KEHARAMAN PERNIKAHAN NON SYARIF/NON SAYYID DENGAN SYARIFAH


Oleh : ALFAQIER MUHAMMAD ALKAFF (MDA)

Berhubung sangat banyak pertanyaan baik di inbox atau sms tentang hukum ''SYARIFAH MENIKAH DENGAN NON SAYYID'', maka di sini alfaqier memandang ''PENTING'' akan hal ini untuk menguraikan juga secara langsung di dinding facbook, dan di sini alfaqier akan menguraikan sesuai dengan ''UCAPAN'' salafus soleh dari referensi-referensi kita salafus sholeh yang alfaqier pelajari.. 

Sehingga jika ada ''MANUSIA - MANUSIA'' di facebook ini yang menentang, Alfaqier harap jangan MENENTANG alfaqier, tapi TANTANG SI SALAFUS SHOLEH yang sudah mengeluarkan HAKAM HUKUM HARAMNYA MENIKAH DENGAN SYARIFAH BAGI NON SAYYID, Sehingga akan kelihatan KEGOBLOKAN DAN KEJAHILAN yang menentang, Ibarat ucapan AL-IMAM SYA'RONI : "SUNGGUH KOTORAN-KOTORAN KUKU DARI KUKU-KUKU PARA SALAFUS SHOLEH CUKUP UNTUK MENGIMBANGI AMAL IBADAH SELURUH AHLI ILMU DAN AHLI IBADAH DI ZAMAN INI"..
Di sini alfaqier tidak menulis seperti USTADZ FACEBOOK yang banyak copy paste dari berbagai macam tulisan, sehingga si pengcopy pastepun jadi bingung bin ngelu bin pusing dengan maksud tulisan hasil copiyannya hehehe...Di sini alfaqier akan mengungkap kafa'ah dari dalil-dalil dan ijma' salafus sholeh, sehingga akan menjadi jelas buat ente yang baca semua, dan menjadi pegangan buat ente semua dan menjadi GHIRROH bagi para SYARIFAH.. 

"BAHWA KALIAN WAHAI PARA SYARIFAH BUKAN BARANG MURAHAN DI JALANAN DAN BUKAN WANITA RENDAHAN DAN MUSIMAN" (ALFAQIER) 

إعانة الطالبين – (ج 3 / ص 377)
فصل في الكفاءة أي في بيان خصال الكفاءة المعتبرة في النكاح لدفع العار والضرر . وهي لغة: التساوي والتعادل. واصطلاحا أمر يوجب عدمه عارا. وضابطها مساواة الزوج للزوجة في كمال أو خسة ما عدا السلامة من عيوب النكاح (قوله: وهي) أي الكفاءة. وقوله معتبرة في النكاح لا لصحته: أي غالبا، فلا ينافي أنها قد تعتبر للصحة، كما في التزويج بالاجبار، وعبارة التحفة: وهي معتبرة في النكاح لا لصحته مطلقا بل حيث لا رضا من المرأة وحدها في جب ولا عنة ومع وليها الاقرب فقط فيما عداهما. اه. ومثله في النهاية وقوله بل حيث لا رضا، مقابل قوله لا لصحته مطلقا، فكأنه قيل لا تعتبر للصحة على الاطلاق وإنما تعتبر حيث لا رضا. اه. ع ش. (والحاصل) الكفاءة تعتبر شرط للصحة عند عدم الرضا، وإلا فليست شرطا لها

Jadi intinya ialah Dalam I'anatut tholibin Kafaah

>>Iffah (menjaga kesucian terhadap agama) Orang fasiq (terus menerus berbuat dosa kecil atau pernah berbuat dosa besar) adalah tidak sekufu’ dengan orang yang adil. 

>>Terbebas dari segala aib yang bisa menetapkan hak khiyar, seperti gila, lepra, atau penyakit belang. 

>>Merdeka/budak, Seorang budak tidak sekufu’ dengan orang yang merdeka. 

>>Nasab, Orang ‘ajam tidak sekufu’ dengan orang arab, orang arab yang bukan kaum quraisy (golongan bani Hasyim dan Abdi Manaf) tidak sekufu’ dengan orang quraisy dan selain keturunan dari sayyidatina Fatimah (selain keturunan syd Hasan dan syd Husein) maka tidak sekufu’ kecuali dengan keturunan sayyidatina fatimah juga. 

>>Hirfah (pekerjaan). Orang yang pekerjaannya rendahan seperti yang berkaitan dengan najis (tukang bekam/cantuk, tukang sampah atau tukang jagal) tidak sekufu’ dengan pedagang. Namun sebagian ulama’ tidaklah memandang pekerjaan sebagai salah satu faktor penetapan kafaah. 


Sebagaimana termaktub juga dalam kitab ''FATHUL BARI'' sarah soheh bukhory yaitu : 

ﻓﺘﺢ ﺍﻟﺒﺎﺭﻱ ﺷﺮﺡ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱﺩﺍﺭﺍﻟﺮﻳﺎﻥ ﻟﻠﺘﺮﺍﺙﺳﻨﺔ ﺍﻟﻨﺸﺮ
ﺑﺎﺏ ﺍﻷﻛﻔﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ
. ﻭﺍﻋﺘﺒﺮ ﺍﻟﻜﻔﺎﺀﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺴﺐ ﺍﻟﺠﻤﻬﻮﺭ ، ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮﺣﻨﻴﻔﺔ : ﻗﺮﻳﺶ ﺃﻛﻔﺎﺀ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺑﻌﻀﺎ ، ﻭﺍﻟﻌﺮﺏ ﻛﺬﻟﻚ ، ﻭﻟﻴﺲﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺮﺏ ﻛﻔﺄ ﻟﻘﺮﻳﺶ ﻛﻤﺎ ﻟﻴﺲ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻌﺮﺏﻛﻔﺄ ﻟﻠﻌﺮﺏ ، ﻭﻫﻮ ﻭﺟﻪ ﻟﻠﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ﻭﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﺗﻘﺪﻳﻢ ﺑﻨﻲ ﻫﺎﺷﻢﻭﺍﻟﻤﻄﻠﺐ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮﻫﻢ ، ﻭﻣﻦ ﻋﺪﺍ ﻫـﺆﻻﺀ ﺃﻛﻔﺎﺀ ﺑﻌﻀﻬﻢﻟﺒﻌﺾ ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺜﻮﺭﻱ : ﺇﺫﺍ ﻧﻜﺢ ﺍﻟﻤﻮﻟﻰ ﺍﻟﻌﺮﺑﻴﺔ ﻳﻔﺴﺦ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ،ﻭﺑﻪ ﻗﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ ﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ . ﻭﺗﻮﺳﻂ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻓﻘﺎﻝ : ﻟﻴﺲ ﻧﻜﺎﺡﻏﻴﺮ ﺍﻷﻛﻔﺎﺀ ﺣﺮﺍﻣﺎ ﻓﺄﺭﺩ ﺑﻪ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻫـﻮ ﺗﻘﺼﻴﺮ ﺑﺎﻟﻤﺮﺃﺓﻭﺍﻷﻭﻟﻴﺎﺀ ، ﻓﺈﺫﺍ ﺭﺿﻮﺍ ﺻﺢ ﻭﻳﻜﻮﻥ ﺣﻘﺎ ﻟﻬﻢ ﺗﺮﻛﻮﻩ ، ﻓﻠﻮ ﺭﺿﻮﺍﺇﻻ ﻭﺍﺣﺪﺍ ﻓﻠﻪ ﻓﺴﺨﻪ .

Dan KAFA`AH sebagaimana dalam kitab I'anah 3/330:

وهي لغة: التساوي والتعادل. واصطلاحا أمر يوجب عدمه عارا. وضابطها مساواة الزوج للزوجة في كمال أو خسة ما عدا السلامة من عيوب النكاح

KAFAA`AH menurut bahasa yaitu sama atau seimbang , KAFAA`AH menurut istilah adalah : perkara yang dapat menimbulkan aib (baik dalam rumah tangga dan keturunan/gen) adapun KAFAA`AH secara istilah yaitu: persamaan suami terhadap isteri dalam kesempurnaan atau kerendahan, selain selamat dari 'uyuubinnikaah (aib sebuah pernikahan)
Sumber:Fat-hul Mu'in / Hamisy I'anah 3/330 



Adapun ta'bir Bughyatul Mustarsyidin halaman 210, disana ada dua pendapat. 

Pertama : Sama dengan ta'bir Fat-hul Mu'in / I'anah diatas,ta'birnya sbb:. 


ونحوه في (ي) وزاد: إذ الكفاءة في النسب على أربع درجات: العرب وقريش وبنو هاشم والمطلب، وأولاد فاطمة الزهراء بنو الحسنين الشريفين رضوان الله عليهم، فلا تكافؤ بين درجة وما بعدها، وحينئذ إن زوجها الولي برضاها ورضا من في درجته فلا صح، أوالحاكم فلا وإن رضيت

karena KAFAA`AH dalam nasab di bagi atas empat derajat:
- arab 
- quraisy 
- bani hasyim dan muthalib 
- putera-putera Fathimah az Zahra juga keturunan Hasan dan Husein asysyarifain ridhwaanullah 'alaihim maka tidak ada KAFA`AH lagi antara satu derajat dengan derajat lainnya selain empat pembagian derajat di atas tidak ada KAFA`AH, jika wali menikahkan syarifah tanpa ridha syarifah tsb dan tanpa ridha orang yang sederajat dengan wali (saudara, sanak family dan kerabat jauh yang senasab ) maka tidak sah, atau hakim yang menikahkannya maka tidak sah meskipun syarifah tersebut ridha 

Kedua:Tidak boleh meskipun ada ridha dari syarifah dan walinya ta'birnya sbb: 

مسألة): شريفة علوية خطبها غير شريف فلا أرى جواز النكاح وإن رضيت ورضي وليها، لأن هذا النسب الشريف الصحيح لا يسامى ولا يرام

syarifah alawiyyah dipinang oleh bukan syarif/sayyid maka saya tidak mendapatkan ada yang berpendapat bolehnya nikah meskipun syarifah tersebut dan walinya ridha 


BERKAITAN DENGAN PERNIKAHAN DENGAN SYARIF/SAYYID ‘ALAWIYIN 

Dalil tentang kewajiban menjaga keseimbangan dalam Nasab adalah :
Sabda Rosulillah Pilihlah spermamu... ! Karena sesungguhnya keringat sangat serupa, maka nikahilah dan nikahkanlah orang-orang yg sepadan diantara mereka." 

Rosulillah bersabda kepada Sayyidina Ali : tiga perkara yg harus di segerakan :
1. Shalat, jika tiba waktunya
2. Jenazah, jika ada dihadapannya
3. Perempuan, jika menemukan yg seimbang." (HR.Turmudzi )

Rosulillah bersabda " Turmudzi meriwayatkan sebuah hadits berasal dari Abbas bin Abdul Mutthalib, ketika Rasulullah ditanya tentang kemuliaan silsilah mereka, beliau menjawab:
ان الله خلق الخلق فجعلني في خيرهم من خيرهم قرنا ثم تخير القبائل فجعلني من خير قبيلة ثم تخير البيوت فجعلني من خيربيوتهم فأنا خيرهم نفسا و خيرهم بيتا

 
“Allah menciptakan manusia dan telah menciptakan diriku yang berasal dari jenis kelompok manusia terbaik pada waktu yang terbaik. Kemudian Allah menciptakan kabilah-kabilah terbaik, dan menjadikan diriku dari kabilah yang terbaik. Lalu Allah menciptakan keluarga-keluarga terbaik dan menjadikan diriku dari keluarga yang paling baik. Akulah orang yang terbaik di kalangan mereka, baik dari segi pribadi maupun dari segi silsilah“. 
( HR.Muslim, Turmudzi dan lainnya ) 


Para Ulama' berkata: dalam beberapa hadits ini terdapat petunjuk sesungguhnya orang arab selain golongan quraisy dan bani hasyim mereka tidak seimbang dalam pernikahan. 

Fa-in Qiila: Dzakara al-fuqohaa-u annal-mar'ata idzaa asqothot kafaa-atahaa ma'a waliyyihaa al-aqrabi jaaza nikaahuhaa mimman laa yukaafi-uhaa wa laa i'tiraadho hiyna-idin lil-ab'adi, UJIIBA : bi-anna ghaayata maa dzakarahu ghairul Hanaabilati rukhshotun faqoth wa al-qoo'idatu 'indahum, inna ar-rukhsho laa tunaatho bil-ma'aashiy, fata'ayinu hamlu dzaalik, Idzaa lam yahshol syai-un min al-itsmi wa al-haraji, wa amma tazwiiju syariifatin mimman laa yukaafi-uhaa fii nasabihaa fayanbaghy an laayadkhula fii 'umuumi tilka ar-rukhshoh limaa fiidzaalika min al-iydzaa-i wa al-ihaanati bil-'itrati ath-thoohirati, fa-ayyu ma'ishotin fid-diini mitslu iydzaa-ihim, dst. . .masih kurang ini, tapi kewalahan nulis arab latin dan kalau alfaqier tulisin semuanya akhirnya alfaqier buka majlis di facbook.. 

Jika dikatakan, Ulama Ahli fiqih menuturkan bahwa dalam pernikahan perempuan dan wali dekatnya menyetujui tanpa adanya keseimbangan dalam pernikahan hukumnya boleh, dan wali-walinya yg jauh ketika adanya persetujuan mereka tidak boleh menolak. . 

"Sesungguhnya puncak pembahasan yg dikemukakan para Imam selain Imam Hambali itu sebuah keringanan hukum, sedangkan keringanan hukum menurut Ahli fiqh tidak digantungkan kpd maksiat-maksiat, maka nyatalah keringanan hukum dapat diamalkan jika didalamnya tidak terdapat dosa dan kesalahan, sedangkan mengawinkan Syarifah kepada orang yang tidak sepadan dengan nasabnya tidak termasuk didalam keumuman keringanan tersebut, karna hal itu termasuk menyakiti dan menghina terhadap keturunan yang suci sebagaimana dalil nash alqur'an dan hadits juga ijma' salafus sholeh, lalu maksiat apa dalam agama yang sama seperti menyakiti mereka, karena dalam hal tersebut dapat menyakiti ROSULILLAH dan SAYYIDAH FATIMAH, Dan Sayyidah fatimah adalah bagian dari Rosulillah, dan apa-apa yg ada pada diri orang Tua, juga ada pada diri anak"

(Al-ajwbibatul ghaaliyah hal: 240 tentang Fadho-ilu ahli baiti Rasulillah) 


KESIMPULAN : 

Maka masalah keharaman hukum non syarif/non sayyid menikah syarifah adalah jelas dan hukumnya tidak boleh
" Qoola al-imaamu asy-sya'rooniyyu ; Wa qod taqoddama fii hadzihil-minani anna minal-adabi an laa yatazawwaja ahadunaa syariifatan illaa in 'arafa min nafsihi an yakuuna tahta hukmihaa wa isyaarotihaa wa yuqoddima lahaa na'lahaa wa yaquuma lahaa idzaa waradat 'alaihi wa laa yatazawwaja 'alaihaa wa laa yuqtira 'alaihaa fil ma'iisyati illaa ini-khtaarat dzalika. .dst. .

Pendapat Imam Sya'roni dalam uhud muhammadiyyah bahwa tidak boleh 'Azam (ahwal) dan 'Arob menikahi syarifah kecuali si 'Azam/'Arob telah mematikan hawa nafsunya dan menjadikan dirinya sebagai budak untuk istrinya (syarifah tersebut). 

[syarfulmuabbad lil imam an nabhaniy]

Nuur al -Abshor Fi manaaqibi ali an-nabiyil mukhtaar juz 1 hal 130
Qoola al-imaamu as-suyuuity Rahimahullaahu fii ( Al-hashoisho ) wa min khoshooishi Shallallaahu 'alaihi wasallama: anna awlaada ibnatihi fathimata manshuubuuna ìlaihi wa annahum layukaafihim fin-nikahi akhadun min-naasi, wad-daliilu 'ala dzalika ma akhrajahul-haakimun 'an jaabirin, qoola: qoola Rasulullaahu shollallaahu 'alaihi wasallama : ( Likulli baniy abin 'ushbatun illaa ibni faathimata fa-ana waliyyuhumaa wa ushbatuhumaa ) dst. .

 Berkata Imam Suyuthi Rahimahullah didalam ( kitab Khasha'is ) Termasuk keistimewaan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bahwa sesungguhnya keturunan Sayyidah Fatimah dinisbatkan kepadanya (rosulillah) dan tidak ada seorangpun diantara manusia yg SEPADAN DGN MEREKA DALAM PERNIKAHAN, Dalilnya hadìts yg dikeluarkan Imam Hakim dari Jabir, Dia berkata Rasulullah bersabda: Setiap putra seorang bapak punya bagian kecuali kedua putra fatimah akulah wali dan bagian keduanya"


Jika alfaqier mengutip dalam Kitab Al-ajwibatul ghaaliyah fì 'aqidati al-firqoh an-naajiyah, disitu ada kesimpulannya, karena " Qoola al-ulamaa-u : Wal haashilu. . . Dst. .jika diperkanankan alfaqier tulis Wa qodi-khtaara as-saadatu al-'alawiyyuuna fii tazwiiji banaatihim madzhaba al-imaami ahmada-bni hambalin Radliyallaahu 'anhu wa huwa i'tibaaru ridho jamii'i al-'ushbati al-aqrobi wa al-ab'adi hatta liman yuhditsu mn 'ushbatihaa al-fasakha li-anna al'aara fii tazwiiji ghairil kufuu-i 'alaihim 'ajma'iina, wa 'alaa dzalika 'amalihim haitsu kaanuu hirshon 'alaa showni al-ansaabi al-mushthofawiyyati wahtiraaman lihadzihi al-badh'ati an-nabawiyyati,

Tarjim bebasnya : " Dan sungguh memilih SADATUL 'ALAWIYYIN Didalam mengawinkan putri-putrinya, pendapat imam Ahmad bin hambal, yaitu mempertimbangkan kesepakatan semua keluarga baik dekat maupun yg jauh, sehingga jika ada kerabat jauh yg mengajukan fasakh karena perkawinan yg tidak sepadan merupakan aib bagi mereka semua maka perkawinan tersebut tidak sah walaupun penolakan hanya pada satu orang dzuriyah dari keluarganya, sebab itulah mereka ( SALAFUS SHOLEH ) Mengamalkan pendapat tersebut demi menjaga kemurnian nasab dan menghormati keturunan rosulillah 

Sedangkan hadits Rasulullah yang memberikan dasar pelaksanaan kafa’ah syarifah adalah hadits tentang peristiwa pernikahan Siti Fathimah dengan Ali bin Abi Thalib, sebagaimana kita telah ketahui bahwa mereka berdua adalah manusia suci yang telah dinikahkan Rasulullah saw berdasarkan wahyu Allah swt . Dalam kitab Makarim al-Akhlaq terdapat hadits yang berbunyi: 

إنما انا بشر مثلكم أتزوّج فيكم وأزوّجكم إلا فاطمة فإن تزويجها نزل من السّماء , ونظر رسول الله إلى أولاد علي وجعفر فقال بناتنا لبنينا وبنونا لبناتنا


“Sesungguhnya aku hanya seorang manusia biasa yang kawin dengan kalian dan mengawinkan anak-anakku kepada kalian, kecuali perkawinan anakku Fathimah. Sesungguhnya perkawinan Fathimah adalah perintah yang diturunkan dari langit (telah ditentukan oleh Allah swt). Kemudian Rasulullah memandang kepada anak-anak Ali dan anak-anak Ja’far, dan beliau berkata : Anak-anak perempuan kami hanya menikah dengan anak-anak laki kami, dan anak-anak laki kami hanya menikah dengan anak-anak perempuan kami”. 
 
Menurut hadits di atas dapat kita ketahui bahwa: Anak-anak perempuan kami (syarifah) menikah dengan anak-anak laki kami (sayid/syarif), begitu pula sebaliknya anak-anak laki kami (sayid/syarif) menikah dengan anak-anak perempuan kami (syarifah). Berdasarkan hadits ini jelaslah bahwa pelaksanaan kafa’ah yang dilakukan oleh para keluarga Alawiyin didasari oleh perbuatan rasul, yang dicontohkannya dalam menikahkan anak puterinya Fathimah dengan Ali bin Abi Thalib. 



Di zaman Syekh Umar Muhdhar bin Abdurahman al-Saqqaf, oleh para keluarga Alawiyin beliau diangkat menjadi ‘Naqib al-Alawiyin’ yang salah satu tugas khususnya adalah menjaga agar keluarga Alawiyin menikahkan putrinya dengan lelaki yang sekufu’. Mustahil jika ulama Alawiyin seperti Muhammad bin Ali al-Faqih al-Muqaddam, Syekh Abdurahman al-Saqqaf, Syekh Umar Muhdhar, Syekh Abu Bakar Sakran, Syekh Abdullah Alaydrus, Syekh Ali bin Abi Bakar Sakran dan lainnya, melaksanakan pernikahan yang sekufu’ antara syarifah dengan sayid, padahal mereka bukan saja mengetahui hal-hal yang zhohir tapi juga mengetahui hal-hal bathin yang didapat karena kedekatan mereka dengan Allah swt. 

Hadits-hadits lain yang menjadi dasar pelaksanaan kafa’ah adalah hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani, Al-Hakim dan Rafi’i: 

فإنهم عترتي, خلقوا من طينتي ورزقوا فهمي و علمي, فويل للمكذّبين بفضلهم من أمتي القاطعين منهم صلتي لا أنزلهم الله شفاعتي


“…maka mereka itu keturunanku diciptakan (oleh Allah) dari darah dagingku dan dikaruniai pengertian serta pengetahuannku. Celakalah (neraka wail) bagi orang dari ummatku yang mendustakan keutamaan mereka dan memutuskan hubunganku dari mereka. Kepada mereka itu Allah tidak akan menurunkan syafa’atku.” 

Kepada siapapun yang mempunyai pikiran bahwa PARA SALAFUS SHOLEH yang melaksanakan pernikahan antara syarifah dengan sayid berdasarkan adat semata-mata, dianjurkan untuk beristighfar dan mengkaji kembali mengapa para ulama Alawiyin mewajibkan pernikahan tersebut, hal itu bertujuan agar kemuliaan dan keutamaan mereka sebagai keturunan Rasulullah saw yang telah ditetapkan dalam alquran dan hadits Nabi saw, tetap berada pada diri mereka. Sebaliknya, jika telah terjadi pernikahan antara syarifah dengan lelaki yang bukan sayid, maka ANAK KETURUNAN SELANJUTNYA TIDAKLAH DI SEBUT SAYYID ATAU SYARIFAH, hal itu disebabkan karena anak mengikuti garis ayahnya, akibatnya keutamaan serta kemuliaan yang khusus dikarunia oleh Allah swt untuk ahlul bait dan keturunannya tidak dapat disandang oleh anak cucu keturunan seorang syarifah yang menikah dengan lelaki yang bukan sayid. 


TERAKHIR YANG ALFAQIER SAMPAIKAN ADALAH, JANGAN KITA BERMAIN-MAIN DENGAN KETETAPAN-KETETAPAN ALLAH KARENA DUNIA AKAN KITA TINGGALKAN DI KUBUR SEPANJANG ZAMAN. 

Hadits-hadits lain yang menjadi dasar pelaksanaan kafa’ah adalah hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani, Al-Hakim dan Rafi’i: 

فإنهم عترتي, خلقوا من طينتي ورزقوا فهمي و علمي, فويل للمكذّبين بفضلهم من أمتي القاطعين منهم صلتي لا أنزلهم الله شفاعتي


“…maka mereka itu keturunanku diciptakan (oleh Allah) dari darah dagingku dan dikaruniai pengertian serta pengetahuannku. Celakalah (neraka wail) bagi orang dari ummatku yang mendustakan keutamaan mereka dan memutuskan hubunganku dari mereka. Kepada mereka itu Allah tidak akan menurunkan syafa’atku.”
 
Adapun makna yang terkandung dalam hadits ini adalah dalam hal nasab mustahil akan terjadi pemutusan hubungan keturunan nabi saw kalau tidak dengan terputusnya nasab seorang anak dan tidak akan terputus nasab seorang anak kalau bukan disebabkan perkawinan syarifah dengan lelaki yang tidak menyambung nasabnya kepada nabi saw. Dan jika telah terjadi pemutusan hubungan tersebut, maka menurut hadits di atas Nabi Muhammad tidak akan memberi syafa’atnya kepada orang yang memutuskan hubungan keturunannya kepada Rasulullah melalui perkawinan syarifah dengan lelaki yang bukan sayid. 


abdkadiralhamid@2016

Subscribe to receive free email updates: