Peristiwa karbala



Peristiwa karbala



Pertempuran Karbala terjadi pada tanggal 10 Muharram, tahun ke-61 dari kalender Islam (9 atau 10 Oktober 680) di Karbala, yang sekarang terletak di Irak. Pertempuran terjadi antara pendukung dan keluarga dari cucu Muhammad, Husain bin Ali dengan pasukan militer yang dikirim oleh Yazid bin Muawiyah, Khalifah Bani Umayyah saat itu.
Pihak Husain terdiri dari anggota-anggota terhormat keluarga dekat Muhammad, sekitar 128 orang. Husain dan beberapa anggota juga diikuti oleh beberapa wanita dan anak-anak dari keluarganya. Di pihak lain, pasukan bersenjata Yazid I yang dipimpin oleh Umar bin Sa'ad berjumlah 4.000-10.000.


Sebelum Peperangan

Sebelum wafatnya, Muawiyah bin Abu Sufyan berwasiat bahwa kekhalifahan berikutnya akan dipegang oleh anaknya, Yazid bin Mu'awiyah. Hal ini telah melanggar perjanjian Mu'awiyah dengan Imam Hasan bin Ali, kakak dari Imam Husayn. Selain itu, dalam wasiatnya kepada Yazid, Mu'awiyah juga menyebutkan, bahwa kelak akan ada yang menolak atau tidak membay'atnya. Di antara mereka yang disebutkan Mu'awiyah adalah:
  • Abdur Rahman bin Abu Bakr. Menurut Mu'awiyah, dia tergolong orang yang mudah diubah pikirannya. Dengan harta dia bisa berubah pikiran.
  • Abdullah bin Umar. Menurut Mu'awiyah, dia tergolong orang yang tidak akan mengganggu kekhalifahan anaknya, karena Ibn 'Umar adalah orang yang anti-duniawi. Dia akan meninggalkan perkara ini (kekhalifahan) karena menganggap ini adalah perkara yang kotor.
  • Abdullah bin Zubayr.
  • Abdullah bin Abbas. Dia dan Ibn Zubayr menurut Mu'awiyah akan menentang kekhalifahan Yazid.
  • Imam Husain bin Ali. Sudah pasti menurut Mu'awiyah, akan menjadi penentang utama kekhalifahan Yazid karena hanya dialah keluarga Nabi Muhammad SAW. yang masih hidup.
Lantas, setelah wafat ayahnya, Yazid memerintahkan Walid bin Utbah, Gubernur Madinah, untuk meminta bai'atnya Imam Husayn kepada Yazid. Tentu saja hal in ditolak, dengan kata-katanya yang terkenal Orang-orang seperti ku tidak akan pernah membayat orang-orang seperti dia (Yazid)
Lalu, tahu kalau Walid akan terus memaksanya, pada tanggal 28 Rajab 60 H, Imam Husayn pergi ke Mekkah selama 6 bulan. Selama tinggal di Mekkah, Imam Husayn menerima banyak surat dari Kufah, untuk datang kesana menjadi Imam karena tidak adanya Imam di Kufah. Imam Husayn pun mengirim keponakannya, Muslim bin Aqil ke Kufah, untuk memastikan apakah mereka benar-benar membutuhkan Imam atau tidak.
Sesaimpainya di Kufah, Muslim diterima dengan baik, dan hampir seluruh warganya membai'at Imam Husayn melaluinya. Muslim mengirim surat kepada Imam Husayn yang menyatakan bahwa Kufah aman untuk Imam Husayn. Namun, setelah kedatangan Gubernur baru, 'Ubaydullah ibn Ziyad, semunya langsung berubah. Muslim dan teman-temannya langsung dibunuh pada 9 Dzul Hijja 60 H, tanpa ada protes dari rakyat Kufah. Imam Husayn pun mendapat ancaman pemubunuhan dari Yazid melalui 'Amr bin Sa'ad bin al-'Ash. Namun, Imam Husayn sudah pergi dari Mekkah pada tanggal 8 Dzul Hijja, sehingga pembunuhan terhadapnya pun gagal.
Mendengar kepergiannya menuju Kufah, Ibn 'Abbas dan Ibn Zubayr menemuinya dan meminta untuk jangan pergi ke Kufah. Mereka mengetahui rencana Yazid yang sebenarnya. Namun Imam Husayn menolak. Ima Husayn tetap bersikeras untuk pergi ke Kufah. Dalam perjalanan menuju Kufah, barula Imam Husayn menerima kabar bahwa keponakannya, Muslim, sudah syahid di tangan Ibn Ziyad. Dibanding kembali ke Madinah, Imam husayn tetap melanjutkan perjalanan menuju Kufah, hingga dicegat oleh tentara Ummayyah yang masih dikomandoi oleh Hurr ibn Yazid pada saat itu.

Imam Husayn dan rombongannya sampai di Karbala pada tanggal 2 Muharram 61 H. Ketika itu, Imam Husayn dicegat oleh 1.000 pasukan di bawah komando Hurr ibn Yazid. Ketika itu Imam Husayn berkata akan kembali ke Madinah apabila diperbolehkan oleh Hurr, namun Hurr menolak.
Setelah menerima kabar bahwa Imam Husayn dan rombongannya berhenti di Karbala, lalu Ibn Ziyad menunjuk Umar bin Sa'ad ibn Abi Waqqash sebagai komandan perang melawan Imam Husayn. Pada awalnya, Ibn Sa'd menolak, namun, setelah ditekan oleh Ibn Ziyad, dengan terpaksa ia mau. Selian itu, Ibn Sa'd juga menerima perintah, untuk memulai perang pada 6 Muharram dan untuk memutus akses rombongan Imam Husayn dari air dari sungai Eufrat. Lantas, rombongan Imam Husayn tidak dapat air hingga 10 Muharram.
Ibn Sa'd, yang begitu ragu dalam peperangan ini, menerima perintah dari Ibn Ziyad untuk segera memulai perang pada malam 9 Muharram. Mendengar hal ini, Imam Husayn mengirim Abbas bin Ali meminta untuk ditundanya serangan, agar mereka bisa Shalat malam. Permintaan ini dikabulkan oleh Ibn Sa'd.
Setelah Shalat malam didirikan, Imam Husayn berkhutbah yang sangat terkenal, hingga yang mendengarnya menangis. Mereka yakin bahwa ini adalah pertemuannya yang terkahir dengan Imam Husayn. Imam Husayn berkata bahwa siapapun yang ingin pergi dari rombongannya maka dipersilahkan pergi oleh Imam Husayn. Namun, tidak ada satu pria pun bahkan anak kecil yang keluar dari rombongan itu. Semuanya telah memilih kematian yang syahid dibanding kehidupan dibawah kezaliman.


Perang Dimulai

Pagi 10 Muharram, setelah Shalat Shubuh, Imam Husayn membagi pasukan kecilny menjadi 3 bagian. Pasukan kanan dipimpin oleh Zuhayr ibn Qayn dan Habib ibn Muzahir, pria berusia 70 tahun di bagian kiri. Dan adik tirinya, 'Abbas ibn 'Ali di bagian tengah bersama Ahlul Bayt dan Imam Husayn. Semua tentara Imam Husayn berjumlah 72 yang terbagi 32 pasukan berkuda dan 40 tentara pejalan kaki. Imam Husayn masih meminta kepada tentara Umayyah untuk kembali ke jalan Allah dan Rasul-Nya. Khutbahnya begitu memikat, hingga Hurr ibn Yazid dan beberapa orang lainnya masuk ke dalam tentara Imam Husayn.

Pertempuran di Karbala yang bermula sejak fajar itu berlangsung terus sampai petang. Pasukan kecil yang dipimpin oleh Alhusain r.a. makin habis. Ketika habis Asar tinggal 3 orang yang masih mampu memberikan perlawanan. Dan ketika sinar matahari sudah mulai melembut menjelang rembang petang, akhirnya tinggal Alhusain r.a. sendiri yang terus melakukan perlawanan. Seorang dikerubuti oleh tidak kurang dari 3.000 orang.
Ketika melihat bahwa dari rombongan Alhusain r.a. tinggal seorang, yaitu Alhusain r.a. sendiri, maka pasukan Ubaidillah ibn Ziyad yang sudah kerasukan setan tiba-tiba seperti ragu-ragu. Tetapi Alhusain r.a. tidak memperdulikan sikap musuhnya itu. Dengan pedang di tangan yang sudah penuh berlumuran darah, baju yang sudah lusuh, berdebu dan koyak-koyak serta muka hitam mengkilat karena keringat dan debu, Alhusain r.a. terus melakukan penyerangan. Siapa saja yang ada di hadapannya, pasukan pejalan kaki atau berkuda diserangnya. Bagaikan seekor harimau yang sudah luka disertai teriakan membesarkan nama Allah s.w.t., ia mengibaskan pedangnya ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung.
Tak seorang pun di antara tentara Kufah yang beribu jumlahnya itu berani menyerbu dan mendekati. Mereka mencoba menghindar dan dari jarak agak jauh baru mereka melepaskan anak-anak panah. Petang itu medan Karbala seolah-olah kejatuhan hujan. Tetapi bukan hujan air. Yang dihujani adalah tubuh Alhusain r.a. seorang diri dan yang menghujani adalah anak-anak panah yang berdesing lepas dari busur-busur orang-orang Kufah itu. Demikian hebat anak panah menghujani tubuh cucu Rasul Allah s.a.w., sehingga orang yang menyaksikan peristiwa tersebut melihat Alhusain r.a. seolah-olah berselubung kulit landak.
Matahari makin condong ke barat, udara makin menyejuk. Tetapi hati Alhusain r.a. semakin panas dan juga darah panas mengalir dari luka-lukanya. Bagaimanapun hebat syaitan telah menyelusup ke dalam tubuh orang-orang Kufah itu, rupanya ada juga sebetik ketakutan di hati kecil mereka menghadapi turunan langsung Rasul Allah s.a.w. itu. Mereka dihinggapi kebimbangan untuk menjadi pembunuh Alhusain r.a.. Dalam keadaan yang berlarut-larut inilah kemudian seorang bernama Syammar dzil Jausyan, seorang pembenci ahlul-bait khususnya Alhusain r.a. akhirnya tidak dapat mengekang nafsu haus-darahnya. Ia makin panas melihat Alhusain r.a. tidak juga sudi menyerah, sedangkan kawan-kawannya ragu-ragu untuk memberikan “tembakan akhir” untuk mematikan Alhusain r.a. Dengan suara lantang ia kemudian berseru:
“Hayo, apa kalian! Kepung dan seranglah dengan serentak dia!”
Hujan anak panah makin menghebat. Kuda tunggangan Alhusain r.a. akhirnya tak dapat bertahan lagi dan jatuh tertelungkup dengan mengeluarkan ringkikan maut yang mengerikan. Tanpa memperdulikan kejatuhan kudanya, Alhusain r.a. kemudian tegak berdiri terus melanjutkan perlawanannya. Sekarang bukan lagi anak panah, tetapi tebasan pedang dan tusukan tombak bertubi-tubi menyerangnya dari segala jurusan. Darah membasahi seluruh tubuhnya. Jubah yang dikenakannya sudah berubah warna merah kecoklat-coklatan. Sehari ia bertempur tiada hentinya. Suatu dorongan ajaib rupanya telah membuat ia tidak kenal lelah dan tak ingat haus. Tetapi, bagaimanapun juga batas kekuatannya tidak bisa terlewati lagi. Sepucuk anak panah beracun tiba-tiba menancap dalam tubuhnya tepat mengenai jantungnya. Pertama kali orang mendengar ia mengeluarkan erangan kesakitan. Masih sempat ia memegang anak panah yang menancap itu dan dengan sisa tenaga yang masih ada ia mencabut anak panah tersebut sambil mengeluarkan suara mengerang, karena darah telah memenuhi kerongkongannya:
“Oh, Tuhanku, ya Ilahi, engkau tahu mereka telah membunuh putera nabi-Mu…, dan di dunia ini tiada putera nabi lain daripada aku…” Anak panah itu tercabut juga diikuti oleh darah yang menyembur. Badannya terasa makin lemah dan lesu. Akhirnya Alhusain r.a., putera Sitti Fatimah Azzahra, cucu Rasul Allah s.a.w. itu roboh mencium bumi Karbala yang sudah disirami oleh darah banyak ahlul-bait dan putera-putera Bani Hasyim.
Gugurlah cucu Rasul Allah s.a.w, itu setelah melakukan perlawanan mati-matian sampai pada detik yang terakhir. Suasana tiba-tiba hening. Burung-burung gagak pemakan mayat yang berterbangan di atas medan pertempuran Karbala dengan mengeluarkan suara-suara bergaok yang mengerikan. Juga anggota-anggota pasukan Umar bin Saad yang semula hiruk pikuk tiba-tiba berhenti berteriak-teriak dan menyaksikan rubuhnya putera Rasul Allah s.a.w. itu.
Tetapi peristiwa yang mencekam itu tidak berlangsung lama. Syammar bin Dzil Jausyan yang sangat membenci ahlul bait itu segera berteriak:
“Hayo! Mengapa kalian melongo saja? Hayo habiskan jiwanya!” Perintah nya ini segera menyadarkan anak buahnya yang tengah terpukau itu. Seorang yang bernama Zar’ah bin Syarik tiba-tiba maju dan menebaskan pedangnya. ke arah pundak Alhusain r.a. yang sebelah kiri hingga tercerai dari badannya. Alhusain r.a. yang sudah tidak berdaya makin bermandikan darah yang masih hangat. Melihat itu Syammar ibnu Dzil Jausyan kemudian datang mendekati tubuh Alhsain r.a. yang sudah tergeletak tak berdaya itu. Pedang yang ada di tangannya kemudian diangkat tinggi-tinggi dan dengan kuat diayunkannya ke leher Alhusain r.a. yang tertelungkup di tanah. Sekali tebas terpisahlah kepala dari tubuh. Tanpa ragu-ragu segera dipegangnya rambut Alhusain r.a. dan diangkatnya kepala itu tinggi-tinggi. Dengan lagak kemenangan dan sinar mata yang mencerminkan jiwa kesetanan, kepala itu kemudian dibawanya menuju ke tempat komandan pasukan, yaitu Umar bin Saad. Ribuan pasang mata prajurit Kufah mengikuti peristiwa mengerikan ini. Sampai di dekat Umar bin Saad. Syammar kemudian menyerahkan kepala Alhusain r.a. Komandan pasukan Kufah menerimanya untuk “dipersembahkannya” kepada Ubaidillah bin Ziyad di Kufah.


KISAH LAIN TENTANG GUGURNYA ALHUSAIN R.A
Di samping versi yang sebelumnya, ada kisah lain yang menggambarkan detik-detik Alhusain r.a. terakhir pada pertempuran di Karbala itu. Dikisahkan bahwa ketika tinggal Alhusain r.a. seorang diri melakukan perlawanan terakhir, maka setelah bertempur hampir sepanjang hari, cucu Rasul Allah s.a.w. itu akhirnya tidak dapat menahan lagi kelelahan dan kehausannya. Sesungguhnya pada detik-detik yang demikian itu sangat mudah bagi anggota-anggota pasukan Umar bin Saad untuk menamatkan riwayat Alhusain r.a. Tetapi, bagaimanapun juga tersesat hati mereka, tokh ada sekelumit perasaan yang tertinggal di hati mereka. Yaitu bahwa yang ada di hadapannya itu adalah Alhusain r.a., cucu kesayangan Rasul Allah s.a.w. Pasukan yang terdiri dari beberapa suku kabilah itu rupanya enggan dan takut untuk menjadi algojo putera dari keturunan agung dan suci itu. Masing-masing suku secara diam-diam mengharapkan agar bukan orang dari sukunyalah yang tercatat dalam sejarah sebagai pembunuh keturunan langsung Rasul Allah s.a.w. itu. Melihat musuh-musuhnya yang terdiam dan ragu-ragu itu, akhirnya Alhusain r.a. menyadari bahwa ia dalam keadaan sangat kehausan. Dengan setengah sadar ia kemudian berjalan dengan lunglai menuju ke tepi sungai Euphrat. Tetapi usahanya itu telah dihalang-halangi. Seorang dari Bani Tamim bernama Umar Atthohawi ketika melihat Alhusain r.a. mendekati sungai Euphrat, kemudian mengangkat busurnya, memegang tali busur dan melepaskan anak panah yang akhirnya mengenai pundak Alhusain r.a. sebelah kiri. Tindakan tersebut kemudian diikuti oleh pukulan pedang temannya yang bernama Zur’ah bin Syarik Attamimi, tetapi yang berhasil ditangkis oleh Alhusain r.a. dengan tangannya. Dan tangan Alhusain r.a. putus karenanya. Sinan bin Anas kemudian tidak mau ketinggalan dan langsung menyerbu ke arah Alhusain r.a. dan menikam lambung cucu Rasul Allah s.a.w. yang sudah hampir sama sekali tidak berdaya itu, Alhusain r.a. rubuh ke tanah. Belum puas dengan tindakannya itu, Sinan bin Annas kemudian menyelesaikan “tugas”-nya dengan menebas batang leher Alhusain r.a. yang sudah tertelungkup di tanah. Setelah itu dipungutnya kepala yang sudah terpisah dari badan tersebut dan diserahkan kepada salah seorang temannya bernama Khauli bin Yazid Al-usbuhi. Sebab pembunuh terakhir Alhusain r.a. itu kemudian sibuk “mengurusi” tubuh Alhusain r.a. untuk mengambil celana, terompah dan pedang yang dikenakan dan dipergunakan oleh Alhusain r.a.
Demikianlah suatu versi yang lain dari kisah yang menyedihkan mengenai akhir kehidupan dari putera Ali bin Abitholib r.a. dan cucu tersayang Rasul Allah s.a.w. di Karbala, tidak jauh dari Kufah di wilayah Irak sekarang ini.
Gugurnya Alhusain r.a. menandai berakhirnya pertempuran tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriyah di Karbala yang berlangsung sehari suntuk antara 4.000 orang anggota pasukan Umar bin Saad dari Kufah dan sekelompok tidak lebih dari 80 orang anggota rombongan Alhusain r.a. Pedang-pedang dibersihkan dan dimasukkkan ke dalam sarungnya. Busur-busur disarangkan kembali ke pundak. Tombak-tombak dibersihkan ujungnya dari darah yang mulai mengering. Tidak ada lagi sudah sasaran untuk senjata-senjata yang digerakkan oleh tangan-tangan yang dikendalikan jiwa yang dihuni oleh syaitan itu. Jenazah para pahlawan, anggota rombongan Alhusain r.a. yang bertebaran di padang Karbala itu bisa dibedakan dengan jelas dari mayat-mayat anggota pasukan Umar bin Saad yang tidak sedikit jumlahnya. Jenazah-jenazah pasukan Alhusain r.a. semuanya sudah tidak berkepala lagi karena selalu ditebas dengan gemasnya oleh pasukan-pasukan dari Kufah. Tinggal lagi tubuh-tubuh yang tidak berkepala itu berserakan. Di angkasa burung-burung buas berterbangan, siap untuk berpesta pora dengan mayat yang sedemikian banyaknya.
Pada saat demikian itulah, menurut suatu riwayat yang dikisahkan oleh penulis sejarah Islam terkenal Atthobari dan Ibnul Atsir, pasukan Umar bin Saad yang masih segar kemudian berebut beramai-rarnai menggerayangi jenazah-jenazah para pahlawan tersebut untuk mengambil apa saja yang bisa mereka bawa. Kuda dan onta yang sudah tidak bertuan lagi mereka kejar-kejar untuk mereka miliki. Senjata yang sudah lepas dari tangan-tangan yang tak bernyawa mereka angkuti. Dan belum puas dengan itu semua, mereka kemudian mengarahkan pandangannya ke perkemahan para wanita dan anak-anak. Tanpa perintah komandannya, tetapi diperintah oleh syaitan yang bersemayam dalam hati mereka, kemudian mereka menyerbu kemah-kemah kaum wanita yang sudah ditinggalkan sama sekali oleh kaum lelaki itu. Berpacu mereka saling mendahului untuk mendapatkan barang yang terbaik dan terbanyak. Segera dari dalam kemah itu terdengar jeritan-jeritan dan tangisan perempuan untuk sebentar kemudian diikuti oleh wanita yang menggendong anak-anak berlarian ke luar. Tetapi orang-orang tetap mengejar mereka dan melucuti perhiasan dan pakaian yang dikenakan oleh wanita dan anak-anak itu.
Melihat tingkah polah anggotanya itu, Umar bin Saad tersentuh hatinya. Segera diperintahkannya agar mereka menghentikan tindakan-tindakannya itu.
“Hayo, kembalikan semua barang-barang wanita-wanita itu,” perintahnya. Tetapi mabuk kemenangan dan mabuk harta menyebabkan orang-orang itu sama sekali tidak mematuhi perintah atasannya.
Demikian menurut apa yang diriwayatkan oleh Atthobari dan Ibnu Atsir mengenai detik-detik terakhir peristiwa hitam yang terjadi di Karbala itu.
Hari semakin gelap. Di ufuk Barat tinggal lagi cahaya merah tua. Burung-burung pemakan mayat yang berpesta mulai meninggalkan tempat kembali ke sarangnya. Sebentar kemudian tibalah waktu maghrib. Perempuan-perempuan anggota rombongan Alhusain r.a. melakukan sholat maghrib dalam keadaan yang paling menyedihkan. Tanpa pemimpin dan tanpa Imam mereka. Mereka mengadukan nasibnya sekarang kepada Allah s.w.t.
Suasana berkabung dan sedih mencekam wanita dan anak-anak seperti serombongan anak ayam yang ditinggalkan tiba-tiba oleh induknya dan dibayangi di atas oleh burung elang yang kelaparan. Tidak jauh di depan kemah-kemah mereka terserak jenazah orang-orang yang sangat mereka cintai terdiri dari sanak- saudara dari rumpun Bani Hasyim, kerabat yang paling dekat dari Rasul Allah s.a.w.
Segera bulan menggantikan matahari menyinari padang Karbala yang mengerikan itu. Burung-burung ganas digantikan oleh anjing-anjing liar padang pasir. Suara aungan mereka menambah seram malam 10 Muharram itu. Mereka mencium bau mayat-mayat segar dan segera akan berpesta pora. Lolongan kegembiraan mereka memanggil kawan-kawannya lebih menyatat-nyayat hati orang-orang perempuan yang duduk termangu-mangu sambil mengucapkan kata-kata membesarkan nama Allah s.w.t. dan mohon ampun kepada-Nya. Perlahan-lahan mereka keluar kembali menuju ke bekas medan laga. Tanpa takut dan ngeri, di bawah cahaya bulan mereka merunduk-runduk melihat mayat dari satu jenazah ke jenazah yang lain.
Dengan kepiluan dan kasih sayang dan sedu sedan mereka mengumpulkan tangan yang telah hilang untuk didekatkan dengan tubuh yang semuanya sudah tidak berkepala lagi itu. Tangan suami tangan kekasih, tangan kakak atau adik yang tercinta. Kemudian mereka duduk termangu menunggui sisa-sisa bekas orang-orang yang paling mereka kasihi dan mengasihi mereka.
Sementara itu tidak jauh dari tempat kedudukan itu terhimpun sisa anggota pasukan Ubaidillah bin Ziyad. Beramai-ramai mereka mengelilingi api unggun. Bernyanyi, tertawa dan bersorak serta berpesta pora sambil menghitung-hitung harta hasil rampokan mereka masing-masing. Di samping itu mereka juga sibuk menghitung kepala-kepala manusia yang mereka bawa seperti menjinjing kepala kambing. Komandan pasukan dari Kufah itu kemudian memerintahkan agar kepala-kepala anggota rombongan Alhusain r.a. itu dikumpulkan untuk dibawa ke Kufah guna diserahkan sebagai barang bukti kesetiaan mereka kepada Ubaidillah bin Ziyad.
Kitab “Asadul-Ghabah” mengungkapkan, bahwa komandan pasukan, Umar bin Saad di samping berhasil menyerahkan kepala Alhusain r.a. juga telah menyerahkan tidak kurang dari 71 kepala para sahabat dan keluarga Alhusain r.a. yang telah gugur di Karbala itu. Ternyata kepala-kepala yang sudah terpisah dari tubuhnya itu dijadikan bahan rebutan oleh suku-suku Arab yang berada di sekitar Kufah. Mereka itu ingin memperoleh bukti bahwa mereka telah berjasa menumpas rombongan Alhusain r.a. untuk kemudian dapat digunakan sebagai usaha mencari muka dan menjilat kepada Ibnu Ziyad di Kufah atau Yazid bin Muawiyah di Damsyik (Syam).
Buku “Asadul-Ghabah” itu selanjutnya mengungkapkan bahwa suku Kindah yang dipimpin oleh Qais bin ‘Asy’ats telah berhasil mengumpulkan dan “mempersembahkan” kepada Ibnu Ziyad 13 buah kepala. Sedangkan suku Hawazin yang dipimpin oleh Syammar Dzil Jausyan yang terkenal sebagai orang yang sangat membenci ahlul-bait berhasil “mempersembahkan” 20 buah kepala dari orang-orang keluarga Rasul Allah s.a.w. itu. Sementara Bani Tamim dan Bani Asad masing-masing “memberikan sumbangan” berupa 17 buah kepala dari hasil pembantaian yang mereka lakukan di Karbala pada tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriyah itu.

Ksatria Karbala

Perjalanan sejarah telah dipenuhi oleh figur-figur teladan dan tokoh-tokoh besar yang namanya abadi dan tindak-tanduknya layak diteladani. Lembaran hidup mereka mementaskan kepahlawanan, kedermawanan, keramahan, dan kebesaran. Di saat-saat genting sekalipun, kebesaran jiwa mereka tetap menjadi panutan. Kisah tragedi pembantaian keluarga Nabi di Karbala meski menjadi luka yang dalam bagi umat Islam sepanjang sejarah, namun penuh dengan hikmah. Tragedi Karbala adalah pertarungan antara kebenaran dan kebatilan, antara kemanusiaan dan kebinatangan, antara kemuliaan dan kehinaan, antara kebebasan dan keterbelengguan.
Di padang tandus Nainawa, figur-figur besar semisal Hurr bin Yazid Al-Riyahi, Habib bin Madhahir, Ali bin Al-Husein, Wahb bin Abdullah dan lainnya mengajarkan kepada umat manusia di sepanjang zaman tentang makna sejati dari kebesaran, keberanian, kepahlawanan, kehormatan, dan kesetiaan. Pada kesempatan kali ini, kami akan membawa Anda ke masa itu, saat lakon-lakon Karbala mementaskan drama kesucian. Kami akan mengajak Anda untuk mencermati fragmen-fragmen yang mereka mainkan.

Hurr bin Yazid Al-Riyahi
adalah komandan pasukan Ubaidillah bin Ziyad. Dengan sekitar seribu orang yang dipimpinnya, Hurr mendapat perintah untuk menghadang gerak Imam Husein dan rombongannya yang sedang menuju Kufah dan menggiring mereka menghadap Ibnu Ziyad. Untuk beberapa hari pertama setelah pasukannya berhadapan dengan rombongan Imam Husein a.s, mungkin Hurr dipandang sebagai orang yang paling berdosa terhadap keluarga Nabi itu. Sebab dengan menjalankan perintah demi perintah yang diterimanya dari Ibnu Ziyah, Hurr telah membuat posisi Imam Husein dan keluarganya terjepit sampai mereka kehabisan air minum.
Namun sikap hormatnya kepada keluarga Rasul dan kebesaran jiwanya telah membuat dia terbangun dari tidur yang hampir membuatnya celaka. Hurr sadar bahwa dia berada di tengah pasukan yang berniat membantai Al-Husein dan keluarganya. Jika tetap bersama pasukan ini berarti dia akan mencatatkan namanya dalam daftar orang-orang terlaknat sepanjang masa. Hurr melihat dirinya berada di persimpangan jalan. Dia harus memilih, mati tercincang-cincang dengan imbalan surga atau selamat dan kembali ke keluarga dengan membawa cela dan janji akan siksa neraka. Hurr memilih surga meski harus melewati pembantaian sadis pasukan Ibnu Ziyad.
Dengan langkah mantap Hurr memacu kudanya ke arah perkemahan Imam Husein a.s. Semua mata memandang mungkinkah Hurr komandan yang pemberani itu akan menjadi orang pertama yang menyerang Imam Husein? Namun semua tercengang kala menyaksikan Hurr bersimbuh di hadapan putra Fatimah dan meminta maaf atas kesalahannya. Sebagai penebus kesalahannya, Hurr bangkit dan dengan gagah berani mencabik-cabik barisan musuh. Hurr gugur sebagai syahid dengan menghadiahkan darahnya untuk Islam. Imam Husein memuji kepahlawanan Hurr dan mengatakan, “Engkau benar-benar orang yang bebas, seperti nama yang diberikan ibumu kepadamu. Engkau bebas di dunia dan akhirat.â€‌
Muslim bin Ausajah
Muslim bin Ausajah termasuk kelompok orang-orang tua yang berada di dalam rombongan Imam Husein. Muslim adalah sahabat Nabi yang keberanian dan kepahlawanannya di berbagai medan perang dipuji banyak orang. Ketika Imam Husein mengumumkan rencananya untuk bangkit melawan pemerintahan Yazid, Muslim bin Ausajah mendapat tugas mengumpulkan dana, membeli senjata, dan mengambil baiat warga Kufah. Di padang Karbala, ketuaan Muslim sama sekali tidak menghalangi kelincahan geraknya. Satu-persatu orang-orang yang berada di hadapannya terjungkal. Akhirnya pasukan Ibnu Ziyad mengambil insiatif untuk menghujaninya dengan batu. Muslim tersungkur bersimbah darah. Sebelum melepas nyawa, dia memandang sahabatnya, Habib bin Madhahir dan berpesan untuk tidak meninggalkan Imam Husein.
Habib bin Madhahir
Di Karbala, Habib bin Madhahir mungkin yang paling tua diantara para sahabat Imam Husein. Meski tua, Habib adalah pecinta sejati Ahlul Bait. Kehadirannya di tengah rombongan keluarga Nabi memberikan semangat tersendiri. Di malam tanggal sepuluh Muharram, atau malam pembantaian, wajah Habib terlihat berseri-seri. Tak jarang dia melempar senyum kepada anggota rombongan yang lain. Ada yang mempertanyakan mengapa dia tersenyum di malam yang mencekam ini? Habib menjawab, “Ini adalah saat yang paling indah dan menyenangkan. Sebab tak lama lagi, kita akan berjumpa yang Tuhan.â€‌
Di bawah terik mentari Karbala, Habib berlaga di tengah medan. Usia lanjut tidak menghalangi kelincahannya memainkan pedang. Habib sempat melantunkan bait-bait syair yang menunjukkan keberanian dan kesetiannya kepada Nabi dan kebenaran risalah Nabi. Jumlah pasukan dan kelengkapan militer yang ada di pihak musuh tidak membuatnya gentar. Sebab baginya, kemenangan bukan hanya kemenangan lahiriyah. Kematian di jalan Allah adalah kemenangan besar yang didambakan para pecinta seperti Habib. Ayunan pedang tepat mengenai kepala putra Madhahir dan membuatnya terjungkal. Darah segar membahasi janggutnya yang putih. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Habib sempat melempar senyum ke arah Al-Husein yang memberinya kata selamat menjumpai surga. Habib gugur setelah melagakan kepahlawanan dan kesetiaan.
Nafi’ bin Hilal
Nafi’ bin Hilal, adalah pahlawan Karbala yang dikenal sebagai perawi hadis, qari, dan sahabat dekat Imam Ali a.s. Kesetiaannya kepada Ahlul Bait telah ia tunjukkan dalam perang Jamal, Siffin, dan Nahrawan dalam membela Imam Ali a.s., ayah Imam Husain. Di Karbala, bersama Abul Fadhl Abbas dan lima puluh orang sahabat Imam Husein, Nafi’ memporak-porandakan barisan musuh untuk sampai ke sungai Furat. Setelah melalui pertempuran sengit, pasukan Imam Husein berhasil mengambil air dan mengirimnya ke perkemahan. Sahabat setia Al-Husien ini dikenal sebagai pemanah mahir. Setelah berhasil membunuh 12 orang dan melukai beberapa orang lainnya, Nafi’ bin Hilal gugur sebagai syahid.
Burair bin Khudhair
Di tengah pasukan Imam Husein yang hanya berjumlah beberapa puluh orang, terdapat beberapa orang yang dikenal sebagai orang ahli ibadah dan zuhud, diantaranya adalah Burair bin Khudhair. Warga Kufah amat menghormati Burair dan menyebutnya sebagai guru besar Al-Qur’an. Ketinggian iman Burair tampak di malam Asyura. Burair yang biasanya jarang bergurau, malam itu menggoda Abdurrahman Al-Anshari, salah seorang sahabat Imam Husein. Kepadanya Abdurrahman berkata, “Wahai Burair, malam ini tidak sewajarnya engkau bergurau.â€‌ Burair menjawab, “Sahabatku, tahukah engkau bahwa sejak muda aku tidak gemar bercanda. Tapi malam ini aku sangat bahagia. Sebab jarak antara kita dan surga hanya beberapa saat. Kita hanya perlu sejenak menari-narikan pedang untuk menyambut pedang-pedang musuh mencabik-cabik tubuh kita, lalu terbang ke surga.â€‌ Burair gugur syahid dan namanya abadi. Dia telah mengajarkan kesetiaan kepada agama dan kecintaan kepada Allah, Rasul dan Ahlul Bait.
Kemenangan dalam berjuang tidak selalu berbentuk kemenangan lahiriyah. Adakalanya gugur dalam perjuangan juga merupakan sebuah kemenangan besar. Tak salah bila ada pepatah yang mengatakan: darah mengalahkan pedang. Kisah Karbala adalah salah satu contohnya. Meski sejak awal, seluruh anggota rombongan Imam Husein telah mengetahui bahwa mereka adalah kafilah yang bergerak menuju kematian, tetapi cita-cita luhur dan keyakinan akan kemenangan dengan syahadah membuat mereka mantap melangkah. Kami masih bersama Anda dengan pembicaraan seputar tokoh-tokoh kebangkitan Asyura dan drama yang mereka pentaskan di Karbala.
Ali Akbar bin Husain as
Ketika rombongan Imam Husein memasuki padang Karbala, terlihat barisan pasukan Ibnu Ziyad yang berbaris bagai batang-batang korma di tengah sahara. Menyadari bahwa ribuan orang bersenjata lengkap yang berada di sana berniat membantai Al-Husein dan keluarganya, Ali Akbar putra Imam Husein bertanya kepada ayahnya, “Ayah, bukankah kita berada di pihak yang benar?â€‌ Imam menjawab, “Iya.â€‌ Mendengar jawaban itu Ali Akbar berseru, “Kalau begitu tidak alasan bagi kita untuk merasa ragu dan gentar.â€‌
Saat Ali Akbar maju ke medan tempur untuk menunjukkan kesetiaannya kepada sang ayah dan imam yang ia ikuti, Al-Husein dengan berlinang air mata memandang nanar ke arah putranya dan berkata, “Ya Allah, saksikankah pemuda yang paling mirip wajah, tutur kata dan perangainya dengan Rasul-Mu, kini maju ke medan tempur. Selama ini, kami mengobati kerinduan kepada Nabi dengan memandangnya. Ya Allah, jauhkan mereka dari barakah bumi ini dan cabik-cabiklah barisan mereka.â€‌
Ali Akbar maju dan dengan gesit dia menari-narikan pedangnya. Beberapa orang yang menghadangnya terjerembab ke tanah terkena sabetan pedang putra Al-Husein. Tak lama kemudian, kisah kepahlawanan dan kesetiaan Ali Akbar menjadi lengkap setelah sebilah pedang mendarat di tubuhnya. Ali Akbar jatuh tersungkur dan musuh-musuh berhamburan menyambutnya dengan mendaratkan pukulan pedang bertubi-tubi ke tubuh pemuda tampan itu. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Ali Akbar berseru kepada ayahnya dengan mengatakan, “Ayah, Rasulullah telah memberiku air. Beliau menunggu kedatanganmu.â€‌ Cucu Rasul itu gugur syahid dengan meninggalkan pelajaran berharga tentang kesetiaan dan pengorbanan dalam membela kebenaran.
Qasim bin Hasan as
Mungkin kisah Qasim putra Imam Hasan as di Karbala adalah kisah yang paling menarik tentang kesetiaan dan pengorbanan. Kemenakan Imam Husein yang saat itu masih sangat belia, yaitu berusia kurang dari lima belas tahun, telah menyuguhkan pelajaran yang amat berharga. Di hari Asyura, saat pembantaian di Padang Karbala berlangsung, Qasim menatap pilu medan laga. Imam Husein mendatanginya dan bertanya, “Qasim, bagaimana engkau memandang kematian?â€‌ Qasim menjawab, “Kematian bagiku lebih manis dari madu.â€‌ Ya, remaja belia yang terdidik di rumah kenabian dan wilayah itu telah hanyut dalam cinta rabbani dan tak sabar menunggu saat-saat yang paling indah bertemu dengan sang Pencipta. Qasim maju ke medan laga dan gugur sebagai syahid.
Jaun bin Abi Malik
Jaun bin Abi Malik, adalah bekas budak Abu Dzar Al-Ghifari yang kemudian mengabdi di rumah Imam Ali, Imam Hasan, dan terakhir di rumah Imam Husein as. Di siang hari Asyura, Jaun dari dekat menyaksikan dan merasakan penderitaan yang dialami oleh keluarga Nabi dan para pengikut setia mereka di Padang Karbala. Meski tidak terlibat dalam konflik, Jaun tidak mau tinggal diam. Dia bangkit dan meminta ijin kepada Imam Husein untuk mempersembahkan darahnya dalam membela keluarga Nabi. Imam Husein yang terkenal bijak mengatakan, “Wahai Jaun, jangan celakakan dirimu. Engkau telah kumerdekakan.â€‌
Jaun menangis, dan sambil mencium kaki tuannya, dia berkata, “Tuanku, selama ini aku hidup sejahtera di rumahmu. Aku tidak bisa tinggal diam menyaksikan engkau dan keluargamu menghadapi kesulitan ini. Demi Allah aku tidak akan meninggalkanmu sampai darahku bercampur dengan darahmu yang suci.â€‌ Budak berkulit hitam itu menunjukkan kesetiaan seorang hamba kepada tuannya. Jaun mengajarkan makna sejati dari balas budi. Setelah mendapat ijin, bekas budak Abu Dzar itu maju ke medan laga dan mempertontonkan semangat pengorbanan untuk keluarga Rasul. Untuknya Imam Husein berdoa, “Ya Allah putihkan wajahnya, masukkanlah ia ke dalam golongan orang-orang yang baik dan jangan pisahkan dia dari keluarga Muhammad.â€‌
Wahb bin Abdullah
Wahb bin Abdullah adalah salah seorang pengikut setia Imam Husein. Sebelum bertemu Imam Husein, Wahb adalah pengikut agama Nasrani. Di tangan Imam Husein, dia dan ibunya masuk Islam. Saat berada di padang Karbala bersama Imam Husein, Wahb baru 17 hari menikah. Sebagai bukti kesetiaan kepada penghulu pemuda surga dan pemimpin umat itu, Wahb maju ke medan tempur. 24 penunggang kuda dan 24 prajurit pejalan kaki berhasil ditumbangkannya. Namun Wahb berhasil ditangkap dan dibawa menghadap Umar bin Saad komandan pasukan Ibnu Ziyad.
Wahb gugur syahid setelah Ibnu Saad mengeluarkan perintah pemenggalan kepalanya. Kepala tanpa badan itu dikirim ke perkemahan Imam Husein. Ibu Wahb dengan bangga mencium kepala anaknya yang gugur dalam membela kebenaran. Kepala itu dilemparkannya ke arah musuh sambil berkata, “Aku tidak akan mengambil kembali apa yang telah kupersembahkan untuk Islam.â€‌ Tak cukup dengan persembahan itu, wanita tua itu mengambil sebatang kayu dan berlari ke arah musuh. Ibu Wahb ingin menyusul anaknya yang telah mendahuluinya terbang ke surga. Namun Imam Husein mencegahnya dan mendoakan kebaikan untuknya.
Kisah pengorbanan sahabat Nabi dalam perang Uhud yang menjadikan tubuhnya sebagai perisai hidup untuk melindungi Rasulullah, terulang kembali di padang Karbala. Di hari Asyura, pasukan Ibnu Ziyad tidak memberikan kesempatan kepada Imam Husein dan para sahabatnya untuk melaksanakan kewajiban shalat. Saat Imam Husein berdiri untuk mengerjakan shalat berjemaah dengan para sahabatnya, Said bin Abdillah Al-Hanafi berdiri melindungi putra Fatimah itu dari terjangan tombak dan anak panah yang meluncur ke arah Imam Husein. Tubuh Said dipenuhi oleh tombak dan anak panah.
Said roboh. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya ia berkata, Ya Allah, sampaikan salamku kepada Nabi-Mu Muhammad. Katakan kepada beliau bahwa luka-luka di sekujur tubuhku ini kudapatkan ketika melindungi dan membela cucu kesayangannya yang tengah memperjuangkan agama dan kebebasan. Mata sayu Said untuk beberapa saat memandang wajah pemimpinnya. Dia berkata, Wahai putra Rasulullah, apakah aku sudah melaksanakan janji setiaku? Imam Husein menjawab, Ya, engkau telah mendahuluiku masuk ke surga.
Abis bin Abu Syubaib Al-Syakiri
Kisah Abis bin Abu Syubaib Al-Syakiri di Karbala adalah kisah cinta yang luhur. Selain dikenal pemberani dan piawai dalam bertarung di medan tempur, Abis juga terkenal sebagai ahli ibadah dan rajin melaksanakan shalat tahajjud. Di malam Asyura, Abis mendatangi kemah Imam Husein. Kepada beliau, Abis mengatakan, “Demi Allah, tidak ada seorangpun di dunia ini yang kucintai dan aku hormati lebih dari dirimu, wahai putra Rasulullah. Jika ketulusan cinta ini dapat aku tunjukkan dengan mengorbankan sesuatu yang lebih berharga dari jiwa dan ragaku, pasti akan kulakukan.â€‌ Abis gugur syahid setelah pasukan musuh yang kewalahan dalam menghadapinya, menghujaninya dengan batu-batuan.


Daftar yang syahid dari pihak Husain

Keluarga

Saudara

  • Abbas bin Ali
  • Abdullah bin Ali
  • Jafar bin Ali
  • Utsman bin Ali
  • Ibrahim bin Ali
  • Abu Bakar bin Ali
  • Amru bin Ali
  • Muhammad bin Ali
  • M. thamrin bin husein

Putra

  • Ali Akbar bin Husain
  • Ali Asghar bin Husain
  • Abdullah bin Hussain bin Ali
  • Ali zainal abidin (masih hidup)

Putra Hasan bin Ali

  • Abdullah bin Hasan - putera tertua
  • Qasim bin Hasan - putera bungsu
  • Zaid bin Hasan
  • Hasan bin Hasan bin Ali
  • Abu Bakar bin Hasan bin Ali

Lainnya

  • Muhammad bin Abdullah bin Ja'far
  • Aun bin Abdullah
  • Ubaidah bin al-Harith
  • Ubayd-Allah bin Abdullah bin Ja'far

Keturunan Aqil bin Abu Thalib

  • Ja’far bin Aqil
  • Abdul Rahman bin Aqil
  • Abdullah bin Aqil
  • Muhammad bin Aqil
  • Muhammad bin Abu Said bin Aqil
  • Ibrahim bin Muslim bin Aqil
  • Abdul Rahman bin Muslim bin Aqil
  • Abdullah bin Muslim bin Aqil
  • Muhammad bin Muslim bin Aqil

Semua Yang Terlibat Pembunuhan Imam Husain r.a Tertimpa Azab di Dunia

Ibnu Syihab al-Zuhri menuturkan bahwa semua orang yang terlibat dalam pembunuhan Husein mendapat siksa di dunia. Ada yang dibunuh, buta, wajahnya menghitam, atau kehilangan kekuasaan dalam waktu singkat. Di antara yang mengalaminya adalah Abdullah bin Khashin. Ketika pihak Yazid bin Muawiyah dan Husein berperang dan mereka menghalangi Husein untuk mendapatkan air, Abdullah memanggil Husein lalu berkata, “Hai Husein! Tidakkah kamu lihat air itu seolah-olah berada di tengah-tengah langit. Demi Allah, kamu tidak akan merasakan setetes air pun, sampai kamu mati kehausan.” Kemudian Husein berdoa, “Ya Allah, semoga dia mati kehausan.” Lalu Abdullah meminum air itu tanpa henti tetapi dahaganya tidak hilang juga, sampai ia mati kehausan. (Dikemukakan oleh Imam al-Syali Ba’lawi dalam kitab Al Masyru’ al-Marwi )

Dalam kisah lain diceritakan bahwa Husein berdoa ketika hendak meminum air yang dibawanya, tiba-tiba seorang laki-laki yang dikenal sebagai seorang penakut memanah Husein. Anak panah itu mengenai langit-langit rnulut Husein schingga ia tidak bisa minum. Lalu Husein r.a. berdoa, “Ya Allah, berikan rasa haus kepadanya.” Maka orang yang keji itu berteriak-teriak karena perutnya kepanasan dan punggungnya kedinginan. Kemudian di depannya diletakkan es dan kipas, scmentara di belakangnya diletakkan tungku perapian, dia berteriak, “Beri aku minum!” Lalu ia diberi satu wadah besar berisi arak, air, dan susu, yang cukup untuk lima orang. Ia meminumnya, tetapi ia tetap berteriak kehausan. Ia diberi minum lagi dengan ukuran semula, lalu meminumnya sampai perutnya kembung seperti perut unta. (Dituturkan oleh Ibnu Hajar dalam kitabAl-Shawa’iq)

Diceritakan pula bahwa ada seorang tua renta yang terlibat dalam pembunuhan Husein mendengar berita bahwa semua orang yang terlibat dalam pembunuhan itu tidak akan mati kecuali telah mendapat siksa di dunia. Orang tua itu berkata, “Aku ikut menyaksikan pembunuhan itu, tetapi belum pernah ditimpa kejadian tidak mengenakkan.” Kemudian ia berdiri di dekat lampu untuk memperbaikinya, tiba-tiba api berkobar menyambarnya, sehingga ia berteriak-teriak, “Api! Api!” Sampai akhirnya dia tewas terbakar. (Diceritakan oleh Al-Syali)

Al-Syali juga menceritakan bahwa ada seseorang yang hanya menghadiri pembunuhan Husein, lalu ia menjadi buta. Ketika ditanya tentang sebab kebutaannya, ia menceritakan bahwa ia melihat Nabi Saw memegang pedang, dan di depan beliau terhampar tikar dari kulit. Ia juga melihat 10 orang pembunuh Husein disembelih di hadapan Nabi. Nabi mencela dan mencemoohnya karena telah ikut mendukung para pembunuh itu. Kemudian Nabi menempelkan celak dari darah Husein ke matanya, lalu ia menjadi buta.

Dalam kisah lain, Asy-Syali menceritakan bahwa ada seseorang yang menggantung kepala Husein dengan tali pelana kudanya. Beberapa hari kemudian, wajahnya tampak lebih hitam daripada aspal. Ada seseorang yang berkata kepadanya, “Anda adalah orang Arab yang paling hitam wajahnya.” Dia menjawab, “Pada malam ketika aku memegang kepala Husein itu, lewatlah dua orang yang mencengkeram lenganku. Mereka menggiringku ke arah api yang menyala-nyala dan mendorongku masuk ke dalamnya. Aku hanya bisa menunduk lemah, api itu menghanguskan kulitku sehingga hitam legam seperti yang kau lihat.” Akhirnya ia tewas dalam kondisi mengenaskan.


meski dlm perjalanan sejarah para saadah dzurriah banyak mengalami kehidupan kelam, itu sdh menjd garis hidup yg ditentukan Allah yg hrs dijalani yg akhirnya membentuk diri dan jiwa para dzurriah memiliki kwalitas sabar dan keimanan yg tinggi dlm menghadapi segala cobaan hidup. Coba kita perhatikan sejarah perjalanan saadah ba alawi, 1) mereka tdk larut trus dlm kesedihan bahkan mereka lebih memfokuskan diri dalam ketaqwaan, 2) bahkan berusaha menutupi dan sengaja tdk mengungkit peristiwa2 kelam datuk2nya, krn mereka takut fitnah semakin berkembang,yg menimbulkan banyak salah tafsir ttg sejarah kelam mereka,yg akan mengungkit2 kekhilafan pada sebagian sahabat yg mestinya ditolerir sbg manusia biasa dan banyak lagi yg mestinya tdk perlu lagi diangkat yg hanya memperlebar perpecahan diantara umat.inilah perbedaan mungkin dr SUNNI & SYIAH dlm menyikapi hal ini, ada yg larut shg menimbulkan kebencian dan penyesalan thd pelaku2 sejarah dan ada yg tetap menjalani hidup dgn belajar dr pengalaman2 lalu.....3) mengambil hikmah dari peristiwa2 kelam tsb, dengan berbesar hati menerima fakta dan ketentuan taqdir yg pasti baik buat mereka (dzurriah),meskipun merekalah yg pantas menerima haq kekhalifahan, tapi taqdir berkata lain yang akhirnya menuntun mereka hidup lebih fokus dalam perbaikan aqidah....Seandainya para dzurriah berada trus dalam lingkaran kekuasaan, apakah mereka msh lebih fokus dlm menjaga aqidah, berapa banyak orang tergelincir karena KEKUASAAN..........sedangkan mereka (dzurriah) bukan manusia2 ma'sum

  dari Berbagai Sumber.....

abdkadiralhamid@2013

Subscribe to receive free email updates: