Amal Pemusnah Kebaikan, Bagian 3





Dusta yang Samar
Diriwayatkan dari sebagian ulama salaf bahwa dusta yang samar cukup untuk menghindarkan diri dari berdusta. Yang mereka maksud adalah dalam keadaan terdesak. jika tidak terdapat keperluan untuk berdusta. maka berdusta secara samar ataupun secara terang-terangan tidak diperbolehkan. Akan tetapi, berdusta secara samar lebih ringan hukumnya.
Ketika Ibrahim An-Nakhai dicari orang yang tidak disukainya, padahal ia berada di rumah, maka ia berkata kepada budak wanitanya; “Katakan kepadanya. ‘Silakan cari dia di masjid!’ dan jangan engkau katakan. ‘Ia tidak ada di rumah!’ agar tidak dusta!” Hal demikian adalah saat diperlukan.Adapun saat tidak ada keperluan maka tidak diperkenankan untuk berkata demikian.
Diriwayatkan oleh Abdullah ibn llthah bahwa ia berkata. “Aku pernah bersama ayahku menghadap Umar ibn Abdul Aziz. Lalu aku keluar dengan pakaian tertentu, lantas ada orang bertanya, ‘Apakah pakaian ini dari Amirul Mukminin?’ Aku menjawab, ‘Mudah-mudahan Allah membalas Amirul Mukminin dengan kebaikan!’Ayahku kemudian berkata. ‘Wahai anakku. Hindarilah dusta dan apa yang serupa dengannya.'”

Ayahnya melarang melakukan semi dusta seperti itu. karena dengan tujuan membanggakan diri. Dan ini merupakan tujuan yang batil.
Perkataan semi dusta itu diperbolehkan untuk tujuan yang ringan. sehagaimana sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam., “Suami kamu yang dimatanya ada sesuatu yang putih.” Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam berkata pada wanita lainnya, “Kami akan membawa engkau di atas anak unta.”

Termasuk dusta yang biasa dilakukan dan dianggap remeh adalah orang yang dipersilahkan makan, lalu orang itu berkata. “Aku tidak berselera makan !”
Asma binti Yazid berkata, “Pada suatu malam aku bersama beberapa wanita menemui Aisyah saat ia pertama kali akan disandingkan dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam Aku tidak mendapatkan suguhan selain semangkok susu, lalu beliau minum dan memberikannya kepada Aisyah, tetapi rupanya Aisyah merasa malu. Aku berkata kepada Aisyah, ‘jangan engkau tolak apa yang diberikan Rasulullah dengan tangannya,’ Dengan agak malu, Aisyah mengambil dan meminumnya. Kemudian Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam berkata. “Berikanlah kepada teman-temanmu!’ Para wanita itu menjawab, ‘Kami tidak menginginkannya!’ Rasulullah lantas berkata. ‘jangan kalian menggabungkan lapar dan dusta!'”

Dalam riwayat Imam Ahmad ada tambahan redaksi. aku bertanya. “Ya Rasulullah, jika salah seorang di antara kami menyukai sesuatu, tetapi ia berkata tidak menyukainya, apakah perkataan itu termasuk dusta?” Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam lalu bersabda, “Sesungguhnya dusta itu ditulis sebagai dusta dan dusta kecil pun ditulis sebagai dusta kecil.”
Al-Laits ibn Sa’ad berkata,”Ketika kedua mata Sa’id ibn Al-Musayyib sakit, kotoran keluar dari matanya, ada orang yang berkata kepadanya, ‘Bagaimana jika kedua matamu itu engkau usap?’ Sa’id menjawab, ‘Bagaimana aku akan berkata kepada dokter. padahal ia berpesan kepadaku. ‘jangan kau usap kedua matamu!’ Kemudian nanti aku berkata. ‘Aku tidak melakukan hal itu.” Ucapan seperti ini merupakan kehati-hatian orang yang wara’.

Berdusta saat menceritakan mimpi termasuk dosa besar, sebagaimana sabda Rasulullah; “Di antara dusta yang besar adalah apabila seseorang mengaku keturunan dari orang yang bukan ayahnya. atau mengaku melihat sesuatu dalam mimpi padahal ia tidak melihatnya, atau ia mengatakan atas namaku tentang sesuatu yang tidak pernah aku katakan.”

Di dalam riwayat lain. “Di antara dusta yang paling besar adalah mengaku bermimpi sesuatu yang tidak ia mimpikan.”
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda: “Barangsiapa berdusta tentang suatu mimpi, maka pada Hari Kiamat ia akan dipaksa mengikat rambut”


Penyakit Kelimabelas: Menggunjing
Allah berfirman: “Janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian merasa jijik! (QS Al-Hujurat |49|: 12)
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda; “Setiap orang Muslim terhadap orang muslim lainnya itu haram darahnya. hartanya dan kehormatannya.”
Yang termasuk ghibah adalah melecehkan kehormatan orang lain. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda; “Pada malam saat aku diperjalankan di waktu malam (Isra Mi’raj), aku bertemu beberapa orang yang mencakar mukanya dengan kukunya, kemudian aku bertanya, ‘Hai Jibril, siapakah mereka itu?“Jibril menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang menggunjing manusia dan melecehkan kehormatan orang lain”
Al-Barra ibn Azib berkata bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam berkhutbah kepada kami sampai didengar oleh gadis-gadis yang ada di rumah mereka. Beliau bersabda; “Hai orang-orang yang beriman dengan lisannya dan tidak dengan hatinya. jangan menggunjing kaum muslimin dan jangan mengintai aib mereka. Barangsiapa mengintai aib saudaranya, niscaya Allah akan mengintai aibnya. Barangsiapa aibnya dicintai oleh Allah, niscaya Allah membuka aibnya di dalam rumahnya (mempermalukannya)’
Ketika Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam melakukan hukum rajam kepada Maiz ibn Malik Al-Aslami karena zina. Lalu ada orang yang berkata kepada temannya, “Orang ini mati di tempatnya sebagaimana anjing mati di tempatnya.” Tatkala Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersama kedua orang itu melewati sebuah bangkai, lalu beliau berkata, “Gigitlah bangkai ini.” Kedua orang itu lantas berkata, “Ya Rasulullah, kami harus menggigit bangkai?!” Beliau lalu berkata, “Dosa yang menimpa kalian karena menggunjing saudara kalian itu lebih busuk daripada bangkai ini.”
Diriwayatkan bahwa Allah mewahyukan kepada Musa a.s., “Barangsiapa yang meninggal dunia sesudah taubat dari menggunjing (ghibah) maka ia akan menjadi orang yang terakhir masuk surga. Dan Barangsiapa yang meninggal dunia belum bertaubat dari dosa ghibah maka ia akan menjadi orang yang pertama kali masuk neraka.”
Hasan Hash berkata, “Demi Allah, menggunjing itu lebih cepat pengaruh negatifnya bagi agama seorang mukmin daripada pengaruh penyakit yang menggerogoti badannya.
Sebagian ahli hikmah berkata, “Kami bertemu orang-orang salaf dan mereka tidak menganggap ibadah itu hanya dalam puasa dan shalat. tetapi ibadah itu adalah menahan diri dari melecehkan kehormatan orang lain.”
Ibnu Abbas r.a. berkata, “Jika engkau ingin menyebut kejelekan temanmu, maka sebutlah kejelekanmu lebih dahulu.”

Definisi Menggunjing (Ghibah)
Menggunjing adalah engkau membicarakan orang lain berkenaan dengan sesuatu yang jika ia mendengar. maka ia tidak merasa senang. Baik kekurangan fisik. keturunan, akhlak, ucapan, urusan agamanya. dunia. bahkan pakaian. rumah dan kendaraannya.
Sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam., “‘Apakah kalian mengetahui apa menggunjing itu?’ Para sahabat menjawab. ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui!’ Rasulullah berkata, “Kalian menyebut kekurangan orang lain tanpa sepengetahuannya.” Para sahabat lantas bertanya, ‘Bagaimana jika apa yang kami katakan itu benar adanya?’ Rasulullah menjawab, “Jika apa yang kalian katakan itu benar adanya. maka kalian telah menggunjingnya; bila apa yang kalian katakana tidak benar adanya, maka kalian telah berdusta.”
Menggunjing sebagaimana bisa dilakukan dengan ucapan juga bisa dilakukan dengan isyarat, sindiran, cemoohan, tulisan, gerakan, dan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menggunjing. Semua ini diharamkan karena termasuk menggunjing.
Termasuk menggunjing adalah ucapan, “Sebagian orang yang lewat di sini pada hari ini,” atau “Sebagian orang yang telah kami lihat”, dan dengan satu ketentuan: jika orang yang diajak bicara itu mengerti bahwa yang dimaksudkan adalah orang tertentu. Apabila yang diajak bicara tidak paham, maka tidak termasuk gunjingan.
Gunjingan yang paling keji adalah gunjingan yang dilakukan oleh ulama yang riya (suka pamer). Mereka berperilaku seperti perilaku ahli kebaikan agar tampak bahwa dirinya terjaga dari menggunjing. Tetapi mereka menggunjing dengan sindiran.
Seperti ucapannya tentang seseorang, “Segala puji bagi Allah yang tidak menguji kami masuk ke tempat penguasa yang tidak malu meminta harta dunia.” Atau ia berkata, “Kami berlindung kepada Allah dari sifat tidak punya rasa malu, dan kami memohon kepada Allah agar kami dijaga dari sifat tidak punya malu.” Dengan tujuan untuk membuka aib orang lain.
Atau dengan ucapan, “Bagus benar perbuatan si Fulan. la rajin beribadah, tetapi sekarang ia ditimpa kemalasan. Sekarang ia diuji dengan cobaan yang pernah diujikan kepada kita semua, yaitu kurang sabar terhadap larangan agama.”
Dengan berbuat demikian, ia telah menggunjing, riya’ dan menganggap dirinya bersih. Seakan-akan ia mencontoh orang saleh dengan mencela dirinya sendiri.
Termasuk gunjingan adalah menyebut kekurangan orang lain di depan umum yang tidak diperhatikan oleh orang banyak. Kemudian ia berkata, “Mahasuci Allah, alangkah mengagumkan orang ini!” sehingga orang-orang yang mendengar jadi mengerti akan maksud dari ucapannya itu. Atau ucapan seseorang ‘aku bersedih terhadap apa yang dialami oleh sahabat kita’ dengan tujuan untuk meremehkannya dan menyembunyikan kehohongannya. jika ia jujur dan tulus maka niscaya ia akan berdoa saat berada dalam kesendirian atau selepas shalat.
Termasuk dalam kategori menggunjing adalah mendengarkan gunjingan dengan semangat agar orang yang menggunjing tambah semangat dalam menggunjing. Itu adalah ungkapan yang membenarkan orang yang menggunjmg. Bahkan, diam di hadapan orang yang menggunjing sama dengan menggunjing,
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda; “Barang siapa tidak menolong orang muslim lain yang dihina, padahal ia mampu menolongnya, niscaya Allah akan menghinakannya di hadapan orang banyak pada Hahi Kiamat.”
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salambersabda; “Barangsiapa membela kehormatan saudaranya yang sedang tidak ada di tempat, niscaya Allah membela kehormatannya pada Hari Kiamat”
Dalam riwayat Imam Thabrai. “Maka Allah akan palingkan wajahnya dan api neraka pada Hari Kiamat.”

Faktor-faktor yang Mendorong Orang Menggunjing
Semua dapat diringkas menjadi sebelas faktor : delapan berlaku pada orang awam, tiga khusus bagi orang-orang ahli agama dan orang-orang khusus.
Adapun yang delapan adalah:
  1. Melampiaskan emosi jika sedang memuncak marahnya
Bila ia tidak melampiaskan kemarahannya. maka kemarahan itu tertahan di dalam hatinya. Kemudian berubah menjadi kedengkian yang mendorong untuk menyebutkan keielekkan-kejelekkan. Maka, kedengkian dan kemarahan termasuk pembangkit yang besar untuk menggunjing.
  1. Mengimbangi teman-teman dan bersikap pura-pura terhadap mereka Jika ia mdihat teman-temannya ynng sedang menggunjing sambil bergurau, Ia tidak akan berani mengingkan Karena mereka akan membencinya. Maka ia pun jkut terlibat dalam menggunjing. Dan ia berpikir bahwa sikap seperti itu merupakan sikap yang balk dalam bergaul.
  2. Khawatir dijadikan objek gunjingan
Orang yang merasa dirinya akan dijadikan objek gunjingan oleh orang lain, akan segera mendahului menggunjing orang itu agar gunjingan orang itu akan dirinya akan dianggap tidak benar oleh orang yang mendengarnya atau ia akan memulai dengan menceritakan cerita yang benar, kemudian ia berdusta agar ia bisa menutupi kebohongannya dengan kebenaran cerita yang pertama.
  1. Membebaskan diri dari tuduhan
Seseorang yang merasa ditudub berbuat suatu keburukan. ia akan membela diri dengan cara menggunjing orang yang menuduhnya. [a memang punya hak untuk membela dirJ, tetapi seharusnya tidak perlu menyebut nama orang yang menuduhnya atau menyebut keterlibztan orang lain untuk membuat alasan bagi dirinya.
  1. Berpura- pura dan memhanggakan diri
Dengan cara mengangkat dirinya sendin dan merendahkan orang la in, Dia akan mengatakan, “Si Fulan itu pemahamannya lemah dan ucapannya sulit dipahamf dengan tujuan untuk menunjukkan kelebihan dirinya. Atau ada kekhawatiran jika orang itu dimubakan oleh mdsyarakat, sebagai ma na orang-orang memuliakan dirinya.
  1. Kedengkian (Hasad)
Jika ia melihat dan mengetahui seseorang yang dipuji, dicintai dan dimuliakan oleh masyarakat maka ia akan mencari jalan untuk menghilangkan nikmat itu dari orang tersebut dengan cara mencelanya. Dan inilah hakikat kedengkian
  1. Gurauan dan Candaan
Bercanda dengan menyebut carat dan aib orang lam dengan cara yang dapat membuat manusia tertawa, penyebabnya adalah sikap sombong dan membanggakan diri.
  1. Mengejek dan Menghina Orang Lain
Adapun ketiga faktor yang mendorong orang khusus untuk menggunjing sebagai berikut:
a. Memperlihatkan nada keheranan dalam mengingkari kemungkaran.
Seraya ia berkata, “Aku heran sekali terhadap apa yang aku lihat dan si Fulan” Terkadang. ucapannya itu benar dan keheranannya timbul karena melihat kemungkaran. Akan tetapi, sepatutnya ia tidak menyebut namanya karena dengan menyebut namanya setan akan menjerumuskannya pada perkara ghibah dan menyebabkannya berdosa.
b. Ungkapan kasih sayang
Seperti ucapan seseorang, “Kasihan si Fulan itu, aku bersedih hati dengan keadaan dan cobaan yang menimpanya”. Perasaan sedih dan kasih sayangnya memang benar, tetapi ia lalai dengan menyebut namanya. maka ia telah melakukan ghibah dan terseret oleh bisikan setan pada kejahatan yang tidak ia sadarl, Sebab menunjukkan rasa belas kasih dan bersedih hati tetap bisa dilakukan tanpa harus menyebut nama orang yang dikasihani.
c. Marah karena Allah Swt. atas kemungkaran yang dilakukan oleh seseorang lalu ia pun memperlihatkan kemarahannya dengan menyebut nama orang tersebut. Padahal kewajibannya hanyalah melakukan amar ma’ruf nahi mungkar tanpa harus memperlihatkannya kepada orang lain, atau dengan menyembunyikan identitasnya dan tidak menghinakannya.
Ketiga sebab terjadinya gunjingan ini termasuk perkara yang sulit diketahui oleh para ulama, lebih-lebih oleh orang awam.
Diriwayatkan dan Amir ibn Watsilah bahwa ada seseorang yang melewatt suatu kaum dan mengucapkan salam kepada mereka. Lalu mereka menjawab salamnya. Setelah orang itu berlaiu, tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Sesungguhnya aku memhenci orang itu karena Allah.” Lalu orang yang berada di sampingnya berkata, “Sungguh jelek apa yang kau katakan, kami akan memberitahukan kepadanya ucapanmu Itu, wahai Fulan! berdirilah lalu temuilah orang yang baru lewat itu dan beritahu kepadanya tentang apa yang diueapkan orang ini kepadanya.”
Lantas utusan itu datang kepada Rasulullah dan menceritakan apa yang di katakan oleh temannya. Rasulullah pun memanggil orang tersebut dan ia berkata, Benar, aku telah berkata demikian,” Rasulullah bertanya, “Mengapa engkau membencinya?’ Orang itu menjawab, “Aku adalah tetangganya, demi Allah aku tidak pernah melihat ia shalat kecuali shalat Fardhu.” Orang itu berkata, “Ya Rasulullah tanyakanlah kepadanya apakah aku pernah mengakhirkan shalat dari waktunya atau apakah wudlu, ruku’ dan sujudku tidak betul?” Lalu Rasulullah menanyakan kepadanya dan orang itu menjawab ‘tidak’
Orang itu berkata lagi, “Demi Allah aku tidak pernah melihatnya berpuasa pada suatu bulan kecuali pada bulan Ramadhan yang dilakukan oleh orang baik dan orang jahat, Orang itu berkata, “Ya Rasulullah tanyakan kepadanya, apakah ia pernah melihat aku berbuka pada bulan Ramadhan atau aku mengurangi haknya?” Maka Rasulullah menanyakan kepadanya, dan orang itu menjawab ‘tidak Orang Itu berkata lagi. “Aku fidak pernah melihatnya memberi kepada orang yang meminta dan kepada orang miskin dan aku tidak pernah melihatnya mendermakan sedikitpun hartanya di jalan Allah kecuali zakat” Orang itu menjawab, Ya Rasulullah tanyakanlah kepadanya apakah ia pernah melihat aku mengurangi sedikitpun dari zakat atau aku tidak memberi kepada yang berhak menerimanya?” Rasulullah pun menanyakan kepadanya dan orang itu menjawab ‘tidak’ Kemudian Rasulullah berkata kepada orang yang membenci itu, “Berdirilah, mungkin ia lebih baik daripada dirimu!”

 
 
Sumber: Amal Pemusnah Kebaikan Ringkasan Bab Mukhlikat Ihya ‘Ulum al-Din karya Al Habib Umar bin Hafidz


Subscribe to receive free email updates: