October 03, 2012

Kategori:

Asal Usul Wali Songo

Asal Usul Wali Songo

Menurut Al-Habib Salim bin Abdullah Asy-Syathiri, para wali Songo yang menyebarkan dakwah Islamiyah di Indonesia mereka adalah para alawiyin yang datang dari Hadramaut. Mereka merupakan para dzuriyat Rasulullah yang silsilahnya bersambung kepada Al-Imam Ahmad Al-Muhajir. Sisilsilah wali Songo sampai kepada Alwi ‘Am Al-Faqih Al-Muqaddam (paman dari Al-Faqih Al-Muqaddam). Alwi ini memiliki sebelas putra. Dari kesebelas putera inilah yang meregenerasikan para ulama yang bertebaran ke berbagai penjuru dunia. Di antara puteranya itu adalah Abdul Malik yang kemudian berhijrah ke India. Abdul Malik memiliki putera yang bernama Abdullah. Dari Abdullah inilah terlahir Ahmad Jalaludin, yang selanjutnya memiliki keturunan penyebar dakwah Islam di Asia Tenggara terkenal dengan sebutan wali Songo.

Dari rujukan berbagai kitab sejarah yang mu’tabar dapar kita temukan bahwa para wali Songo itu adalah keturunan ba’alawi yang selalu berpegang teguh pada ajaran para leluhurnya, yaitu bermadzhab Syafi’I secara fikih dan secar akhidah mereka menganut teologi Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi, sedangkan manhaj dakwah mereka mengikuti thariqah ba’alawi.

Kemudian Habib Salim bin Abdullah Asy-Syathiri mengingatkan, agar umat Islam mempertahankan akidah yang telah dibawa oleh wali Songo dan tetap berada dalam thariqoh salafisshalih, para generasi terdahulu yang memiliki keimanan yang kuat. Menurut beliau akidah ahlussunnah wal jama’ah adalah ajaran yang sudah mu’tabar dan diakui oleh mayoritas ulama. Semua konsep keilmuan dan akhidah yang menjadi landasan ajaran ini terkodifikasikan dalam banyak literature keislaman. Dan semua literature itu dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Habib Salim Asy-Syathiri kembali menegaskan, bahwa akidah ba’alawi berlandaskan pada ahlussunnah wal jama’ah. Yaitu sebuah ajaran yang tidak pernah mencaci siapapun, apalagi para sahabat Rasulullah.

Menanggapi beberapa golongan bani ‘alawi yang menyimpang, Habib Salim mengibaratkannya seperti organ tubuh yang terkena noda. Apabila ada salah satu noda dibagian tubuh, maka kita tidak perlu mengamputasi atau memotong organ tersebut. Namun cukup dibersihkan dan disucikan, dalam hal ini dengan cara mengajak mereka untuk kembali kepada ajaran para datuknya dari golongan orang-orang shaleh yang berakhidah ahlussunnah wal jama’ah.
          


Menurut Al-Habib Salim bin Abdullah Asy-Syathiri, para wali Songo yang menyebarkan dakwah Islamiyah di Indonesia mereka adalah para alawiyin yang datang dari Hadramaut. Mereka merupakan para dzuriyat Rasulullah yang silsilahnya bersambung kepada Al-Imam Ahmad Al-Muhajir. Sisilsilah wali Songo sampai kepada Alwi ‘Am Al-Faqih Al-Muqaddam (paman dari Al-Faqih Al-Muqaddam). Alwi ini memiliki sebelas putra. Dari kesebelas putera inilah yang meregenerasikan para ulama yang bertebaran ke berbagai penjuru dunia. Di antara puteranya itu adalah Abdul Malik yang kemudian berhijrah ke India. Abdul Malik memiliki putera yang bernama Abdullah. Dari Abdullah inilah terlahir Ahmad Jalaludin, yang selanjutnya memiliki keturunan penyebar dakwah Islam di Asia Tenggara terkenal dengan sebutan wali Songo.
            Dari rujukan berbagai kitab sejarah yang mu’tabar dapar kita temukan bahwa para wali Songo itu adalah keturunan ba’alawi yang selalu berpegang teguh pada ajaran para leluhurnya, yaitu bermadzhab Syafi’I secara fikih dan secar akhidah mereka menganut teologi Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi, sedangkan manhaj dakwah mereka mengikuti thariqah ba’alawi.
              Kemudian Habib Salim bin Abdullah Asy-Syathiri mengingatkan, agar umat Islam mempertahankan akidah yang telah dibawa oleh wali Songo dan tetap berada dalam thariqoh salafisshalih, para generasi terdahulu yang memiliki keimanan yang kuat. Menurut beliau akidah ahlussunnah wal jama’ah adalah ajaran yang sudah mu’tabar dan diakui oleh mayoritas ulama. Semua konsep keilmuan dan akhidah yang menjadi landasan ajaran ini terkodifikasikan dalam banyak literature keislaman. Dan semua literature itu dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Habib Salim Asy-Syathiri kembali menegaskan, bahwa akidah ba’alawi berlandaskan pada ahlussunnah wal jama’ah. Yaitu sebuah ajaran yang tidak pernah mencaci siapapun, apalagi para sahabat Rasulullah.
         Menanggapi beberapa golongan bani ‘alawi yang menyimpang, Habib Salim mengibaratkannya seperti organ tubuh yang terkena noda. Apabila ada salah satu noda dibagian tubuh, maka kita tidak perlu mengamputasi atau memotong organ tersebut. Namun cukup dibersihkan dan disucikan, dalam hal ini dengan cara mengajak mereka untuk kembali kepada ajaran para datuknya dari golongan orang-orang shaleh yang berakhidah ahlussunnah wal jama’ah.


NASAB WALI SONGO

Nasab WALI SONGO
Walisongo adalah keturunan Hadramaut (Yaman):
Hingga saat ini umat Islam di Hadramaut sebagian besar bermadzhab Syafi’i, sama seperti majoriti di Sri Lanka, pesisir India Barat (Gujarat dan Malabar), Malaysia dan Indonesia. Bandingkan dengan umat Islam di Uzbekistan dan seluruh Asia Tengah, Pakistan dan India pedalaman (bukan-pesisir) yang sebagian besar bermadzhab Hanafi.
  • NASAB BA’ALAWI DAN WALI SONGO
    Kesamaan dalam pengamalan madzhab Syafi’i bercorak tasawuf dan mengutamakan Ahlul Bait; seperti mengadakan Maulid, membaca Diba’ie & Barzanji, beragam Shalawat Nabi, doa Nur Nubuwwah dan banyak amalan lainnya hanya terdapat di Hadramaut, Mesir, Gujarat, Malabar, Srilangka, Sulu & Mindanao, Malaysia dan Indonesia.
Kitab fiqh Syafi’i Fathul Muin yang populer di Indonesia dan Malaysia dikarang oleh Zainuddin Al Malabary dari Malabar, isinya memasukkan pendapat-pendapat baik kaum Fuqaha mahupun kaum Sufi. Hal tersebut mengindikasikan kesamaan sumber iaitu Hadramaut, kerana Hadramaut adalah sumber pertama dalam sejarah Islam yang menggabungkan fiqh Syafi’i dengan pengamalan tasawuf dan pengutamaan Ahlul Bait.
Di abad ke-15, raja-raja Jawa yang berkerabat dengan Walisongo seperti Raden Patah dan Pati Unus sama-sama menggunakan gelar Alam Akbar. Gelar tersebut juga merupakan gelar yang sering dikenakan oleh keluarga besar Jamaluddin Akbar di Gujarat pada abad ke-14, yaitu cucu keluarga besar Azhamat Khan (atau Abdullah Khan) bin Abdul Malik bin Alwi, seorang anak dari Muhammad Shahib Mirbath ulama besar Hadramaut abad ke-13. Keluarga besar ini terkenal sebagai mubaligh musafir yang berdakwah jauh hingga pelosok Asia Tenggara, dan mempunyai putra-putra dan cucu-cucu yang banyak menggunakan nama Akbar, seperti Zainal Akbar, Ibrahim Akbar, Ali Akbar, Nuralam Akbar dan banyak lainnya.

0 komentar:

Post a Comment