ULASAN Al ALIM AL ALLAMAH Al HABIB UMAR BIN MUHAMMAD BIN SALIM BIN HAFIDZ BIN SYEKH ABUBAKAR BIN SALIM TENTANG BUDAYA CACI MAKI

ULASAN Al ALIM AL ALLAMAH Al HABIB UMAR BIN MUHAMMAD BIN SALIM BIN HAFIDZ BIN SYEKH ABUBAKAR BIN SALIM TENTANG BUDAYA CACI MAKI

Di hadapan kita ada tauladan; Rasulullah S.A.W. bersabda, 
"Seorang mukmin tidak melaknat, menuduh dan berkata keji. Aku tidak diutuskan sebagai pelaknat ataupun berteriak-teria­k di pasar."

Mereka (Ahlussunnah Wal Jamaah) bukan pencaci bukan pula pelaknat. Mereka bersama pengikut beliau dari kalangan ulama' tidak ada di antara mereka pelaknat yang suka melaknat orang. Tidak juga pencaci, yang mencaci bahkan terhadap orang awam apalagi terhadap para ulama', terlebih lagi para sabahat dan tabi'in. Mereka ladang penghargaan, dan penghormatan. Akhlak yang baik dan benar tidak ada caci maki sama sekali.

Nabi tidak diutus untuk mencaci dan memaki. Tidak pula seorang wali bertugas untuk mencaci atau memaki. Tidak pula berdiri hakikat ilmu dengan caci maki sama sekali. Tidak sama sekali! Tidaklah berdiri satu mazhab dengan caci maki kecuali mazhab iblis dan mazhab pengikut iblis di setiap waktu dan masa. Merekalah yang selalu mentradisikan (mewarisi) caci maki terhadap manusia, melaknat manusia, memancing emosi dan menanam kebencian di antara umat Islam. Adapun para Nabi, para ulama' dan para wali, mereka menebar kasih, menebar persaudaraan, menebar akhlak, menebar kesucian hati, menebar sikap menghargai, selalu menempati batasan, mengekang hawa nafsu, bersikap sabar, dan menahan amarah. Inilah jalan yang ditempuh para Nabi, para wali, para ulama' dan solihin.

Dipetik dari tausyiah beliau di Majlis Rasulullah Achmad Zein Al-Kaff Al-Bayyinat, Indonesia.
 
abdkadiralhamid@2013

Subscribe to receive free email updates: