January 09, 2013

Kategori:

Kabar Gembira Bagi Pecinta Ahlu Bait Nabi saw



Kabar Gembira Bagi Pecinta Ahlu Bait Nabi saw



Pada bab terdahulu, telah dibahas bagaimana kecintaan salaf kaum muslimin kepada ahlu bait. Banyak dari mereka yang rela mengorbankan dirinya dikarenakan kecintaan kepada keluarga Nabi saw. Kecintaan kepada Nabi saw dan keluarganya telah lahir sejak hari-hari pertama dalam sejarah Islam, baik di dalam alquran, hadits maupun akhlaq dan tingkah laku Nabi saw.

Ahlu bait Rasululullah saw memang memiliki kemuliaan khusus dan beliau saw pun telah menunjukkan perhatiannya yang amat besar kepada mereka. Di masa hidupnya, beliau berulang-ulang menghimbau agar umatnya mencintai dan menyayangi mereka. Dengan itu pula Allah swt telah memerintahkan dalam firmannya :

‘Katakanlah, Hai Muhammad : Aku tidak minta upah (imbalan) apa pun atas hal itu (dakwah risalah Islam), kecuali agar kalian mencintai keluargaku’.[1]

Ayat di atas menjelaskan bahwa Nabi saw tidak meminta kepada kaum muslimin atas penyampaian agama yang lurus (Islam) keuntungan duniawi, tetapi Nabi saw hanya meminta agar kaum muslimin mencintai Allah swt dan Rasul-Nya dalam mendekatkan diri kepada Allah swt dengan cara mencintai keluarga Nabi saw.

Karena itu, sudah sepatutnya seluruh kaum muslimin memenuhi hati mereka dengan kecintaan dan kasih sayang kepada ahlu bait serta menghormati dan memuliakan mereka, demi kekerabatan mereka dengan Rasulullah saw, tanpa berlebih-lebihan dan sikap keterlaluan. Rasulullah saw bersabda :

‘Dua golongan akan binasa akibat sikapnya terhadap Ali, yaitu golongan yang mencintainya secara berlebih-lebihan sehingga kecintaannya itu membawa mereka ke jalan yang tidak benar; dan golongan yang lain ialah mereka yang membenci Ali secara berlebih-lebihan sehingga kebenciannya membawa mereka ke jalan yang tidak benar. Orang yang bersikap baik terhadap diriku ialah mereka yang mengikuti jalan yang ditempuh oleh jamaah terbanyak. Karena itu hendaklah kalian berpegang pada jalan itu. Ingatlah bahwa pertolongan Allah dilimpahkan kepada jamaah. Janganlah kalian bercerai-berai, karena orang yang memisahkan diri dari jamaah akan menjadi mangsa setan, sebagaimana kambing akan menjadi mangsa srigala bila ia terpisah dari rombongannya…‘


Bagi para pecinta ahlu bait Nabi saw, Rasulullah saw telah memberikan kabar gembira kepada mereka. Mereka yang mengikuti dan mencintai ahlu bait dengan tulus ikhlas, Rasulullah saw menjanjikan surga, sebagaimana sabdanya :

يا علي ان اول من يدخل الجنة أنا وانت و فاطمة والحسن و الحسين. قلت يا رسول الله فمحبنا , قال من وارئكم.

‘Wahai Ali, sesungguhnya yang pertama-tama masuk ke dalam surga adalah saya, engkau, Fathimah, Hasan dan Husein. Aku (Ali) berkata : ‘Bagaimana dengan orang-orang yang mencintai kita (ahlu bait). Rasul saw menjawab : Mereka akan masuk surga setelah kalian’.[2]

Rasulullah saw bersabda :

انما سميت ابنتي فاطمة لان الله عز و جل فطمها وفطم محبيها من النار

‘Sesungguhnya dinamakan anakku dengan Fathimah dikarenakan Allah azza wa jalla memutuskan dia dan orang-orang yang mencintainya dari sentuhan api neraka’.[3]

Rasulullah saw bersabda :

انا اول الناس دخولا في الجنه ثم ذريتي ثم محبونا يدخل الجنة بغير حساب لا يسألون عن ذنبهم بعد المعرفة و المحبة

‘Aku orang yang pertama masuk ke dalam surga, kemudian keturunanku, kemudian orang-orang yang mencintai kita (ahlu bait) masuk surga tanpa dihisab dan mereka tidak ditanya akan dosanya setelah mereka mengenal dan mencintai (ahlu bait)‘.[4]

Rasulullah saw bersabda :

يا علي خلقت من شجرة و خلقت منها و أنا اصلها و انت فرعها والحسن و الحسين اغصانها ومحبونا اوراقها فمن تعلق بشيئ منها ادخله الله الجنة

‘Wahai Ali, aku dan engkau diciptakan dari sebuah pohon, Aku dahannya dan engkau cabangnya, Hasan dan Husein rantingnya dan orang-orang yang mencintai kita (ahlu bait) adalah daunnya. Siapa yang bergelantungan di salah satu pohoh itu, Allah swt masukkan ke dalam surga.[5]

Rasulullah saw bersabda :

اول من يرد على الحوض اهل بيتي ومن احبني من امتي

‘Yang pertama akan berkumpul di telaga Haudh adalah ahlu baitku dan orang-orang yang mencintaiku dari umatku’.[6]

Mungkin dibenak kaum muslimin terlintas pertanyaan mengenai siapa ahlu bait saat ini yang patut dicintai dan diikuti. Jawabnya adalah siapa saja dari kalangan ahlu bait yang perilakunya menyamai atau hampir seperti prilaku salaf (leluhur) mereka yang saleh, dan menempuh jalan mereka yang diridhai, maka ia adalah imam yang cahayanya dijadikan pelita penerang dan teladannya diikuti, seperti halnya para leluhur mereka yang berjalan di atas jalan hidayah. Sebab dari merekalah imam-imam besar di masa-masa yang lalu, seperti amirul mukminin Imam Ali bin Abi Thalib, al-Hasan dan al-Husein, Ja’far bin Abi Thalib, Hamzah, Abdullah bin Abbas, Abbas paman Nabi saw, Imam Ali Zainal Abidin bin Husein, Imam Muhammad al-baqir dan puteranya Imam Ja’far al-Shaddiq dan imam-imam lainnya dari ahlu bait yang disucikan, dari yang terdahulu sampai keturunan mereka yang datang kemudian.

Adapun mereka yang berasal dari ahlu bait tetapi tidak menempuh jalan leluhur mereka yang disucikan, lalu mencampuradukkan antara yang baik dan buruk disebabkan kejahilannya, seyogyanyalah mereka pun tetap dihormati sewajarnya, semata-mata disebabkan kekerabatan mereka dengan Nabi saw.

Namun siapa saja yang memiliki keahlian atau kedudukan untuk memberi nasehat, hendaknya tidak segan-segan menasehati mereka dan mendesak agar mereka kembali menempuh jalan hidup para pendahulu mereka yang baik-baik, yang berilmu, beramal saleh, berakhlaq mulia dan berperilaku luhur. Juga menegaskan bahwa mereka sebenarnya lebih utama dan lebih patut berbuat seperti itu, dan bahwa kemuliaan nasab saja tak akan bermanfaat dan tak akan meninggikan derajat, selama mengabaikan ketaqwaan, mencurahkan penuh perhatian pada dunia, meninggalkan amalan-amalan ketaatan serta menistai diri dengan berbagai maksiat.

Berkata al-Mutanabbi :

إذا لم تكن نفس الشّريف كأصله # فما الّذى تغنى رفاع المناصب

Bila jiwa sang bangsawan menyimpang dari leluhurnya
Tiada manfaat diperoleh walau tinggi kedudukannya.[7]

Tidaklah sepatutnya bagi seseorang yang diikuti, mengagung-agungkan atau menunjukkan puji-pujian kepada seorang jahil walau pun ia bernasab mulia atau dari keturunan orang-orang saleh. Sebab memuliakan dan memberi pujian yang ditujukan kepadanya secara terang-terangan adakalanya justru menjauhkannya dari kewajiban agamanya, mendorongnya untuk berani kepada Allah, membuatnya enggan melakukan amal-amal saleh dan menghalanginya daripada membekali diri untuk akhiratnya.

Dengan demikian, orang yang mengagung-agungkan dan memujinya ikut menjadi penyebab kerusakan dan penyimpangannya atau seperti orang yang sengaja hendak membinasakannya. Dengan itu pula, tentunya akan mendatangkan atas dirinya sendiri, murka Allah swt dan Rasul-Nya serta para salaf shalihin yang kepada mereka itulah berlanjut nasab si jahil tersebut, dan dengan mereka, ia merasa menjadi mulia. Sungguh mengherankan, betapa seseorang dapat terkelabui oleh nasab mulia semata-mata yang tidak diikutinya dengan nilai-nilai luhur?! Betapa ia mengandalkan itu sedangkan Rasulullah saw bersabda kepada putrinya tercinta :



يا فاطمة بنت محمد لا أغنى عنك من الله شيئا

‘Wahai Fathimah binti Muhammad, sungguh aku takkan cukup sebagai pembelamu di hadapan Allah swt’.[8]

Ada pula sebagian orang yang bila dikatakan pada mereka bahwa si fulan, yang termasuk anggota ahlu bait (keturunan Rasul saw), melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari agama atau mencampurbaurkan antara yang halal dan haram, maka mereka itu berkata : ‘Biarlah, ia adalah seorang ahlu bait. Rasulullah saw pasti akan memberikan syafaat untuk anak cucunya, dan mungkin pula dosa-dosa yang bagaimanapun tak akan menjadi mudarat atas mereka’. Sungguh ini adalah ucapan yang amat buruk, yang menimbulkan mudarat bagi si pembicara sendiri dan bagi setiap orang lainnya yang tergolong kaum jahil. Betapa seorang akan berkata seperti itu, sedangkan dalam alquran terdapat petunjuk bahwa anggota kelaurga Rasulullah saw dilipatgandakan bagi mereka pahala amal baiknya, demikian pula hukuman atas perbuatan buruknya, yaitu dalam firman Allah :

‘Hai istri-istri Nabi, barangsiapa di antara kamu melakukan perbuatan keji yang nyata, dlipatgandakan baginya siksaan dua kali lipat dan itu mudah bagi Allah. Barangsiapa di antara kamu tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal saleh, kepadanya Kami beri pahalanyanya dua kali dan Kami sediakan baginya rizki yang melimpah‘.[9]

Istri-istri Rasulullah saw adalah bagian dari keluarga rumah tangga beliau. Oleh sebab itu, siapa saja yang mengatakan atau mengira bahwa meninggalkan perbuatan ketaatan atau mengerjakan kemaksiatan tak mendatangkan mudarat bagi seseorang disebabkan kemuliaan nasabnya atau karena kebaikan amal serta pekerti luhurnya, maka orang itu sesungguhnya telah membuat dusta keji tentang Allah swt serta menyalahi ijma’ seluruh kaum muslimin.

Karena itu sudah selayaknya bagi para ahlu bait yang hidup saat ini, yang berada pada posisi di mana Allah swt berkehendak membersihkan kotoran pada mereka sebersih-bersihnya, agar selalu ingat anugerah yang telah diberikan-Nya kepada mereka dan selalu mengikat dengan kuat hubungan mereka dengan kitabullah serta menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhkan larangan-Nya.

Tanggungjawab ahlu bait yang paling penting adalah mereka harus mengetahui kedudukan mulia yang dimiliki Rasulullah saw serta keluhuran namanya, demikian pula sesuatu yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada beliau berupa keluhuran jiwa dan kesucian hati, serta bagaimana Rasulullah saw mendidik istri-istri dan anak cucunya dengan pengarahan yang baik serta pensucian jiwa yang matang agar rumah tangga beliau saw menjadi sebaik-baik rumah tangga di bumi dari segi akhlaqnya, amaliahnya, ilmu dan sopan santunnya, sebagaimana Rasulullah saw sendiri menjadi panutan yang diberkahi bagi kaum muslimin, yang wajib diikuti oleh setiap orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

‘Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah‘.[10]

Kehidupan, jihad, akhlaq dan kecintaan Rasulullah saw terhadap akhirat melebihi urusan keduniaan ini, yang tercermin dalam ibadah, zuhud, qiyamul lail dan dzikir beliau saw serta rasa takut dan tangis nya kepada Allah swt, sehingga ketika beliau ditanya oleh Siti Aisyah setelah melakukan qiyamul lail sampai kedua kakinya bengkak, ‘Mengapa engkau lakukan ini ya Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang kemudian?’. Rasulullah saw menjawab : ‘Bukankah dengan demikian aku menjadi seorang hamba yang sangat bersyukur’.

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw seharusnya menjadi dasar dan pedoman para ahlu baitnya yang hidup saat ini untuk mengikuti jejak datuknya Rasulullah untuk bersyukur terhadap kemuliaan yang Allah swt telah berikan kepada mereka. Dengan kedudukannya yang mulia, ahlu bait hendaklah menjadi para pembawa nasehat yang tulus bagi seluruh umat Islam dan bagi Allah serta Rasul-Nya, baik bagi kalangan ulama muslim ataupun bagi kalangan awam. Jauhkanlah hal-hal yang berbau khilafiyah (perselisihan yang berbahaya) serta waspada, tidak mendukung orang-orang yang selalu memihak hawa nafsunya dan terhadap fitnah yang mereka lontarkan yaitu berupa perkataan-perkataan dusta dan keliru mengenai hak kedudukan sebagian tokoh-tokoh ahlu bait yang suci, yakni pendapat mereka yang berseberangan dengan penjelasan alquran yang mulia dan sunnah Rasul saw serta bertentangan dengan logika, ketetapan agama yang sudah diyakini dan apa yang telah disepakati oleh golongan ahlu sunnah wal jamah sejak masa yang lalu.

Berbahagialah kalian wahai ahlu bait dengan nasab yang mulia ini, dan semoga umat Islam memohon agar Allah swt memberi pertolongan kepada mereka dalam mengemban tanggungjawab ini dan dalam menjalankan kewajiban-kewajiban ini agar mereka menjadi orang-orang yang selalu dicintai Allah swt dan diridhai oleh Rasul-Nya serta menjadi suri tauladan yang baik bagi umat Islam seluruhnya.



[1] Al-Syura : 23.

[2] Yanabi’ al-Mawaddah (2/46)

[3] Yanabi’ al-Mawaddah (2/64)

[4] Yanabi’ al-Mawaddah (2/69)

[5] Yanabi’ al-Mawaddah (2/69)

[6] Is’af al-Raghibin : 120

[7] Al-Fushul al-Ilmiyah : 83

[8] Al-Fushul al-Ilmiyah : 79

[9] Al-Ahzab : 30-31

[10] Al-Ahzab : 21.

2013@abdkadiralhamid

0 komentar:

Post a Comment