//

AL WALID AL HABIB ABDURRAHMAN BIN AHMAD ASSEGAF, CITAYAM BOGOR

AL WALID AL HABIB ABDURRAHMAN BIN AHMAD ASSEGAF

Majelis Albusyro - Citayam :





“Pada hari kewafatan beliau, tidak hanya putra-putrinya yang merasa dirinya sebagai seorang yatim. Tapi semua anak didik dan para muhibbin beliau juga dilanda perasaan yang sama”



Nasab Beliau  :
Habib Abdurrahman bin Ahmad bin Abdul Qadir bin Ali bin Umar bin Segaf bin Muhammad bin Umar bin Thoha bin Umar bin Thoha bin Umar ash-Shofi bin Abdurrahman bin Muhammad bin Ali bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman As-segaf bin Syekh Muhammad Maula Ad-Dawilayh bin Syekh Ali Shohibud Dark bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam muhammad bin Sayyidina Ali bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib Marbat bin Sayyidina Al-Imam Kholi Qosam bin Sayyidina Alwi bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib As-Shouma’ah bin Sayyidina Al-Imam Alwi Shohib Saml bin Sayyidina Al-Imam Ubaidillah Shohibul Aradh bin Sayyidina Al-Imam Muhajir Ahmad bin Sayyidina Al-Imam Isa Ar-Rumi bin Sayyidina Al- ImamMuhammad An-Naqib bin Sayyidina Al-Imam Ali Al-Uraydhi bin Sayyidina Al-Imam Ja’far As-Shodiq bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Al-Imam As-Syahid Syababul Jannah Sayyidina Al-Husein Rodiyallahu ‘Anhum


Habib Abdurrahman lahir tahun 1908 di Cimanggu, Bogor. Beliau adalah putra Habib Ahmad bin AbdulQadir Assegaf. Ayahandanya sudah wafat ketika beliau masih kecil, tapi kondisi itu tidak menjadi halangan baginya untuk giat belajar.
Pernah mengenyam pendidikan di Jami’at Al-Khair, Jakarta, masa kecilnya sangat memperihatinkan, sebagaimana diceritakan anaknya,Habib Ali bin Abdurrahman “Walid itu orang yang tidak mampu. Bahkan beliau pernah berkata, “Barangkali dari seluruh anak yatim, yang termiskin adalah saya. Waktu lebaran, anak-anak mengenakan sandal atau sepatu, tapi saya tidak punya sandal apalagi sepatu”. Tidurnya pun di bangku sekolah. Tapi, kesulitan seperti itu tidak menyurutkannya untuk giat belajar.”
Ketika masih belajar di Jami’at Al-Khair, prestasinya sangat cemerlang. Beliau selalu menempati peringkat pertama. Nilainya bagus, akhlaqnya menjadi teladan teman-temannya. Untuk menuntut ilmu kepada seorang ulama, beliau tak segan-segan melakukannya dengan bersusah payah menempuh perjalanan puluhan kilometer. “Walid itu kalau berburu ilmu sangat keras. Beliau sanggup berjalan berkilo-kilo meter untuk belajar ke Habib Abdullah bin Muhsin Al-Aththas (Habib Empang Bogor).”
Selain Habib Empang, guru-guru Habib Abdurrahman yang lain adalah Habib Alwi bin Thohir Al-Haddad ( Mufti Johor, Malaysia ), Habib Alwi bin Muhammad bin Thohir AlHaddad, Habib Ali bin Husein Al-Aththas ( Bungur, Jakarta ), Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi ( Kwitang, Jakarta ), K.H.Mahmud ( Ulama besar Betawi ) dan Prof.Abdullah bin Nuh ( Bogor ).
Semasa menunutut ilmu, Habib Abdurrahman sangat tekun dan rajin, itulah sebabnya beliau mampu menyerap ilmu yang diajarkan guru-gurunya. Ketekunannya yang luar biasa mengantarnya menguasai semua bidang ilmu agama. Kemampuan berbahasa yang baguspun mengantarnya menjadi penulis dan orator yang handal. Beliau tidak hanya sangat menguasai bahasa Arab, tapi juga bahasa Sunda dan Jawa halus.
Habib Abdurrahman tidak sekadar disayang oleh para gurunya, tapi lebih dari itu, beliau pun murid kebanggaan. Beliaulah satu-satunya murid yang sangat menguasai tata bahasa Arab, ilmu alat yang memang seharusnya digunakan untuk memahami kitab-kitab klasik yang lazim disebut “kitab kuning”. Para gurunya menganjurkan murid-murid yang lain mengacu pada pemahaman Habib Abdurrahman yang sangat tepat berdasarkan pemahaman dari segi tata bahasa.
Setelah menginjak usia dewasa, Habib Abdurrahman dipercaya sebagai guru di madrasahnya. Disinilah bakat dan keinginannya untuk mengajar semakin menyala. Beliau menghabiskan waktunya untuk mengajar. Dan hebatnya, Habib Abdurrahman ternyata tidak hanya piawai dalam ilmu-ilmu agama, tapi bahkan juga pernah mengajar atau lebih tepatnya melatih bidang-bidang yang lain, seperti melatih kelompok musik ( dari seruling sampai terompet ), drum band, bahkan juga baris-berbaris.
Belakangan, ketika berusia 20 tahun, beliau pindah ke Bukit Duri dan berbekal pengalaman yang cukup panjang, beliaupun mendirikan madrasah sendiri, Madrasah Tsaqafah Islamiyyah, yang hingga sekarang masih eksis di Bukit Duri,Jakarta . Sebagai madrasah khusus, sampai kini Tsaqafah Islamiyah tidak pernah merujuk kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah, mereka menerapkan kurikulum sendiri dan uniknya, Madrasah ini menggunakan buku-buku terbitan sendiri yang disusun oleh sang pendiri, Habib Abdurrahman Assegaf.. Disini, siswa yang cerdas dan cepat menguasai ilmu bisa loncat kelas.
Dunia pendidikan memang tak mungkin dipisahkan dari Habib Abdurrahman, yang hampir seluruh masa hidupnya beliau baktikan untuk pendidikan. Beliau memang seorangguru sejati. Selain pengalamannya banyak, dan kreativitasnya dalam pendidikan juga luar biasa, pergaulannya pun luas. terutama dengan para ulama dan kaum pendidikJakarta.
Dalam keluarganya sendiri, Habib Abdurrahman dinilai oleh putra-putrinya sebagai sosok ayah yang konsisten dan disiplin dalam mendidik anak. Beliau selalu menekankan kepada putra-putrinya untuk menguasai berbagai disiplin ilmu, dan menuntut ilmu kepada banyakguru. Sebab ilmu yang dimilikinya tidak dapat diwariskan.
“Beliau konsisten dan tegas dalam mendidik anak. Beliau juga menekankan bahwa dirinya tidak mau meninggalkan harta sebagai warisan untuk anak-anaknya. Beliau hanya mendorong anak-anaknya agar mencintai ilmu dan mencintai dunia pendidikan. Beliau ingin kami konsisten mengajar, karenanya beliau melarang kami melibatkan diri dengan urusan politik maupun masalah keduniaan, seperti dagang, membuka biro haji dan sebagainya. Jadi, sekalipun tidak besar, ya….sedikit banyak putra-putrinya bisa mengajar,” kata Habib Umar merendah.
Habib Abdurrahman mempunyai putra dan putri 22 orang; diantaranya Habib Muhammad, pemimpin pesantren di kawasan Ceger; Habib Ali, memimpin Majelis Taklim Al-Affaf di wilayah Tebet; Habib Alwi, memimpin Majlis Taklim Zaadul Muslim di Bukit Duri; Habib Umar, memimpin pesantren dan Majlis Taklim Al-Kifahi Ats-Tsaqafi di Bukit Duri dan Habib Abu Bakar, memimpin pesantren Al-Busyro di Citayam. Jumlah jamaah mereka ribuan orang.
Sebagai Ulama sepuh yang sangat alim, beliau sangat disegani dan berpengaruh. Juga layak diteladani. Bukan hanya kegigihannya dalam mengajar, tapi juga produktivitasnya dalam mengarang kitab. Kitab-kitab buah karyanya tidak sebatas satu macam ilmu agama, melainkan juga mencakup berbagai macam ilmu. Mulai dari Tauhid, Tafsir, Akhlaq, Fiqih, hingga sastra. Bukan hanya dalam bahasa Arab, tapi juga dalam bahasa Melayu danSunda yang ditulis dengan huruf Arab- dikenal sebagai huruf Jawi atau pegon.
Kitab karyanya, antara lain, Hilyatul Janan fi Hadyil Qur’an, Syafinatus Said, Misbahuz Zaman, Bunyatul Umahat dan Buah Delima. Sayang, puluhan karya itu hanya dicetak dalam jumlah terbatas dan memang hanya digunakan untuk kepentingan para santri dan siswa Madrasah Tsaqafah Islamiyyah.
Habib Abdurrahman juga dikenal sebagai ulama yang sangat disiplin, sederhana dan ikhlas. Dalam hal apapun beliau selalu mementingkan kesederhanaan. Dan kedisiplinannya tidak hanya dalam hal mengajar, tapi juga dalam soal makan. “Walid tidak akan pernah makan sebelum waktunya. Dimanapun ia selalu makan tepat waktu.” Kata Habib Ali.
Mengenai keikhlasan dan kedermawanannya, beliau selalu siap menolong siapa saja yang membutuhkan bantuannya. Pada tahun 1960-an, Habib Abdurrahman mengalami kebutaan selama lima tahun. Namun musibah itu tak menyurutkan semangatnya dalam menegakkkan syiar islam. Pada masa-masa itulah beliau menciptakan rangkaian syair indah memuji kebesaran Allah swt dalam sebuah Tawasul, yang kemudian disebut Tawasul Al-Walid Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf.
Sebagai Ulama besar, Habib Abdurrahman juga dikenal memiliki karomah. Misalnya, ketika beliau membuka Majlis Taklim Al-Buyro di Parung Banteng Bogor sekitar tahun 1990, sebelumnya sangat sulit mencari sumber air bersih di Parung Banteng Bogor. Ketika membuka majlis Taklim itulah, Habib Abdurrahman bermunajat kepada Allah swt selama 40 hari 40 malam, mohon petunjuk lokasi sumber air. Pada hari ke 41, sumber belum juga ditemukan. Maka Habib Abdurrahman pun meneruskan munajatnya.
Tak lama kemudian, entah darimana, datanglah seorang lelaki membawa cangkul. Dan serta merta ia mencangkul tanah dekat rumah Habib Abdurrahman. Setelah mencangkul, ia berlalu dan tanah bekas cangkulan itu ditinggal, dibiarkan begitu saja. Dan, subhanallah, sebentar kemudian dari tanah bekas cangkulan itu merembeslah air. Sampai kini sumber air bersih itu dimanfaatkan oleh warga Parung Banteng, terutama untuk keperluan Majelis Taklim Al-Busyro. Menurut penuturan Habib Abdurrahman, lelaki pencangkul itu adalah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Wafatnya Habib Abdurrahman Assegaf
Suatu hari, seorang santri Darul Musthafa, Tarim Hadramaut, asal Indonesia, mendapat pesan dari seoranh ulama besar disana, Habib Abdullah bin Muhammad bin Alwi Syahab. “Saya mimpi bertemu Rasulullah SAW, tapi wajahnya menyerupai Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf. Tolong beritahu anak-anak beliau di Indonesia. Katakan, mulai saat ini, jangan jauh-jauh dari walid ( orang tua ).”
Sang santri itu langsung menelepon keluarganya di Indonesia. Hingga akhirnya kabar dari ulama Hadramaut itu diterima keluarga Habib Abdurrahman di Bukit Duri Jakarta.
Seminggu kemudian, apa yang diperkirakan itu pun tiba. Tepatnya Senin Siang jam 12.45, 26 Maret 2007, bertepatan dengan 7 rabiul Awal 1428 H, langit Jakarta seakan mengelam. Kaum muslim ibu kota terguncang oleh berita wafatnya Al-Alamah Al-Arif Billah Al-Habib Abdurrahman Assegaf, dalam usia kurang lebih 100 tahun.
Jenazah ulama besar yang ilmu, akhlaq dan keistiqamahannya sangat dikagumi itu, disemayamkan di ruang depan rumahnya yang bersahaja, tepat di sisi Sekretariat Yayasan Madrasah Tsaqofah Islamiyah, di jln. Perkutut no.273, Bukit Duri Puteran , Tebet, Jakarta Selatan. Kalimat tahlil dan pembacaan Surat Yaa siin bergema sepanjang hari sampai menjelang pemakamannya keesokan harinya. Sebuah tenda besar tak mampu menampung gelombanh jemaah yang terus berdatangan bak air bah. Pihak keluarga memutuskan pemakaman akan dilakukan ba’da zhuhur di pemakaman Kampung Lolongok, tepatnya di belakang Kramat Empang.
Acara pelepasan jenazah dibuka dengan sambutan dari pihak keluarga, yang diwakili Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf. Dengan nada sendu, pengasuh Majlis Taklim Al-Affaf itu mengucapkan terima kasih kepada para pecinta Habib Abdurrahman Assegaf yang telah datang bertakziah dan membantu proses pengurusan jenazah. Selanjutnya putra kedua Habib Abdurrahman tersebut mengungkapkan keutamaan-keutamaan almarhum.”Beliau rindu kepada Rasulullah SAW. Beliau ungkapkan rasa rindu itu lewat sholawat-sholawat yang tak pernah lepas dari bibirnya setiap hari.” Katanya.
Puluhan ribu pelayat yang berdiri berdesak-desakan pun mulai sesunggukan karena terharu. Apalagi ketika Habib Ali, yang berbicara, tampil dengan suara bergetar.
“hari ini, tidak seperti hari-hari yang lalu, kita berbicara tentang bagaimana memelihara anak yatim. Tapi, kali ini, kita semua menjadi anak-anak yatim.” Kata Habib Ali, yang mengibaratkan hadirin sebagai anak yatim. Betapa tidak, Habib Abdurrahman dianggap sebagai orang tua tidak hanya oleh keluarganya, tapi juga oleh jamaah. Semasa hidupnya, beliau senantiasa mengayomi, membimbing dan setia mendengar keluh kesah jamaah. Tapi kini, sang pelita itu telah pergi. Sebagian hadirin terguguk menangis, bahkan ada yang histeris.
“Kepergian Walid sudah diramal jauh-jauh hari. Suatu hari beliau pernah berkata kepada saya, “Umimu dulu yang bakal berpulang kepada Allah swt, setelah itu baru saya. Dan benarlah, ibunda Hj.Barkah ( istri Walid ) berpulang sekitar tujuh bulan yang lalu, tepatnya pada 26 Juli 2006. wali juga pernah berkata kepada keluarga, “Saya pulang pada hari senin, kasih tahu saudara-saudaramu.”
Jam 12.00, jenazah disholatkan di depan kediaman Walid, dengan Imam, Habib Abdul Qadir bin Muhammad Al-Haddad 9 Al-Hawi Condet ). Pada hari itu juga, besan Habib Abdurrahman, Syarifah Rugayah binti Muhammad bin Ali Al-Attas juga wafat.
Pukul 13.00, iring-iringan jenazah mulai bergerak menuju Empang Bogor, melalui jalan Tol Jagorawi. Ribuan kendaraan mengiringi ambulance yang membawa jenazah.
Disaat mobil jenazah yang didihului dua mobil pengawal dari kepolisian mendekati pintu makam pukul 16.15, konsentrasi massa yang terpusat disitu luar biasa banyaknya. Suasana pun menjadi agak gaduh. Maka setelah jenazah dikeluarkan dari mobil ambulance dan dibawa menuju liang lahat sekitar 30 meter dari pintu masuk, suasana penuh kesedihan sungguh sangat terasa. Banyak yang tak kuasa menahan tangis.
Segera setelah itu, jenazah dimasukkan ke liang lahat sambil terus diiringi dzikir yang tak henti dari para jemaah.
Mewakili Shohibul bait, Habib Hamid bin Abdullah al-Kaff, pengasuh pondok pesantren Al-Haramain Asy-Syarifain Pondok Ranggon Cipayung, memberikan tausiyah, “Sungguh kita bersama-sama telah kehilangan seorang ulama besar. Sungguh telah padam lampu yang sangat besar, yang menerangi kota Jakarta,” katanya.
“Beruntunglah murid-muridnya yang telah menimba ilmu pada almarhum. Ingatlah selalu pesan almarhum, saya sering mendengar pada acara haul, kalau saya sudah meninggal dunia, perbanyaklah mengirimkan fatihah untuk saya.’ Maka marila dalam pembacaan Fatihah-fatihah yang biasa kita baca, kita kirim untuk almarhum.”
==================================

ORANG TUA BAGI ANAK DAN MURIDNYA

Pada hari Selasa, 26 Maret 2007, sebuah pemandangan ganjil terlihat di salah satu ruas jalan tol di ibukota Jakarta. Ribuan sepeda motor dan beberapa mobil tampak berkonvoi mengiringi sebuah mobil jenazah di jalur khusus roda empat tersebut. Iring-iringan yang mayoritas mengenakan baju dan kopiah warna putih tersebut memanjang hingga kira-kira sepuluh kilo meter memasuki pintu tol Jagorawi. Mereka adalah para pelayat yang ikut mengantarkan jenazah Habib Abdurrahman Assegaf, seorang ulama terkemuka ibukota ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Masa Kecil Habib Abdurrahman Assegaf.
Al Walid Al Habib Abdurrahman bin Ahmad bin Abdul Qodir Assegaf lahir pada tahun 1908 di Cimanggu, Bogor. Abdurrahman kecil adalah seorang yatim yang menjalani masa kanak-kanaknya dalam kondisi sangat memprihatinkan. Hal itu tercermin dari penuturan salah satu putra beliau, Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf yang berkata: “Walid -berarti ayah, red- itu orang yang tidak mampu. Bahkan beliau pernah berkata;‘Barangkali dari seluruh anak yatim, yang termiskin adalah saya. Waktu lebaran, anak-anak mengenakan sandal atau sepatu, tapi saya tidak punya sandal apalagi sepatu”.
Meskipun beliau seorang yatim yang miskin, Abdurrahman kecil adalah sosok anak yang gigih dan giat dalam belajar dan menuntut ilmu. Beliau tak segan-segan bersusah payah dalam menempuh perjalanan puluhan kilometer untuk belajar kepada Habib Abdullah bin Muhsin Al-Aththas (Habib Empang Bogor). Oleh karena itu, tidak mengherankan jika prestasi beliau sangat cemerlang ketika masih belajar di Madrasah Jami’at Al-Khair. Selain selalu menempati peringkat pertama dalam hal akademis, akhlaqnya juga menjadi teladan bagi teman-temannya.
Ketekunan yang luar biasa ketika belajar juga mengantarkan beliau dengan mudah menyerap ilmu yang diajarkan oleh guru-gurunya dalam menguasai semua bidang ilmu agama, terutama ilmu alat (gramatika Arab, red). Hal itulah yang kemudian menjadikan dirinya tidak hanya sekedar disayang oleh oleh sang guru, tapi juga dibanggakan di depan murid-murid yang lain. Guru-guru beliau menganjurkan murid-murid yang lain untuk mengacu pada Abdurrahman kecil, baik dalam menuntut ilmu maupun bertingkah laku.
Disamping itu, kemampuan berbahasa yang bagus juga turut serta mengantarkan beliau menjadi penulis dan orator yang handal. Beliau tidak hanya menguasai bahasa Arab, tapi juga bahasa Sunda dan Jawa halus.
Habib Abdurrahman juga dikenal sebagai sosok yang sangat disiplin, sederhana dan ikhlas. Kedisiplinan beliau tidak hanya dalam hal belajar dan mengajar, tapi juga dalam soal makan. Habib Ali, salahs eorang putra beliau bercerita: “Walid tidak akan pernah makan sebelum waktunya. Dimanapun ia selalu makan tepat waktu”. Selain itu, beliau juga selalu siap menolong siapa saja yang membutuhkan bantuannya

MasaDakwahHabib Abdurrahman Assegaf.
Habib Abdurrahman adalah seorang guru sejati.Hampir seluruh masa hidup beliau dibaktikan untuk dunia pendidikan. Setelah menginjak usia dewasa, Habib Abdurrahman dipercaya sebagai guru di Madrasah Jami’at Al-Khair.
Ketika berusia 20 tahun, beliau pindah ke Bukit Duri Jakarta Barat.Dengan berbekal pengalaman yang cukup panjang, beliaupun mendirikan madrasah sendiri dan diberi nama Madrasah Tsaqafah Islamiyyah.Hingga sekarang, madrasah tersebut masih eksis di Jakarta.
Sebagai madrasah khusus, Tsaqafah Islamiyah sampai kini tidak pernah merujuk kepada kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah. Madrasah tersebut menerapkan kurikulum sendiri. Selain didominasi kitab-kitab karya sang pendiri sebagai silabus, siswa yang cerdas dan cepat menguasai ilmu bisa loncat kelas.

Habib Abdurrahman Assegaf dan Keluarga.
Di mata putra-putrinya, Habib Abdurrahman dinilai sebagai sosok ayah yang konsisten dan disiplin dalam mendidik anak. Beliau selalu menekankan kepada mereka untuk menguasai berbagai disiplin ilmu. Selain itu,beliau jugamenganjurkan mereka untuk menuntut ilmu kepada banyak guru.
Beliau konsisten dan tegas dalam mendidik anak. Beliau juga menekankan bahwa dirinya tidak mau meninggalkan harta sebagai warisan untuk anak-anaknya. Beliau hanya mendorong anak-anaknya agar mencintai ilmu dan mencintai dunia pendidikan. Beliau ingin kami konsisten mengajar, karenanya beliau melarang kami melibatkan diri dengan urusan politik maupun masalah keduniaan, seperti dagang, membuka biro haji dan sebagainya. Jadi, sekalipun tidak besar, ya….sedikit banyak putra-putrinya bisa mengajar”  kata Habib Umar, salah satu putra Habib Abdurrahman Assegaf merendah.
Dalam memotivasi anak-anaknya, beliau menanamkan kepada mereka bahwa ilmu yang dimiliki oleh beliau tidak dapat diwariskan, tapi harus dicari dan diusahakan sendiri oleh mereka jika ingin menjadi orang alim seperti beliau. Oleh karena itu, Berkat kedisiplinan Habib Abdurrahman dalam mendidik putra-putrinya dan motivasi yang ditanamkan pada diri mereka, putra dan putri beliau sukses menjadi ulama yang disegani dan berpengaruh di masyarakat.
Sembilan dari 22 orang keturunan beliau yang masih hidup saat ini (lima putra dan tiga putri) sukses berdakwah di daerahnya masing-masing. Mereka adalah Habib Muhammad (pemimpin pesantren di kawasan Ceger, Jakarta Timur), Habib Ali (pemimpin Majelis Taklim Al-Affaf di wilayah Tebet, Jakarta Selatan), Habib Alwi (pemimpin Majelis Taklim Zaadul Muslim di Bukit Duri, Jakarta Barat), Habib Umar (pemimpin Pesantren dan Majelis Taklim Al-Kifahi Ats-Tsaqafi di Bukit Duri, Jakarta Barat), dan Habib Abu Bakar (pemimpin Pesantren Al-Busyo di Citayam, Bogor). Sementara itu, tiga putrinya pun mempunyai jamaah tersendiri.

Karya-Karya Habib Abdurrahman Assegaf.
Habib Abdurrahman adalah seorang alim yang begitu disegani dan berpengaruh. Beliau adalah sosok yang sangat patut untuk dijadikan sebagai uswah bagi umat. Bukan hanya kegigihan dalam mengajar, tapi produktivitas beliau dalam berkarya juga sangat patut untuk dicontoh.
SelainmendirikanMadrasah Tsaqafah Islamiyyah, beliau juga memiliki banyak tulisan. Kitab-kitab tulisan beliau tidak hanya terbatas pada satu macam disiplin ilmu saja, tapi mencakup berbagai macam disiplin ilmu. Mulai dari Tauhid, Tafsir, Akhlaq, Fiqih, hingga sastra. Selain kitab berbahasa Arab, beliau juga memiliki karya berbahasa Melayu dan Sunda yang ditulis dengan huruf Arab atau dikenal sebagai huruf Jawi atau pegon.
Karya-karya beliaua ntara lain; Hilyatul Jinan fi Hadyil Qur’an, Syafinatus Said, Misbahuz Zaman, Bunyatul Umahat dan Buah Delima. Sayang, puluhan karya itu hanya dicetak dalam jumlah terbatas dan hanya digunakan untuk kepentingan para santri di Madrasah Tsaqafah Islamiyyah asuhan beliau.
Selainkarya-karya di atas, beliau jugamemiliki untaian syair indah memuji kebesaran Allah swt dalam sebuah Tawasul, yang kemudian disebut dengan“Tawasul Al-Walid Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf”. Syair tersebut dirangkai pada tahun 1960-an ketika beliau mengalami kebutaan selama lima tahun.

KaramahHabib Abdurrahman Assegaf.
Sebagai alim besar, Habib Abdurrahman dikenal memiliki beberapa karomah. Di antara karomah Walid terlihat ketika beliau membuka Majlis Taklim Al-Busyro di Bogor sekitar tahun 1990. Di daerah tersebut, sebelumnya sangat sulit mencari sumber air bersih. Namun ketika membuka majlis Taklim itulah, Habib Abdurrahman bermunajat kepada Allah swt. selama 40 hari 40 malam guna memohon petunjuk lokasi sumber air. Pada hari ke 41, sumber air belum juga ditemukan. Maka Habib Abdurrahman pun meneruskan munajatnya.
Tak lama kemudian, datanglah seorang lelaki misterius sambil membawa cangkul dari tempat yang tidak diketahui asalnya. Tanpa ada komando dari siapapun, lelaki tadi dengan serta merta mencangkul tanah di dekat rumah Habib Abdurrahman.
Setelah selesai mencangkul, kemudian ia berlalu dan tanah bekas cangkulan tadi ditinggal serta dibiarkan begitu saja. Tidak lama kemudian, merembeslah air dari tanah bekas cangkulan tersebut. Sampai kini, sumber air bersih itu dimanfaatkan oleh warga Parung Banteng, terutama untuk keperluan Majelis Taklim Al-Busyro. Menurut penuturan Habib Abdurrahman, lelaki pencangkul tersebut adalah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Wafatnya Habib Abdurrahman Assegaf.
Suatu hari, seorang santri Darul Musthafa Tarim Hadramaut asal Indonesia mendapat pesan dari Habib Abdullah bin Muhammad bin Alwi Syahab, seorang ulama besar disana. “Saya mimpi bertemu Rasulullah saw. tapi wajahnya menyerupai Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf. Tolong beritahu anak-anak beliau di Indonesia. Katakan, mulai saat ini jangan jauh-jauh dari walid (Habib Abdurrahman Assegaf, red)”, begitu isi pesan tersebut.
Mendapat pesan tadi, santri itu kemudian menelepon keluarganya di Indonesia hingga akhirnya kabar dari ulama Hadramaut itu diterima keluarga Habib Abdurrahman di Jakarta.
Selang seminggu kemudian, pesan tersebut menjadi kenyataan. Tepatnya pada hari senin jam 12.45 WIB, tangga l7 rabiul Awal 1428 H atau bertepatan dengan tanggal 26 Maret 2007, Al-Alamah Al-Arif Billah Al-Habib Abdurrahman Assegaf wafat dalam usia kurang lebih 100 tahun.
Acara pelepasan jenazah dibuka dengan sambutan dari pihak keluarga yang diwakili olehHabib Ali bin Abdurrahman Assegaf. Setelah mengucapkan terima kasih dengan nada sendu kepada para pecinta Habib Abdurrahman Assegaf yang telah datang bertakziah dan membantu proses pengurusan jenazah, putra kedua Habib Abdurrahman tersebut mengungkapkan beberapa keutamaan-keutamaan almarhum.”Beliau rindu kepada Rasulullah saw. Beliau ungkapkan rasa rindu itu lewat sholawat-sholawat yang tak pernah lepas dari bibirnya setiap hari.” Katanya.
Puluhan ribu pelayat yang berdiri berdesak-desakan pun mulai sesunggukan karena terharu. Apalagi ketika Habib Ali, yang berbicara, tampil dengan suara bergetar.“hari ini, tidak seperti hari-hari yang lalu, kita berbicara tentang bagaimana memelihara anak yatim. Tapi, kali ini kita semua menjadi anak-anak yatim”  kata Habib Ali, yang mengibaratkan hadirin sebagai anak yatim. Betapa tidak, Habib Abdurrahman dianggap sebagai orang tua.Tidak hanya oleh keluarganya, tapi juga oleh jamaah.
Selanjutnya, pengasuh Majlis Taklim Al-Affaf tersebut berujar: “Kepergian Walid sudah diramal jauh-jauh hari. Suatu hari beliau pernah berkata kepada saya; ‘Umimu (Ibumu, red) dulu yang bakal berpulang kepada Allah swt. setelah itu baru saya’. Dan benarlah, ibunda Hj. Barkah (istri Walid, red) berpulang sekitar tujuh bulan yang lalu, tepatnya pada 26 Juli 2006. walid juga pernah berkata kepada keluarga;‘Saya pulang pada hari senin, kasih tahu saudara-saudaramu’”.
Pada jam 12.00 WIB, jasad mulia Habib Abdurrahman disholatkan di depan kediaman beliau dengan ImamHabib Abdul Qadir bin Muhammad Al-Haddad Al-Hawi Condet. Sejurus kemudian, iring-iringan jenazah mulai bergerak menuju ketempat peristirahatan terakhir Al-Walid di di pemakaman Kampung Lolongok, tepatnya di belakang Kramat Empang Bogor.
Setelahs ampai, jenazah dimasukkan ke liang lahat sambil terus diiringi dzikir yang tak henti dari para jemaah. Mudah-mudahan Allah swt. menempatkan beliau bersama Junjungan Nabi Muhammad saw. Semoga Allah swt. memberikan taufiq kepada kita semua untuk meneladani beliau dan menghadiahi kita pengganti-pengganti  Al-Walid Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf, Amin.


abdkadiralhamid@2013

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "AL WALID AL HABIB ABDURRAHMAN BIN AHMAD ASSEGAF, CITAYAM BOGOR"

Post a Comment

Silahkan komentar yg positip