TANGISAN UMMU AIMAN ATAS WAFATNYA RASULULLAH DAN UCAPANNYA YANG MEMBUAT ABU BAKAR DAN ‘UMAR MENANGIS



TANGISAN UMMU AIMAN ATAS WAFATNYA RASULULLAH DAN UCAPANNYA YANG MEMBUAT ABU BAKAR DAN ‘UMAR MENANGIS


Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata:”Setelah wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata kepada ‘Umar radhiyallahu 'anhu:’Mari kita pergi menemui Ummu Aiman radhiyallahu 'anha (beliau adalah pengasuh dan pembantu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saat beliau masih kecil), untuk mengunjunginya, sebagaimana dulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengunjunginya.’Ketika kami menjumpainya, (kami dapati) Ummu Aiman radhiyallahu 'anha sedang menangis. Lalu keduanya (Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu'anhuma) bertanya:’Apa yang membuatmu menangis? Bukankah apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam?’ Ummu Aiman radhiyallahu 'anha menjawab:’Aku menangis bukan karena tidak tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, namun akau menangis karena turunnya wahyu dari langit telah terhenti’.Ternyata ucapan tersebut telah memancing keduanya untuk ikut menangis. Lalu keduanya pun ikut menagis bersamanya. Dalam kesempata ini penulis mengatakan:
Wahai Ummu Aiman …engkau menangis, sedangkan kami
Bersenang-senang dan bersenda gurau tanpa kesopanan
Engkau tidak menyaksikan hadits- hadits dipalsukan dan didustakan
Engkau tidak sempat mendengar kan lagu dan alat-alat musik dialunkan
Engkau tidak menyaksikan arak- arak diminum, atau zina dilakukan
Engkau tidak melihat bencana yang telah menimpa kami
Engkau tiak melihat berbagai hawa nafsu dan bid’ah yang menyesatkan
Seandainya bukan karena kematianmu niscaya engkau
Akan menyaksikan dari kami hal yang mengherankan
Engkau tidak mengetahui ulah musuh dan antek-antek mereka
Inilah kami, bertekuk lutut di hadapan kaum Yahudi
Hatiku terbakar karena terpecahnya persatuan kami
Semua urusanmu, wahai ummatku layaknya sebuah permainan
]Demi Allah, tangisan itu tidak mengenali jalan kami
Meskipun dipaksa untuk menangis namun tangisan itu tidak mempunyai kaitan dengnnya 

RASULULLAH MEMBERI RASA AMAN KEPADA PARA SAHABAT
Oh, betapa memilukan wafatnya seoarang Rasul (utusan) Allah, penjmain rasa aman bagi para Sahabat radhiyallahu'anhum. Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

النجوم أمنة للسماء فإذا ذهبت النجوم أتى السماء ما توعد وأنا أمنة لأصحابي فإذا ذهبت أتى أصحابي ما يوعدون وأصحابي أمنة لأمتي فإذا ذهب أصحابي أتى أمتي ما يوعدون
“Bintang-bintang adalah pemberi rasa aman bagi langit. Maka, apabila bintang-bintang itu utelah pergi, niscaya langit akan mengalami apa yang telah dijanjikan kepadanya. Aku adalah pemberi rasa aman bagi para Sahabatku. Maka, apabila aku telah pergi, niscaya akan datang kepada para Sahabatku apa yang telah dijanjikan kepada mereka. Dan semua Sahabatku adalah pemebri rasa aman bagi ummatku. Maka, apabila semua Sahabatku telah pergi, niscaya akan datang kepada ummatku apa yang telah dijajikan kepada mereka.” (HR. Muslim no. 2531) 

Penjelasan hadits
(Bintang-bintang pemberi rasa aman) yaitu bahwa bintang-bintang itu membuat langit aman. Dan selama bintang-bintang tersebut masih ada, maka langit tidak akan terbelah dan penghuninya tidak akan binasa. (Maka, apabila bintang-bintang itu telah pergi) yakni apabila bintang-bintang itu telah bertebaran/ tidak beraturan lagi (Niscaya langit akan mengalami apa yang telah dijanjikan kepadanya) yakni terbelah dan terlipat seperti kertas. (Maka apabila aku telah pergi, niscaya akan datang kepada para Sahabatku apa yang telah dijanjikan kepada mereka) yakni berupa fitnah, peperangan, dan perselisihan. (Maka, apabila semua Sahabatku telah pergi, niscaya akan datang kepada ummatku apa yang telah dijanjikan kepada mereka) yakmi dengan munculnya berbagai macam perbuatan bid’ah, menuruti haawa nafsu, perselisihan dalam hal aqidah, munculnya kekaisaran Romawi, penodaan terhadap kedua tanah suci, cahaya semakin redup dan kegelapan semakin bertambah pekat. Lihat Faidhul Qadiir, dengan beberapa pengibahan dan pemotongan redaksi.
Apa yang akan terjadi di saat bintang-bintang telah pergi?!
Rambu-rambu kehidupan berganti dan perubahan-perubahan yang mencengangkan dan menakutkan pun terjadi. Demikian pula halnya dengan kepergian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meninggalkan para Sahabat radhiyallahu'anhum. Sesungguhnya kehidupan mereka menjadi berbeda, segala urusan mereka pun berubah, dan terjadi perselisihan serta pertikaian di antara mereka.
Demikian pula, kepergian para Sahabat radhiyallahu 'anhu, melahirkan banyak perselisihan di dalamtubuh ummat ini, perubahan-perubahan luar biasa kerap terjadi, dan fitnah maupun musibah terlihat di mana-mana. Kini perbuatan bid’ah dianggap sebagai amalan Sunnah, sedangkan amalan Sunnah dituding sebagai praktik bid’ah. Yang ma’ruf (baik) dituduh munkar (buruk), sedangkan kemungkaran diyakini sebagai hal yang ma’ruf. Kebodohan merajalela dan ilmu semakin memudar, kecuali ilmu yang dimiliki oleh sebagian hamba Allah yang telah dianugerahi rahmat-Nya.
Hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala diabaikan, sementara fatwa-fatwa dengan mudah dikeluarkan demi mendukung hawa nafsu, ambisi dan syahwat. Ummat Islam menjadi terbagi-bagi dan mereka terpecah menjadi berbagai kelompok dan golongan.
Kenyataan ini mengingatkan kita pada satu hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu secara mauquf, tapi secara hukum hadits tersebut marfu’ (sampai) kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

((كيف أنتم أذا لبسكم فتنة، يهرم فيها الكبير ويربو فيها الصغير،ويتخذها الناس سنة،إذا ترك منها شيئ، قيل:تركت السنة؟ قالوا:ومتى ذاك؟ قال:إذا ذهبت علماؤكم، وكثرت قرتؤكم،وقلت فقهاؤكمم، وكثرت أمراؤكم، وقلت أمناؤكم، والتمست الدنيا بعمل الآخرة، وتفقه لغير الدين))
“Bagaimana dengan kalian, jika kalian tertimpa suatu fitnah yang karena fitnah tersebut orang dewasa menjadi tua, anak kecil menjadi tumbuh besar, dan manusia menjadikannya (fitnah tersebut) sebagai sunnah. Jika ada sedikit saja dari hal itu ditinggakan orang, maka akan dikatakan ‘Sunnah telah ditinggalkan!?’ Mereka bertanya:’Kapan hal itu terjadi?’ Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu menjawab:’Ketika ulama-ulama kalian telah pergi, para pembaca al-Qur’an dari kalian banyak, namunulama kalian sedikit jumlahnya. Ketika para pemimpin kalian cekup banyak, namun orang-orang jujur di antara kalian sedikit jumlahnya. Kehidupan dunia dicari dengan amalan akherat dan ilmu dipelajari untuk selain kepentingan agama.” (HR.Ad-Darimi (I/64) dengan dua sanad, salah satunya shahih dan yang lainnya hasan.al-Hakim (IV/514) dan lainnya. Lihat Qiyaam Ramadhan, karya al-Albani rahimahullah
Dengan perginya para Sahabat radhiyallahu'anhum, maka akan datang kepada ummat ini apa yang telah dijanjikan. Lalu, bencana apa kiranyayang dijanjikan dengan keperhian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam

abdkadiralhamid@2013

Subscribe to receive free email updates: