SEKILAS SEJARAH MASUKNYA SEBAHAGIAN ALAWIYYIN DI TANAH MELAYU DAN KEPULAUAN BORNEO

SEKILAS SEJARAH MASUKNYA SEBAHAGIAN ALAWIYYIN DI TANAH MELAYU DAN KEPULAUAN BORNEO 
(Siri 1)

foto: komunitas Alawiyyin dan masyarakat arab Hadramaut, Yaman Selatan atau dipanggil 'Hadharim' di Nusantara abad lalu


Dr Hamka menyebutkan:

"Gelar syarif khusus digunakan bagi keturunan Sayidina Hasan dan Sayidina Husein apabila menjadi raja. Sultan-sultan Indonesia yang keturunan Rasulullah saw seperti sultan-sultan Siak, Pontianak, dan lain-lain digelari dengan gelar syarif. Sultan Siak terakhir secara resmi digelari Sultan Sayid Syarif Qasim II bin Sayid Syarif Hasyim Abdul-Jalil Saifuddin. Demikian juga pendiri kota Jakarta yang terkenal dengan panggilan Sunan Gunun Jati, ia digelari Syarif Hidayatullah. Orang-orang Arab sejak masa kesultanan Aceh sampai sekarang meletakkan gelar sayid sebelum menyebutkan namanya.

"Berdasarkan hadis Rasulullah saw, 'Sesungguhnya anakku ini adalah pemimpin (sayyid) pemuda ahli surga.' Maka menjadi tradisi turun temurun bahwa setiap keturunan Sayidina Husein di dunia islam digelari Sayid. Dipandang kurang hormat kepada Nabi kalau ada yang mengatakan bahwa Rasulullah saw tidak memiliki keturunan atau mengatakan bahwa orang yang mengaku keturunan beliau adalah seorang yang berbohong. Tidak akan mengatakan perkataan seperti ini kecuali orang yang kasar perasaannya. Ketika Amr bin Ash dan Hakam bin Ash mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang yang putus keturunannya turun surah al-Kautsar. Yang benar-benar putus keturunannya adalah mereka karena anak-anaknya yang banyak tidak satupun meninggalkan keturunan. (Rujuk tafsir Imam Fakrur Razi)

Hamka juga mengatakan, "Kaum Alawiyyin di seluruh pelosok dunia, memelihara, nasab-nasab, mereka. Di Irak mereka memiliki Naqib, di Mesir mereka memiliki sayyidus-sadat sampai sat ini di Mesir adalah lembaga Niqabatil Asyrof yang bertugas memelihara nasab. Di Maroko, rajanya sendiri yang menjaga nasabnya, karena ia juga termasuk dari mereka. Tidaklah mudah seseorang mengaku keturunan Hasan ataupun Husein, karena jika ia ditanya tentang kebenaran pengakuannya dia harus menyebutkan nama-nama ayahnya, kakeknya dan keluarganya (marganya). Lalu Naqib akan memeriksa, pengakuannya dalam syajarah (pohon) nasab dan buku buku nasab yang telah diwarisi ratusan tahun dari satu generasi ke generasi berikutnya sampai kini tetap terpelihara kerapian dan kemurniannya.Satu hal yang tak akan dimiliki oleh keluarga lain kecuali keluarga KETURUNAN MUHAMMAD SAW.

Kemudian Hamka menyebutkan tokoh-tokoh Islam yang terkenal pada masa, sekarang yang dikenal dengan gelar ini, dan juga, sultan-sultan Yordania, Maroko, dan Perlis. Ia mengatakan:
"Saya menyebutkan ini agak panjang agar jangan ada orang yang ingin mengacaukan nasab orang lain kerana dorongan nafsunya. Saya sendiri tidak hafal nama datuk-datuk saya kecuali sampai datuk yang keenam, saja. Walaupun demikian saya bangga dengan hal ini dan saya akan marah pada orang yang mencoba mengingkarinya. Jadi bagaimana dengan orang yang mengenal sampai 30 atau 40 datuknya ke atas? Apalagi jika pengingkaran itu ditujukan pada keturunan Sayidatuna Fatimah puteri Rasulullah saw."
Mengenai madzhab, Hamka mengatakan, "Tidak layak untuk tidak mengetahui bahwa, Hadhramaut berpegang teguh pada mazhab Syafi'i. Bahkan, yang mengokohkan mazhab ini di Indonesia, khususnya di Jawa, adalah para ulama Hadhramaut."
 
Tidaklah mudah menyebutkan semua orang dari keturunan ini di sini. Itu terdapat para syajarah-syajarah yang berada pada naqib-naqib dan pada orang-orang yang mengkhususkan diri dalam bidang ilmu nasab. Di sini kami hanya menyebutkan sebagian saja secara sepintas.


-entry mendatang: Keluarga 'Al-Aidrus' di Terengganu-




abdkadiralhamid@2016

Subscribe to receive free email updates: