January 31, 2013

Kategori: ,

DARI GOLONGAN MANAKAH KITA.........??? (Renungan)


DARI GOLONGAN MANAKAH KITA.........??? 

(Renungan)


Sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Ibnu Majah dan Abu Dawud bahwa :"Bani Israil terpecah belah menjadi 72 Golongan dan ummatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, kesemuanya masuk nereka kecuali satu golongan". Kemudian para sahabat bertanya ; "Siapakah mereka itu wahai rasululloh?", lalu Rosululloh menjawab : "Mereka itu adalah Maa Ana 'Alaihi wa Ashabi" yakni mereka yang mengikuti apa saja yang aku lakukan dan juga dilakukan oleh para sahabatku.


Tentu saja di zaman Rasulullah belum ada perbedaan dalam pemahaman, belum ada pengelompokan2 atau golongan2 dalam islam. Sepeninggal Beliau, tepatnya pada perang shiffin, dgn kekalahan pihak sy Ali ibn abuthalib RA lewat taktik arbitase (tahkim) oleh kubu Muawiyyah, mulailah berkecamuk berbagai macam fitnah dan perselisihan faham yg didasari atas kepentingan2 masing2 agar bisa berada dalam lingkaran kekuasaan (pemerintahan), dan pemahaman mereka dalam soal aqidah sdh banyak tdk mengikuti Manhaj atau Thoriqah yg dilakukan oleh para sahabat. Fitnah2 dilancarkan dari berbagai kalangan/golongan, dimulai dari golongan Jabariah yg melegitimasi kepemimpinan Muawwiyah, Syiah yg secara umum dinisbatkan pengikut Sy. Ali RA, Khawarij pendukung Sy.Ali RA yg membelot (menolak tahkim), dan sejaln perkembangan zaman khawarij pecah dlm berbagai sekte, muncullah faham Murji’ah, Mu’tazilah dan Qadariah.

Dipihak Ahlulbait Rasulullah pun tak luput dari imbas fitnah2 yg dilancarkan dgn berbagai tekanan dan ancaman. Itulah yg mendasari niat suci dari seorang Al-Imam Ahmad bin Isa AlMuhajir beserta keluarganya berjumlah sekitar 70 org berangkat meninggalkan negerinya (iraq), berpindah2 dan akhirnya sampai ke hadramaut (yaman) untuk menghindari fitnah dan menyelamatkan aqidah suci dari datuknya Rasulullah (tariqah suci Ba 'alawy).

Kemudian muncul suatu komunitas yg awalnya dipelopori oleh Al Imam Abu Sa'ad Hasan ibn Hasan Yasar Al Bashri ( dikenal Hasan Albashri) yg mengembangkan aktifitas keagamaan yg bersifat kultural, ilmiah, dan berusaha mencari jalan kebenaran secara jernih, tdk mudah mengkafirkan, menghindari pertikaian politik antara berbagai faksi politik (firqah) yg berkembang ketika itu, yg diteruskan generasi2 ulama setelah Beliau spt : Abu hanifah (w.150.H)(Murid Al Imam Ja'far Assiddiq), Imam Malik ibn Anas (w. 179 H), Imam Syafi’i (w. 204 H), Ibn Kullab (w. 204 H), Ahmad Ibn Hanbal (w. 241 H), hingg tiba pada generasi Abu Hasan Al-Asy’ari (w 324 H) dan Abu Mansur al-Maturidi (w. 333 H). Kepada dua ulama terakhir inilah permulaan faham Aswaja sering dinisbatkan; meskipun bila ditelusuri secara teliti benih-benihnya telah tumbuh sejak dua abad sebelumnya. ASWAJA sebenarnya bukanlah madzhab tetapi hanyalah Manhajul Fikr (metodologi berfikir) atau faham saja yang didalamnya masih memuat banyak aliran dan madzhab.

Dalam bidang aqidah atau tauhid tercerminkan dalam rumusan yang digagas oleh Imam al-Asy’ari dan Imam al-Maturidi.Dalam masalah amaliyah badaniyah terwujudkan dengan mengikuti madzhab empat, yakni Madzhab al-Hanafi, Madzhab al-Maliki, Madzhab al-Syafi`i, dan Madzhab al-Hanbali.Bidang tashawwuf mengikuti Imam al-Junaid al-Baghdadi (w. 297 H/910 M) dan Imam al-Ghazali.Jika sekarang banyak kelompok yang mengaku sebagai penganut Ahlussunnah Wal-Jama’ah maka mereka harus membuktikannya dalam praktik keseharian bahwa ia benar-benar telah mengamalkan Sunnah rasul dan Sahabatnya.Dilingkunagn ASWAJA sendiri terdapat kesepakatan dan perbedaan. Namun perbedaan itu sebatas pada penerapan dari prinsip-prinsip yang disepakati karena adanya perbedaan dalam penafsiran sebagaimana dijelaskan dalam kitab Ushulul Fiqh dan Tafsirun Nushus. Perbedaan yang terjadi diantara kelompok Ahli Sunnah Wal Jama'ah tidaklah mengakibatkan keluar dari golongan ASWAJA sepanjang masih menggunakan metode yang disepakati sebagai Manhajul Jami' .ASWAJA sebenarnya bukanlah madzhab tetapi hanyalah Manhajul Fikr (metodologi berfikir) atau faham saja yang didalamnya masih memuat banyak aliran dan madzhab. Faham tersebut sangat lentur, fleksibel, tawassuth, I'tidal, tasamuh dan tawazun. Hal ini tercermin dari sikap Ahli Sunnah Wal Jama'ah yang mendahulukan Nash namun juga memberikan porsi yang longgar terhadap akal, tidak mengenal tatharruf (ekstrim), tidak kaku, tidak jumud (mandeg), tidak eksklusif, tidak elitis, tidak gampang mengkafirkan ahlul qiblat, tidak gampang membid'ahkan berbagai tradisi dan perkara baru yang muncul dalam semua aspek kehidupan, baik aqidah, muamalah, akhlaq, sosial, politik, budaya dan lain-lain.Adapun kelompok yang keluar dari garis yang disepakati dalam menggunakan Manhajul jami' yaitu metode yang diwariskan oleh oleh para sahabat dan tabi'in juga tidak boleh secara serta merta mengkafirkan mereka sepanjang mereka masih mengakui pokok-pokok ajaran Islam, tetapi sebagian ulama menempatkan kelompok ini sebagai Ahlil Bid'ah atau Ahlil Fusuq.

Apabila anda perhatikan dengan fikiran yang sehat dan hati yang bersih nash-nash (teks-teks) Al Qur’an dan Sunnah yang berhubungan dengan keimanan, kemudian anda pelajari perilaku para Salaf baik Sahabat maupun Tabi’in maka anda akan tahu dan yakin bahwa kebenaran akan berada di fihak mereka yang terkenal dengan sebutan Al­-Asy’ariyah, yang pengikut Abul Hasan Al-Asy’ari, yang telah menyusun kaidah-kaidah (keyakinan) golongan yang berada di pihak yang benar serta telah meneliti dalil ­dalilnya. Itu pulalah aqidah yangtelah disepakati oleh para Sahabat nabi serta generasi­ generasi berikutnya dan para Tabi’in yang saleh dan itu pulalah agidah orang-orang yang mengikuti kebenaran di mana saja dan kapan saja. Aqidah dan keyakinan itu juga dianut oleh semua ulama Tasawuf, seperti diriwayatkan oleh Abul Qasim Al-Qusyairi dalam risalahnya.

Dalam beberapa pasal dalam kitabnya, Al-Imam Al-‘Aydarusmenegaskan : “Aqidah yang kita anut adalah aqidah Asy’ariyah dan madzhah kita dalam Fiqh (hukum-hukum Agama) adalah Madzhab Syafi’i, sesuai dengan Kitab Allah (Al Qur’an) serta Sunnah Rasul Allah”. inilah bukti kebenaran golongan aswaja di mata ba'alawy........yang menjadi pertanyaan sekarang :

DARI GOLONGAN MANAKAH KITA.........???


Semoga ada manfaatnya, jk ada kekurangan dan kesalahan itu semua dr saya dan mohon dikoreksi !!!!......


Abdkadiralhamid

0 komentar:

Post a Comment