Renungan Nasab

  Renungan Nasab

Kewajiban menjaga kemurnian NASAB Keturunan Rasulullah saw sudah sgt JELAS. Menjaga "kemurniannya" ada ATURAN & PROSEDURNYA yg wajib DIHORMATI, tidak secara serampangan dlm menentukan METODE, SIAPA & BAGAIMANA Nasab itu di sahkan........itulah kenapa ada ILMU NASAB....Nasab bukan utk DIBANGGAKAN dan bukan pula untuk mendiskreditkan golongan tertentu atau membuka AIB seseorang, apalagi sebagai JURANG PEMISAH antar umat tapi sebagai PEMERSATU, pemberi SPIRIT, dan sumber kekuatan.

Nasab akan kacau jika yang berbicara bukan pada tempatnya dan pada yang tidak ngerti akan Nasab. Seyogyanya kita menghargai Nasab ini dan tidak menjadikan OBJEK MAINAN retorika orang2.... serahkan pada yg berwewenang, bukan malah mengambil keputusan sendiri atau malah membuat lembaga nasab sendiri...Berbicara Nasab jika SALAH akan FATAL akibatnya yg akan membuat Rasulullah murka....Semoga kita bs lebih menjaga LIDAH kita.....!!!

Pengakuan seseorang bahwa dirinya termasuk keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa ada bukti yang jelas merupakan salah satu dosa besar. 

Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahulah dalam Fadhlu Ahli al-Bait hlm. 82-83 mengatakan,


أشرفُ الأنساب نسَبُ نبيِّنا محمد صلى الله عليه وسلم، وأشرف انتسابٍ ما كان إليه صلى الله عليه وسلم وإلى أهل بيتِه إذا كان الانتسابُ صحيحاً، وقد كثُرَ في العرب والعجم الانتماءُ إلى هذا النَّسب، فمَن كان من أهل هذا البيت وهو مؤمنٌ، فقد جمَع الله له بين شرف الإيمان وشرف النَّسب، ومَن ادَّعى هذا النَّسبَ الشريف وهو ليس من أهله فقد ارتكب أمراً محرَّماً، وهو متشبِّعٌ بِما لَم يُعط،
وقد قال النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: ((المتشبِّعُ بِما لَم يُعْطَ كلابس ثوبَي زور))، رواه مسلمٌ في صحيحه (2129) من حديث عائشة رضي الله عنها.
وقد جاء في الأحاديث الصحيحة تحريمُ انتساب المرء إلى غير نسبِه، ومِمَّا ورد في ذلك حديثُ أبي ذر رضي الله عنه أنَّه سَمع النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يقول: ((ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار))، رواه البخاريُّ (3508)، ومسلم (112)، واللفظ للبخاري.
 

“Nasab termulia adalah nasab Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan penisbatan termulia adalah penisbatan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada ahli bait beliau, jika penisbatan tersebut benar adanya. Telah banyak terjadi di negeri Arab dan selainnya, penisbatan kepada nasab yang mulia ini. Barangsiapa yang memang termasuk ahli bait dan dia mukmin, maka sungguh Allah telah mengumpulkan baginya antara kemuliaan iman dan kemuliaan nasab. Namun, barangsiapa yang mengklaim nasab yang mulia ini sedangkan dirinya bukanlah bagian darinya, maka sungguh dia telah melakukan tindakan yang haram dan termasuk orang yang berperilaku dusta terhadap sesuatu yang tidak dimiliki.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang (berpura-pura) berpenampilan dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya bagaikan orang yang memakai dua pakaian palsu (kedustaan)”

 
Kita hanya dianjurkan utk saling mengingatkan, adapun jika masih ada yg bersikeras, kita telah berlepas diri....Silahkan yg mau ngaku2 pake marga apapun, dizaman nabi saja....ada yg berani ngaku nabi, apalagi zaman sekarang.........

2014@abdkadiralhamid 

Subscribe to receive free email updates: