//

Tasauf Menurut Prof. Dr. M. Mutawalli asy-Sya’rawi


TASAWUF


Arti Tasawuf dan Perilaku yang Benar dari Seorang Sufi?

Tasawuf yang benar dan sejati ialah hidup di tengah kera­maian pasar, di tengah masyarakat, dan ikut bergelut dengan kancah kehidupan.

Seorang ahli syair berkata,

“Bukanlah suatu zuhud, tasawufnya orang bertakwa yang lari dari kancah kehidupan dunia menyelamatkan agama­nya.”

Tasawuf sebenarnya orang yang dikenal dapat hidup di tengah orang-orang berharta, suasana masyarakat yang rakus, dan segala macam-macam fiitnah.
Seorang yang tidak ikut berlaku kasar dan tidak ikut ber­buat curang padahal dia hidup di tengah-tengah masyarakat seperti itu adalah yang lebih disukai Allah. Orang seperti itu mempunyai harga dan kehormatan diri. Orang yang biasa men­jauhi dan meninggalkan yang dilarang dan yang haram akan lebih mampu menegakkan kehormatan dan kemuliaan ber­ibadah. Tasawuf yang sejati tidak akan meninggalkan kancah kehidupan duniawi. Al-Imam Abul Hasan as-Syazili, seorang sufi terkenal adalah tergolong pedagang yang mahir dan suk­ses.
Pengertian tentang tasawuf sangat luas, antara lain,
  1. Merupakan sifat dan perilaku orang-orang dahulu (salaf). Tasawuf mulai dikenal pada akhir abad kedua hijriah se­bagai sifat dan perilaku orang yang hidup sederhana dan menjauhi kesenangan dan kemewahan hidup duniawi.
  2. Orang yang menggabungkan kepentingan dunia dan akhi­rat sekaligus dalam satu sikap, perilaku, dan pribadi. Me­laksanakan urusan duniawi dengan selalu menjaga diri da­lam jalur perintah dan larangan Allah, mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah Shalallahu alahi wa aalihi wa shahbihi wa salam yang telah banyak dilupakan orang.
  3. Sifat seorang sufi ialah tidak ingin menonjol di masyarakat dan tidak ingin dikenal kesohorannya. Dia selalu mengabdi tidak bermaksud mencari kepentingan pribadi. Semangat­nya tidak melemah meskipun dia tidak memperoleh imbal­an materi yang wajar.
  4. Ahlussalaf (orang-orang dahulu) bekerja hanya untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya saja. Timbulnya bid’ah “hidup menyendiri” disebabkan meluasnya perbuatan-perbuatan haram dan adanya perselisihan pendapat dalam memilih dan mengerjakan yang halal.
Dalam mencari rezeki, ada yang berpendapat bahwa rezeki yang halal ialah memungut sisa panen yang tercecer dan tidak diperlukan lagi oleh pemiliknya. Pendapat lain mengatakan bahwa yang murni halal dan tidak bercampur haram ialah hidup di padang-padang rumput yang bebas yang tidak ada pemiliknya. Pendapat lain mengatakan bahwa dalam mencari rezeki ibarat orang memakan bangkai atau daging babi. Dibolehkan karena hukumnya darurat. Karenanya mengambil sekadar memenuhi kebutuhan darurat saja. Ada pula yang memilih menyepi, menyendiri, menjauhkan diri dari masyara­kat dengan hidup di dalam gua.

Di Maroko terdapat suatu aliran tarekat Sufiyah bernama Addar Qaqiyah cabang dari tarekat Asyaziliah. Salah satu ajar­annya ialah mengharuskan kepada para muridnya melatih diri meninggalkan kesenangan dunia dengan cara mengemis segenggam makanan sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kalau yang diperoleh lebih dari segenggam, dia harus menyerahkan kepada rekan-rekannya. Tindakan ter­sebut sebagai hukuman atas kerakusannya.
Latihan seperti itu hanya sementara bertujuan untuk menghilangkan keangkuhan dan kerakusan hidup duniawi dan nanti setelah terjun ke tengah masyarakat dengan pribadi dan kebiasaan hidup sederhana.

Sekolah dari tarekat sufiyah ini banyak menghasilkan ulama besar dan terkenal yang mempunyai kecintaan islami yang murni. Apakah ada perbedaan perilaku ahlussalaf dengan sufi? Pada prinsipnya tidak ada. Perbedaan yang ada yaitu bahwa sufi (tasawuf) menempuh jalan tertentu yaitu disebut tarekat-tarekat dengan organisasi yang dipimpin oleh Syekh-syekh. Syekh bisa mewariskan kepada anak-anaknya. Apakah bisa diterima oleh akal misalnya syekh mewariskan kepada anaknya yang belum baligh?

Ahlussalaf atau Salafiyah berpegang teguh pada ajaran masa Nabi Muhammad dengan bersifat wara yaitu menjauhi apa yang syubhat, khawatir masuk dalam perangkap yang haram. Mereka menggabungkan sifat wara dengan peningkat­an ilmu pengetahuan dan melengkapi ibadah dengan meng­amalkan yang sunnah-sunnah sepenuhnya.


Sumber: Anda Bertanya Islam Menjawab Karya Prof. Dr. M. Mutawalli asy-Sya’rawi

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tasauf Menurut Prof. Dr. M. Mutawalli asy-Sya’rawi"

Post a Comment

Silahkan komentar yg positip