaat setelahnya, dan para pengantar memakamkannya di pemakaman yang dikenal sebagai Taman Keindahan (Jannah Al-Baqi).
Disana ia berbaring hingga hari ini. Semoga Allah menganugrahkan kepada kita sarana yang halal untuk berkunjung dan berziarah menuju makam para Ahlul Bait. AMIN.

2014@abdkadiralhamid

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Wafatnya Sayyidatuna Fatimah Azzahra"

Post a Comment

Silahkan komentar yg positip