Imam Zaid bin Ali Zainal Abidin VS SYI'AH ZAIDIYAH


Imam Zaid bin Ali Zainal Abidin VS SYI'AH ZAIDIYAH


Zaidiyah adalah sekte yang dinisbatkan kepada nama pendirinya Zaid bin Ali Zainal Abidin bin Husen bin Ali Radiallau Anhu ( 80 – 122 H ) Ia pernah memimpin satu revolusi syi’ah di Irak melawan orang-orang umawi pada masa hisyam bin Abdaul Malik. Penduduk kufah mendorongnya untuk memimpin revolusi tersebut. Tak lama kemudian setelah ia maju memimpin pemberontakan, ia ditinggalkan dan dihinakan oleh penduduk syi’ah di Kuffah karma diketahui zainal abidin menghormati dan meridloi Abu Bakar dan Umar serta tidak mengutuk keduanya maka ia terpaksa berhadapan dengan tentera umaiyah padahal pasukannya hanya sekitar 500 orang terdiri dari pasukan berkuda, dalam pertempuran yang tidak seimbang tersebut ia terkena panah dipelipisnya yang menyebabkan kematiannya.


  SEJARAH BERDIRINYA


Dalam Minhaj al-Sunnah, Ibn Taimiyyah mengemukakan alasan mengapa ada sekte Syi'ah yang disebut Rafidhah. Menurut ibn Taimiyyah, sejak Zaid tampil ke gelanggang politik, Syi'ah terpecah menjadi dua, yaitu golongan Rafidhah dan golongan Zaidiyyah. Ketika ditanya mengenai Abu Bakar dan 'Umar, Zaid menyatakan simpatinya kepada kedua sahabat itu. Zaid mendoakan keduanya. Sekelompok pengikutnya kemudian meninggalkan Zaid. Zaid berkata kepada mereka: "Apakah kalian menyempal dariku?" Sejak mereka menyempal dari Zaid itu, istilah Rafidhah muncul. Adapun kaum Syi'ah yang tetap setia kepada Zaid, mereka itu diberi nama Zaidiyah, artinya, yang memihak kepada Zaid.[1]
Ada yang mengatakan : mereka dinamakan rafidhah, karena mereka datang ke Zaid bin Ali bin Husein, lalu
mereka berkata : “Berlepas dirilah kamu dari Abu Bakr dan Umar sehingga kami bisa bersamamu!”, lalu
beliau menjawab : “Mereka berdua (Abu Bakr dan Umar) adalah sahabat kakekku, bahkan aku setia kepada
mereka”. Mereka berkata : “Kalau begitu, kami menolakmu (rafadhnaak) maka dinamakanlah mereka
Raafidhah (yang menolak), dan orang yang membai’at dan sepakat dengan Zaid bin Ali bin Husein disebut Zaidiyah.[2]

Ibn Katsir menceritakan, pada suatu saat kaum Syi'ah berkumpul bersama Zaid. Mereka bertanya kepada Zaid: "Apa maksud perkataan anda, 'Allah memberi rahmat kepada anda pada (diri) Abu Bakar dan 'Umar?" Zaid menjawab: "Semoga Allah mengampuni Abu Bakar dan 'Umar. Aku tidak pernah mendengar seorang pun dari keluargaku yang berlepas tangan dari mereka berdua. Aku tidak pernah mengatakan tentang mereka kecuali yang - baik-baik. Aku ingin mengajak anda kembali kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul, menghidupkan sunnah Nabi dan menumpas bid'ah. Jika mau mendengarkan, kalian dan aku akan memperoleh kebaikan. Tetapi bila kalian membangkang, maka aku bukanlah penolong kalian.”

Mendengar nasihat itu, kontan orang-orang Syi'ah itu bubar meninggalkan Zaid. Mereka menarik kembali bai'at mereka. Sejak hari itu, mereka disebut kaum Rafidhah. Adapun orang-orang yang mendengarkan dan menerima nasihat Zaid, mereka disebut Zaidiyyah. Penduduk Kufah umumnya penganut paham Rafidhah, sedangkan warga Makkah umumnya pengikut madzhab Zaidiyah. Baiknya, kaum Zaidiyah tetap menghargai Abu Bakar dan 'Umar. Jeleknya, mereka lebih mengutamakan 'Ali daripada kedua sahabat tadi. Padahal 'Ali tidak lebih utama dari Abu Bakar dan 'Umar. Bahkan, mungkin tidak -lebih utama daripada 'Utsman, menurut paham Sunni yang benar dan sahih.[3]

Kehidupannya sering berpindah-pindah antara syam dan Irak. Pertama bertujuan mencari ilmu dan kedua mencari hak Ahlul bait dalam imamah. Zaid dikenal sebagai orang yang yang sangat bertaqwa, wara’, alim, mulia, ikhlas dan berani, selain rupanya tampana, gagah, takut kepada Allah dan aktif menekuni kitabullah dan sunnah Rasul-Nya.

Belajar ilmu dan riwayat dari kakak sulungnya, Muhammad baker yang dipandang sebagai salah seorang imam 12 menurut syi’ah imamiyah.

Abu Hanifah banyak berguru dan menimba ilmu yang banyak darinya, karya-karya Zaid yang terkenal antara lain Al Majmu’ Al Kabir, sebuah kitab yang berisi tentang kumpulan hadits dan fiqih, keduanya diriwayatkan oleh muridnya yang bernama  Abu Khalid Umar bin Kholid Al Wasithi Al Hasimi yang dikenal sangat setia kepadanya ia wafat pada abad ke-20.

Putranya yang beranama Yahya bin Zaid pernah bertempur bersama ayahnya, tapi ia sempat melarikan diri ke Kurosan dan dibunuh oleh umawiyah tahun 125 H.

Sepeninggal yahya, segala urusan diserahkan kepada Muhammad dan Ibrahim. Muhammad keluar dari Madinah dan dibunuh oleh Isa bin Mahan seorang pegawai dikota tersebut. Sedangkan Ibrahim keluar ke Bashrah dan ia terbunuh atas perintah Al MAnshur.

Ahmad bin Isa bin Zaid, cucu Zaid tinggal diirak dan belajar kepada murid-murid Abu Hanifah, Ia adalah orang yang terpengaruh oleh madzhab ini dan aktif mengembangkannya.


Kronologi Muculnya Aliran Syi’ah Zaidiyah



Kronologi muculnya aliran Syi’ah Zaidiyah, dimulai sejak peristiwa Karbala. Dengan meninggalnya Husain pada tanggal 10 Muharram 68 H (687 M), maka timbullah perpecahan. Mayoritas dari penganut Syi'ah, mengangkat ‘Ali Zain al-Abidin al-Sajjad (putera Husain) sebagai imam keempat. Sementara sebagian kecil dari mereka ada yang memilih Muhammad bin Hanafiah sebagai imam keempat. Kelompok terakhir ini disebut dengan Kaisaniyah.
Sepeninggal imam al-Sajjad (94 H), terjadi lagi perpecahan. Ada kelompok yang memilih Muhammad al-Baqir (putera al-Sajjad) sebagai imam kelima. Sementara itu ada pula kelompok yang memilih Zaid al-Syahid (putera al-Sajjad lainnya) sebagai imam kelima. Kelompok terakhir ini disebut dengan Syi’ah Zaidiyah, karena dinisbahkan kepada Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib. Ia dilahirkan pada tahun 80 H di Madinah dan wafat pada tahun 122 H.
Pada tahun 121 H (737 M), Zaid memberontak kepada khalifah Hisyam bin ‘Abd al-Malik (dari Dinasti Bani Umayyah), dan sekelompok masyarakat yang menyatakan bai’at kepadanya. Dalam pemberontakan tersebut, Zaid tewas di tangan pasukan khalifah.
Dalam perjalanan selanjutnya, Syi’ah Zaidiyah selalu mengalami tekanan dari pihak penguasa. Yahya bin Zaid yang diangkat sebagai imam keenam, memberontak kepada Khalifah Walid bin Yazid, yang pada akhirnya tewas. Setelah Yahya, Muhammad bin ‘Abd Allah dan Ibrahim bin ‘Abd Allah, mengangkat senjata melawan khalifah ‘Abbasiyyah, Manshur al-Dawaniqi, yang juga terbunuh.
Untuk beberapa waktu, Syi’ah Zaidiyah mengalami kegoncangan hingga munculnya Nazhir al-Urusy, salah seorang dari putra saudara Zaid di Khurasan. Oleh karena dikejar-kejar oleh penguasa, maka ia lari ke Mazandran (Tibristan) yang penduduknya belum bergama Islam. Setelah 13 tahun berdakwah, ia berhasil menarik sebagian besar penduduknya memeluk agama Islam yang beraliran Syi‘ah Zaidiyah. Kemudian pada tahun 301 H (913 M), dengan dukungan pengikutnya, ia berhasil menaklukkan daerah Mazandaran dan mengangkat dirinya sebagai imam.
Menurut ‘Ali ‘Abd al-Wahid Wafi, Syi’ah Zaidiyah adalah mazhab terbesar di Yaman Utara. Imam yang diikutinya adalah Yahya Hamid al-Din, salah seorang khalifah yang diyakininya sebagai keturunan Zaid. Selanjutnya keimaman itu berpindah kepada puteranya Ahmad, kemudian kepada puteranya al-Badr. Sampai saat ini, mayoritas penduduk Yaman Utara adalah pengikut Syi’ah Zaidiyah, terutama dari golongan terkemuka.

Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Ali Musthafa al-Gurabi, Tarikh al-Firaq al-Islamiyyah wa Nasy’ah ‘ilm al-Kalam, (Kairo : Muhammad ‘Ali Sabih, tth.). Ali ‘Abd al-Wahid Wafi, Gurabat al-Islam dan Aimmah al-Arba’ah wa al-Mazahib al-Islamiyyah al-Ukhra al-Baqiyyah wa al-Manq­dat, diterjemahkan oleh Rifyal Ka’bah dengan judul “Perkembangan Mazhab dalam Islam”, (Jakarta : Minaret, 1987).


abdkadiralhamid@2013

Subscribe to receive free email updates: