January 07, 2013

Filled Under:

Lima Bentuk Kejujuran Menurut Imam Ghazali oleh Habib Ali Akbar bin Aqil



Lima Bentuk Kejujuran Menurut Imam Ghazali 

oleh Habib Ali Akbar bin Aqil


Kata dan tema kejujuran tengah menjadi buah bibir banyak orang. Di koran, televisi, warung, ruang perkuliahan, kejujuran hadir dengan gaung yang membahana. Kita seakan baru mengenal kata dan sifat mulia, “jujur”. Entah karena seringnya berseliweran dusta dan kebohongan oleh perilaku kita sendiri ataukah karena seringnya kita dibohongi sehingga kita menjadi heboh dengan “kejujuran.”
Padahal, melakukan dan mengucapkan kebenaran telah diajarakan dalam Kitab Suci. Melaksanakan dan melafalkan dengan penuh kejujuran telah diungkap oleh Rasulullah. Padahal, mengamalkan dan melontarkan kebenaran telah disinggung oleh para Ulama.
Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (Qs. At-Taubah 119).
Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa pada surga.” (HR. Bukhari).
Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad berkata, “Langkah awal kejujuran itu adalah menjauhi dusta di semua ucapan. Kejujuran menjadi pintu masuk dalam perbuatan, niat, kenyataan hidup, dan di semua lini kedudukan.”
Imam Al-Ghazali menyebut ada Lima Bentuk Kejujuran. 


Pertama, jujur dalam ucapan

Tiap kata yang meluncur dari bibir dan lisan seseorang wajib memuat dan mengandung kebenaran. Bukan gunjingan, gossip, dan fitnah. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendakah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari-Muslim)


Kedua, jujur dalam berniat

Tanda niat yang benar, salah satu tandanya, berbanding lurus dengan perbuatan di lapangan kehidupan. Niat saja belum cukup jika tidak diiringi dengan kemauan dan kejujuran bahwa dirinya akan berupaya sekuat tenaga mewujudkan niatnya tersebut.
Dalam kasus contekan masal beberapa waktu lalu, menjadi pertanyaan besar buat kita, apakah selama ini para guru dan orangtua telah membiasakan siswa dan anak-anaknya untuk memasang niat yang baik dalam mencari ilmu? Apakah niat mereka sudah tepat yaitu mencari ilmu karena Allah ataukah supaya memperoleh nilai yang bagus, lalu lulus, dan selanjutnya memperoleh gelar dan ijazah? Dari niat, semuanya berawal dan padanya berakhir.


Ketiga, jujur dalam kemauan. 

Jujur dalam kemauan merupakan usaha agar terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam menyampaikan kebenaran. Berpikir masak sebeleum bertindak, menimbang baik-buruk dengan ‘kacamata’ Allah adalah tanda jujur dalam kemauan ini. Pada saat seseorang telah jujur dalam kemauan, tidak ada hal yang ingin ia gapai selain melakukan perkara yang dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.


Keempat, jujur dalam menepati janji. 

Janji adalah hutang, demikian kalimat yang sering terngiang. Karena hutang, maka wajib untuk dibayar sesuai dengan nilainya. Menepati janji bukan sembarang sikap. Menepati janji berarti mempertaruhkan harkat dan martabat dirinya di hadapan orang lain demi memberi keyakinkan pada orang tersebut bahwa ia sanggup untuk membayarnya. Dengan sikap jujur, janji akan tertunai dan amanah akan dijalankan.


Kelima, jujur dalam perbuatan. 

Sebagaimana Al-Ghazali menerbitkan makna jujur dalam  niat dan perkataan, pada traktak bentuk kejujuran yang kelima ini, Ghazali menggarisbawahi agar kita melengkapi diri dengan jujur dalam perbuatan.
Ucapan yang baik dan niat tulus akan menjadi semakin indah jika ada wujud amal dalam kenyataan. Jujur dalam perbuatan artinya memperlihatkan sesuatu apa-adanya. Tidak berbasa-basi. Tidak membuat-buat. Tidak menambah dan mengurangi. Apa yang ia yakini sebagai kejujuran dan kebenaran, ia jalan dengan keyakinan kuat bahwa Allah bersama orang-orang yang benar-benar benar.
Ibu Siami baru melewati sebagian bentuk kejujuran dalam pandangan Imam Al-Ghzali, kejujuran dalam mengungkap sebuah fakta yang mencoreng dunia pendidikan nasional di tanah air. Ada bentuk-bentuk kebenaran yang menunggu untuk kita laksanakan. Mampukah kita ?

Sumber Habib Ali Akbar bin Aqil

abdkadiralhamid@2013
Diposkan oleh Abdkadir Alhamid
Sejarah Ahlulbait Rasulullah Updated at: 22:47

0 komentar:

Post a Comment