Home » » Keutamaan Bismillah
Home » » Keutamaan Bismillah

Keutamaan Bismillah

Written By Abdkadir Alhamid on October 13, 2012 | 21:45

Bismillah

Oleh: Sadullah
Setelah bacaan syahadat, frasa penting dan yang sering diucapkan oleh seorang Muslim adalah bismillahirrahmanirrahim. Bacaan basmalah sejak awal menempati posisi penting dalam keyakinan dan ibadah setiap Muslim.

 

Tujuan Basmalah 

Salah satu dari sekian banyak kebaikan dalam ajaran Islam adalah bahwa seseorang harus mengawali setiap kegiatannya atas nama Allah. Mengingat Allah sebelum memulai suatu pekerjaan merupakan bagian pengakuan awal bahwa segalanya adalah ciptaan Allah dan bahwa aktivitas apapun yang akan dikerjakan telah diridhai oleh-Nya sehingga hal ini akan membangun derajat  kesadaran dan rasa syukur pada Sang Pencipta. Jika basmalah secara sadar diterapkan, ia dapat mencegah perilaku yang salah sehingga hal ini dapat dihindari, dan menyakinkan seseorang bahwa niat dan orientasi mental dirinya adalah baik. Sebagai tambahan, ketika seseorang membaca basmalah, ia menyebut nama Allah,dan karenanya atas kemuliaan, kesempurnaan, keagungan dan rahmat Allah, perbuatan yang ia kerjakan akan memperolah berkah serta terlindung dari gangguan setan.

Kedudukan bacaan basmalah 

Para ulama menyepakati hal-hal di bawah ini:
  • Basmalah adalah sebuah ayat al-Quran
  • Ia merupakan bagian dari sebuah ayat dari Surat an-Naml (QS 27:30)
  • Ia tidak dibaca dalam surat at-Taubah
  • Ia merupakan bagian dari Surat al-Fatihah menurut seluruh tujuh Imam Qiraat (yaitu Imams ‘Asim, Kisa’i, Nafi’, Abu ‘Amru, Ibn ‘Amir, Ibn Kathir and Hamzah) dan berdasarkan mazhab of Shafi’i, Zaydi, Zahiri, ‘Ibadi and Ja’fari. Sementara mazhab Hanafi, Maliki and Hanbali memiliki pendapat yang berbeda.

Pentingnya bacaan basmalah

Ayat pertama dalam al-Quran adalah: Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. (QS: 96:1). Dalam Perjanjian lama (Ulangan: 18:18) kita mendapati isinya: “Maka pada masa itu berfirmanlah Allah kepadaku, benarlah perkataan  mereka itu. Bahwa Aku akan menjadikan bagi mereka itu seorang Nabi  diantara  segala  saudara-saudaranya yang seperti  engkau  ya  Musa.dan Aku akan memberikan segala firmanKu dalam mulutnya dan  iapun  akan  mengatakan  segala yang Kusuruh akan dia.”
Karena Nabi Muhammad dibesarkan seperti nabi Musa (Quran), maka dalam rangka pemenuhan janji di atas maka Allah menetapkan bahwa setiap kali sebuah surat baru diturunkan, surat tersebut selalu dimulai dengan kalimat: Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Nabi Muhammad SAW sendiri pernah bersabda: “ Tiap-tiap pekerjaan penting yang tidak dimulai dengan bismillah, maka pekerjaan itu terputus (kurang berkah).” (Riwayat Abu Dawud). Bacaan Basmalah mengawali surat al-Fatihah dan karenanya menjadi pembuka seluruh al-Quran.
Allah SWT menggambarkan diri-Nya melalui sifat-sifat-Nya. Sifat-sifat Allah merupakan sarana bagi kita mengenal diri-Nya. Dalam hal ini, Allah tidak hanya memperkenalkan al-Quran melainkan juga memperkenalkan diri-Nya sendiri. Bacaan basmalah merupakan ujaran dari yang Maha Agung dengan menyebut Nama-Nya (Allah) yang diikuti oleh dua dari Asmaul Husna (al-Rahman dan al-Rahim) yang pada dasarnya merupakan dua sifat Allah yang paling utama. Bacaan basmalah ini menggambarkan hubungan antara sang Pencipta dan makhluk-Nya dalam sebuah kalimat ringkas – hubungan yang penuh cinta, kasih, kepedulian, simpati,  kebaikan, dan ampunan.
Secara harfiah, bismillah berarti “Dengan menyebut nama Allah”, “Atas nama Allah”, “melalui bimbingan dan berkah dari Allah”.
Tiga bagian frasa ini adalah B, Ism dan Allah.
B” dapat berarti “dalam”, “dengan” atau “melalui”.
Ism” berarti nama. Nama diberikan kepada suatu objek dalam rangka memberi tanda yang dengannya objek tersebut dapat dikenal dan dibedakan dari yang lainnya. Ketika kata “Ism” digunakan dalam hubungannya dengan sang Pencipta, hal ini menandai sebuah Sifat Tuhan yang inheren. Berdasarkan al-Quran, Allah memiliki nama-nama yang paling indah (Asmaul Husna), dan berdasarkan sabda Nabi SAW Allah memiliki 99 nama. Semua sifat dan nama-nama ini begitu penting karena kita mengenal Tuhan melaluinya. Penting untuk digaris bawahi bahwa tidak ada satu sifat atau satu nama pun yang saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Allah begitu Pengasih dan Penyayang terhadap seluruh makhluk-Nya; karenanya esensi dari semua sifat-Nya tidak lepas satu sama lain. Seluruh nama dan sifat-Nya berperan serta dalam semua keberadan-Nya melalui kesatuan Esensi-Nya. Seluruh nama-Nya yang suci menandakan keberadaan Esensi suci-Nya.
Allah“- Kata ini merupakan kata ganti par excellence. Kata ini menunjuk pada seluruh sifat yang sempurna dan mengacu hanya pada yang Maha Tunggal. Kata  “Allah” merupakan nama Tuhan yang paling menyeluruh.
Kata Rahman dan Rahim keduanya diturunkan dari akar kata RHM, yang menunjukkan kelembutan, kasih, kepedulian, dan cinta. Dalam al-Quran, Allah berfirman: “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” (QS: 7:156) untuk menggambarkan intensitas dan keluasan kasih sayang-Nya, dua bentuk kata Rahmah ini digunakan saling bersandingan, dan dalam surat al-Fatihah ia diulang pada ayat ketiga sebagai satu ayat tersendiri. Dan faktanya, tidak ada sifat-sifat Allah yang paling sering ditekankan dalam al-Quran (lebih dari 300 kali) selain sifat Rahmah ini.
Sejak awal sekali seseorang mempelajari teks suci al-Quran, ia langsung dituntun pada kesadaran akan sang pencipta, diyakinkan akan keberadan-Nya serta diingatkan akan kasih dan sayang-Nya yang tiada terbatas.
Bacaan basmalah mengawali “pembuka al-Kitab” (al-fatihah) dan karenanya menandai pembukaan Komunikasi Tuhan yang Terakhir dengan hamba-Nya.

Sumber: ICOI

Malam Lailatul Qadar

Posted by admin - 23 Juli 2012 - Da'i dan Dakwah, Ilmu Al Quran dan Tafsir, Ramadhan
0
lailatul qadar
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تَحَرَّوْا لَيْلَةَ اْلقَدْرِ فِي اْلوِتْرِ مِنَ اْلعَشْرِاْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ صحيح البخاري
Rasulullah SAW bersabda :
“ Temuilah malam Lailatul qadr di malam ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan “ (Shahih Bukhari)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِاْلَحَمْدلُلهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ ياَمَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وعَلىَ أَلِهِ الحَمْدُلِله الَّذِيْ جَمَعَنَا، الحَمْدُلِله الَّذِيْ أَكْرَمَنَا، الحَمْدُلِله الَّذِيْ وَعَدَنَا بِاْلمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ..
Limpahan puji ke hadirat Allah Maha Raja langit dan bumi, Penguasa tunggal Maha Sempurna dan Abadi Rabbul ‘Alamin Yang Maha Luhur dan Maha Suci dan Maha mensucikan jiwa dan sanubarihamba-hambaNya, Maha menyingkirkan segenap kesulitan dan musibah bagi hamba-hambaNya, dan Maha mampu melimpahkan kebahagiaan dunia dan akhirat bagi yang dikehendakiNya, beruntunglah mereka yang selalu memperbanyak doa dan munajat memanggil namaNya Yang Maha Luhur. Karena setiap seruan panggilan ke hadirat Allah, memanggil nama Allah, akan abadi dan akan sampai ke hadirat Allah Jalla Wa ‘Alaa. Di Yamul Mahsyar (hari perkumpulan seluruh manusia), Allah SWT akan mengenal bibir-bibir yang selalu memanggil namaNya , Firman Allah dalam hadits qudsy :
أَنَا مَعَ عَبْدِيْ حَيْثُمَا ذَكَرَنِيْ وَتَحَرَّكَتْ بِيْ شَفَتَاهُ
“Aku bersama hambaKu ketika hambaKu mengingatKu, dan bergetar bibirnya menyebut namaKu “. Dan Allah SWT berfirman :
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّكُمْ يَرْشُدُوْنَ  — البقرة :186
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” ( QS. Al-Baqarah: 186).
“ Wahai Muhammad, katakanlah kepada hamba-hambaKu jika mereka bertanya tentang dzatKu ini, katakanlah bahwa Tuhan mu dekat إِنِّيْ قَرِيْبٌ “ Sungguh Aku (Allah) Maha dekat “, lebih dekat kepadanya dari semua yang dekat padanya, sebelum ia mengenal satu pun dari teman dan kerabatnya, sebelum ia mengenal ayah dan ibunya, Allah telah Maha dekat dan mengenalnya sebelum ia lahir ke muka bumi, selama namanya telah dicipta dan ditaruh di sulbi nabiyullah Adam AS, إِنِّيْ قَرِيْبٌ Akulah (Allah) Yang Maha dekat kepadanya, dan Maha menawarkan kedekatanNya yang abadi setelah kehidupan di muka bumi. Semoga aku dan kalian selalu menerima lamaran kedekatan Allah Jalla Wa ‘Alaa dunia wal akhirah, dan semoga Allah memberi kemudahan bagiku dan kalian untuk selalu dalam keluhuran cahaya kedekatan ke hadirat Allah. Jangan selalu berputus asa berdoa dan bermunajat jika kita merasa lemah dan rentan maka berdoalah karena Allah membimbing mu dan mempermudah mu membuka jalan kemudahan untuk sampai kepada pintu-pintu keluhuran dan kesucian hidup, yang dengan itu kita sampai kepada rahasia kebahagiaan yang kekal, keridhaan Allah, cinta Allah, kasih sayang Allah. Betapa beruntung mereka yang menerima lamaran Allah untuk dapat menjadi pencintaNya, dan betapa ruginya mereka dengan segala apa yang mereka lewati dalam kehidupan di muka bumi, jika mereka lepas dan menolak lamaran Allah untuk menjadi kekasihNya. Firman Allah dalam hadits qudsy :
مَنْ أَحَبَّ لِقَائِيْ أَحْبَبْتُ لِقَائَهُ
“ Barangsiapa yang rindu berjumpa dengan Ku (Allah), Aku pun rindu berjumpa dengannya”.
Hadirin hadirat…demikian kasih sayang dan kerinduan yang ditawarkan pada jiwa yang mau rindu kepada Yang Maha menawarkan kebahagiaan yang kekal …ALLAH. Renungi kalimat agung dan luhur dari Rabbul ‘Alamin : “ Barangsiapa yang rindu berjumpa dengan Allah, Allah pun rindu berjumpa dengannya”. Alangkah indah hari-hari seorang hamba, ia lewati hari-hari nya dan ia dirindukan Allah. Semoga aku dan kalian diterangi jiwa kita dengan cahaya kerinduan berjumpa dengan Yang Maha Indah, dengan pencipta kita dari tiada, dengan Yang Maha Dermawan dan menyingkirkan kita dari segala kesulitan dan musibah, demi cahaya kerinduan ke hadirat Allah Ya Zal Jalaali Wal Ikram. Sampailah kita di hari yang mulia ini 17 Ramadhan yang mengingatkan kita kepada peristiwa Badr Al Kubra, dimana diterangkannya bendera pembela Sang Nabi SAW, pertama kali ketika beliau SAW berhadapan dengan kaum Muhajirin dan Anshar di Madinah Al Munawwarah sebelum menuju Badr Al Kubra, maka di saat itulah wajah yang paling ramah, wajah yang paling indah, wajah yang dikatakan oleh Sayyidina Anas bin Malik :
مَارَأَيْنَا مَنْظَرًا أَعْجَبُ مِنْ وَجْهِ النَّبِي
“ Tidak ada pemandangan kutemukan lebih indah dari wajah Sang Nabi (saw), lebih menakjubkan dari wajah Sang Nabi”. Ketika berdiri kaum muhajirin dan anshar menghadap wajah yang paling mulia, wajah yang paling sopan, wajah yang paling berkasih sayang dari seluruh makhluk Allah, wajah yang dikatakan oleh Allah :
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ — القلم : 4
“ Sungguh engkau (Muhammad) memiliki akhlak yang agung”.( QS.Al Qalam : 4) Wajah yang selalu menjawab cinta dari semua umat bahkan dari benda mati, demikian Sayyidina Nabi Muhammad SAW. Maka Rasulullah SAW berkata :“ bagaimana pendapat kalian “ ?, maka berkata salah seorang Anshar :
لَكَأَنَّكَ تُرِيْدُ مِنَّا يَارَسُولَ اللهِ ؟
“ Ya Rasulullah tampaknya engkau menunggu pendapat kami”?, maka Rasul SAW berkata : betul, bagaimana pendapat kalian wahai kaum Anshar? , maka salah satu kaum Anshar berkata :
يَارَسُولَ اللهِ اِمْضِ بِنَا لِمَا أَرَدْتَ فَنَحْنُ مَعَكَ, لَوْ اسْتَعْرَضْتَ بِنَا هَذَا اْلبَحْرَ فَخَضْتَهُ لَخَضْنَاهُ مَعَكَ مَا تَخَلَّفَ مِنَّا رَجُلٌ وَاحِدٌ لَعَلَّ اللهُ يُرِيْكَ مِنَّا مَا تَقَرَّ بِهِ عَيْنُكَ
“ Wahai Rasul, kami akan ikut bersamamu kemanapun engkau pergi , jika engkau mengajak kami kemanapun kami akan ikut, jika engkau berdiri di depan lautan lalu masuk ke dasar lautan, kami akan ikut dan tidak akan tersisa satu pun dari kami kecuali ikut denganmu, barangkali dengan itu kami bisa menggembirakan hatimu wahai Rasulullah”.
Inilah tujuan Muhajirin dan Anshar yang selalu ingin menggembirakan hati Nabi Muhammad SAW, mereka rela mati kesemuanya demi menggembirakan hati Muhammad Rasulullah SAW,
فَسُرَّ وَجْهُ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ,
maka terlihat terang benderang dan gembira wajah Rasul SAW, maka mereka pun berangkat.
Hadirin hadirat… malam 17 Ramadhan malam munajat , Sang Nabi berdoa kehadirat Allah terangkat kedua tangannya hingga jatuh ridanya (rida : sorban dipundak)dari panjangnya doa beliau, diantara doa beliau SAW riwayat Shahih Al Bukhari :
اَللَّهُمَّ إِنْ تَشَأْ لَا تُعْبَدُ بَعْدَ اْليَوْمِ …
“ Wahai Allah aku risau kalau seandainya kelompok kecil kami ini kalah orang-orang yang banyak tidak siap berperang, senjata terbatas tidak mampu berbuat apa-apa, kalau sampai kalah kelompok ini dan habis di bantai,
لَا تُعْبَدُ بَعْدَ اْليَوْمِ
aku risau tidak ada yang menyembah Mu di muka bumi, karena seluruh orang-orang para da’i, para pembela Sang Nabi kumpul di Badr, kalau semuanya di bantai maka habislah, tinggallah Dhu’afaa’ (orang-orang lemah) di Makkah dan kaum wanita di Madinah, maka setelah ini jangan-jangan tidak ada lagi yang menyembahMu kalau sampai kelompok ini kalah. Demikian risaunya Sang Nabi, beliau mempunyai jiwa yang risau, paling risau sesuatu menimpa umat nya inilah jiwa Sayyidina Muhammad, inilah jiwa yang Allah katakan :
لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ  — التوبة : 128
“ Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari jenis kalian sendiri, yang sangat menjaga kalian dan sangat berat memikirkan apa yang menimpa kalian, dan sangat santun dan berkasih sayang terhadap orang-orang yang beriman”. ( QS. At Taubah : 128)
Inilah Sayyidina Muhammad SAW yang berdoa :
اَللَّهُمَّ ثَقِّلْ عَلَيَّ مَوْتِيْ وَخَفِّفْ عَلَى أُمَّتِيْ
Sampai di saat musibah yang paling dahsyat di dunia ini, yaitu sakaratul maut seraya berdoa kepada Allah di saat beliau akan wafat “ Ya Allah keraskan dan pedihkan sakaratul mautku dan ringankan untuk seluruh umatku ‘’. Inilah doa Sayyidina Muhammad SAW, rela menerima kepedihan sakaratul maut demi teringankan untuk umatnya. Maka, hadirin hadirat…satu-satunya jiwa yang paling tidak tega melihat umatnya merintih di dalam api neraka karena berdosa beliau bersujud untuk memohonkan syafaat untuk para pendosa, inilah Muhammad Rasulullah SAW pimpinan Ahlul Badr. Maka mereka keluar dengan dua bendera hitam, satu bendera di tangan Muhajirin satu bendera di tangan Anshar. Bendera Muhajirin di tangan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu wajhah RA, dan satu bendera di tangan kaum Anshar. Dan Rasulullah SAW berkata janganlah kalian menyerang mereka sebelum mereka menyerang kalian, jangan ada yang bergerak dan berbuat sesuatu sebelum mereka terlebih dahulu berbuat dan menyerang kita. Jumlah 313 orang, senjata tidak lengkap menghadapi 3000 pasukan musyrikin quraisy dengan senjata lengkap dan kuda, pakai baju besi, topi besi, senjata, pedang, siap tempurnya dengan pasukan kuda yang berlapis baja pula, berhadapan dengan pasukan 313 orang, berapa puluh yang punya pedang, lainnya bawa tombak, lainnya cuma punya panah, lainnya hanya bawa tongkat, dan yang lainnya membawa batu dan alat tani, inilah keadaan mereka. Allah berfirman :
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ — الأنفال : 9
“ Jika kalian berdoa dan bermunajat meminta pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankanNya bagimu, sesungguhnya Aku (Allah) akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”. (QS.Al Anfal : 9)
Berkata Abu Sa’id dari kaum Anshar, aku buta sejak perang Badr kalau seandainya aku tidak buta, aku bisa perlihatkan kalian dimana turunnya pasukan malaikat dari belahan langit di wilayah Badr, karena kejadian itu terjadi di wilayah yang dinamakan Badr tahun ke-2 Hijriah pada hari Jum’at 17 Ramadhan.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Demikian indahnya peperangan Badr Al Kubra ini, ketika Sayyidina Abu Thalhah Al Anshari RA yang sangat mencintai Sang Nabi SAW, yang berlutut di tengah-tengah peperangan seraya berkata kepada Rasulullah :
وَجْهِيْ لِوَجْهِكَ اْلوِقَاءُ وَنَفْسِيَ لِنَفْسِكَ اْلفِدَاءُ
“ Wajahku ini siap menjadi tameng bagi segala serangan di wajahmu ya rasul, jiwa dan ragaku siap untuk membentengimu wahai Nabi dari segala panah dan senjata “. Maka orang seperti Abu Thalhah ini kata Rasul : Abu Thalhah ka alf min ummati ( Abu Thalhah seperti 1000 orang kekuatannya dalam umatku ). Demikian keadaan para pencinta Rasul SAW yang mempunyai kekuatan yang demikian dahsyat . Diriwayatkan bahwa Abu Thalhah ini di dalam peperangan Badr pedangnya jatuh karena kantuknya, karena sepanjang malam qiyamul lail di saat perang terjatuh pedangnya, bagaimana manusia perang dengan hawa nafsu, kalau ia perang dengan hawa nafsu tentunya ia tidak akan bisa memejamkan mata sekejap pun dari melihat serangan pedang 3000 orang pasukan kuffar quraisy dengan senjata lengkap masih bisa terkantuk-kantuk, menunjukkan mereka memang mempunyai jiwa-jiwa yang suci dan damai, bahkan Sang Nabi mengatakan “ jangan menyerang sebelum mereka menyerang”. Demikian hadirin hadirat, manusia yang paling tidak menghendaki permusuhan walau terhadap orang-orang yang paling jahat memusuhi beliau, bahkan pada saat perang Uhud ketika panah besi menembus rahang beliau, dan beliau SAW roboh maka saat itu berdiri Sayyidina Abu Thalhah di depan beliau, dan Rasul berdiri lagi untuk melihat keadaan pasukannya yang kacau balau karena diserang kaum kuffar, maka Abu Thalhah berkata ; tetap duduk wahai Rasul jangan berdiri sungguh …
وَجْهِيْ لَيْسَ بِوَجْهِكَ وَصَدْرِيْ لَيْسَ بِصَدْرِكَ
( wajahku bukan wajahmu dadaku bukan dadamu ), biar aku yang kena serangan panah jangan engkau kena serangan lagi, tetap di tempatmu wahai Rasul. Dan Rasul sudah mengalir darah, karena panah besi menghantam dari pada perisai baja yang ada di tangan Sang Nabi dan sedemikian kerasnya sampai menembus baja tersebut dan menembus tulang rahang beliau. Maka Sayyidatuna Fathimah Az Zahra’ RA dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari datang kepada Nabi dan membersihkan darah yang mengalir dari wajah beliau. Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari menjelaskan bahwa Rasul memegang ridanya (rida : sorban dipundak yg sering juga dililitkan dileher oleh beliau saw), menahan jangan sampai darah jatuh ke tanah, maka para Shahabat berkata biar dulu darahnya jatuh ke tanah wahai Rasul, kita urus panah besi di rahangmu masih menempel, maka Rasul berkata kalau ada darah dari wajahku jatuh ke tanah, Allah akan tumpahkan bala’ untuk mereka, maka Rasul tidak ingin bala’ ini tumpah pada mereka yang memerangi beliau, inilah Sayyidina Muhammad SAW . Panah besi menembus rahang beliau, beliau masih sibuk menjaga jangan sampai setetes darah jatuh ke tanah, karena nanti Allah akan murka kalau sampai ada setetes darah dari wajahku jatuh ke bumi, Allah akan menumpahkan bala’ untuk mereka, Rasul masih ingin mereka masuk Islam lalu keterunannya mendapat hidayah, demikian manusia yang paling indah Sayyidina Muhammad SAW. Perang Badr berakhir dengan kemenangan.
Hadirin…Sayyidina Utsman bin Affan RA, yang saat akan berangkat ke Badr terkena musibah karena istrinya sakit. Sayyidina Utsman mau meninggalkan istrinya namun ia tidak berani karena istrinya adalah putri Rasulullah SAW, baginya peperangan Badr belakangan, ini putri Sayyidina Muhammad SAW. Maka Sayyidina Utsman berkata : Ya Rasulullah, putrimu sakit aku mohon ijin. Maka Rasulullah berkata : Kau tetap jaga putriku. Selesai perang Badr, maka Rasulullah saw bersabda, Allah telah berfirman kepada Ahlul Badr dalam hadits qudsy riwayat Shahih Bukhari :
اِعْمَلُوْا مَا شِئْتُمْ يَاأَهْلَ اْلبَدْرِ قَدْ غَفَرَ اللهُ ذُنُوْبَكُمْ مَاتَقَدَّمَ وَمَا تَأَخَّرَ
“ Beramallah semau kalian wahai ahlul Badr, karena Allah telah mengampuni dosa kalian yang telah lalu dan yang akan datang “. Maka Sayyidina Utsman berkata : Ya (Wahai) Rasulullah, aku tidak hadir perang Badr, aku menjaga putrimu. Maka Rasulullah berkata : Kau dapat pahala Badr, dan kau dalam kelompok Ahlul Badr. Demikian hadirin hadirat, karena beliau ( Sayyidina Utsman ) menjaga putri Rasul, mengorbankan hadir dari perang Badr maka Allah memberikan baginya pahala kemuliaan Badr Al Kubra, Sayyidina Utsman RA.
Hadirin hadirat yang di muliakan Allah…
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, maka Khalifah Abu Bakar As Shiddiq RA memegang khilafah, lantas terjadi pemberontakan di beberapa wilayah yang tidak menerima kepemimpinan Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq RA, diantaranya Ahlul Yaman. Yaman masuk Islam di tangan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu wajhah, demikian riwayat Sirah Ibn Hisyam. Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, dan Sayyidina Muadz bin Jabal RA dikirim oleh Rasul saw ke Yaman. Sayyidina Muadz menuju ke Yaman bagian utara, dan Sayyidina Ali menuju ke Yaman bagian Selatan ( Hadramaut ). Setelah mereka ( penduduk Yaman ) masuk Islam, maka kembalilah Sayyidina Ali dan Sayyidina Muadz bin Jabal RA. Namun setelah kepemimpinan Khalifah Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA, terjadi pemberontakan disana-sini diantaranya di Yaman dan juga di Hadramaut. Dari kota Tarim, penguasa kota Tarim saat itu Sultannya mengirim surat kepada Khalifah Abu Bakr As Shiddiq RA untuk meminta bantuan pasukan dari Madinah, karena banyaknya orang yang menolak kepemimpinan Abu Bakr As Shiddiq RA. Maka Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq mengirim beberapa banyak Sahabat, diantaranya mereka Ahlul Badr. Ahlul Badr tentunya tidak semuanya wafat, maka dikirim diantaranya Ahlul Badr menuju Tarim Hadramaut. Di kota Tarim tempat guru mulia kita dan para Salafus Shalih, disana terdapat yang di sebut Jabal Khailah , yaitu gunung kuda artinya, kenapa disebut gunung kuda? Karena dari gunung itulah turunnya pasukan para Sahabat dari Madinah Al Munawwarah ketika datang dari perintah Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA menuju kota Tarim. Maka dikatakan jarak terdekat kalau dengan menaiki kuda menuju Madinah dari kota Tarim adalah lewat Jabal Khailah, dari situlah turunnya pasukan Sahabat datang menuju kota Tarim. Mereka bersatu dengan penduduk Tarim untuk membela kepemimpinan Abu Bakr As Shiddiq RA, lantas diantara Ahlul Badr ada yang mati syahid di kota Tarim, dimakamkan dan sampai sekarang ada makam Ahlul Badr di kota Tarim di pekuburan Zanbal .
Hadirin…selesailah permasalahan Khalifah Abu Bakr As Shiddiq, Sayyidina Umar, Sayyidina Utsman , Sayyidina Ali, berlanjut muslimin terjadi permasalahan diantara Khalifah, dan setelah wafatnya Khulafaa Ar Rasyidin, hingga Al Imam Ahmad Al Muhajir pindah ke Baghdad, keturunan Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, keturunan Sayyidatna Fathimah Az Zahra’ RA, keturunan Rasulullah SAW. Al Imam Ahmad Al Muhajir di Baghdad dan kemudian mendapat banyak permasalahan dan fitnah serta perpecahan di antara kaum Muslimin, maka Al Imam Ahmad Al Muhajir mengajak beberapa rombongan keluarganya hijrah ke kota Tarim Hadramaut, ke tempat makam Ahlul Badr dan para pembela Abu Bakr As Shiddiq RA . Wafat Al Imam Ahmad Al Muhajir di wilayah Hadramaut dan dimakamkan disana, lalu keturunannya di antaranya Al Imam Ali bin ‘Alwy Khali’ Qasam AR (alaihi rahmatulllah : semoga atasnya Rahmat Allah swt), seorang Hujjatul Islam yang kemudian berwasiat untuk dimakamkan di sebelah perkuburan Ahlul Badr, dan ia mewakafkan tanah yang di sebut perkuburan Zanbal untuk para keturunannya, hingga saat ini para imam-imam besar banyak sekali dimakamkan di perkuburan itu mengambil tabarruk untuk berdekatan dengan sahabat Ahlul Badr RA .
Ketika Al Imam Ahmad Al Muhajir ingin pindah ke Yaman Hadramaut, sebagian Ulama’ di Baghdad berkata : Wahai Imam, kau mau kemana?, kau ini Imam Ahlul Bait mau pindah ke Hadramaut tempat yang tandus tidak ada sesuatu!? Al Imam berkata: Aku ingin menjaga keturunanku dari fitnah dan dari bencana permusuhan, maka ia pun berangkat ke Hadramaut tanah yang tandus yang tidak ada padanya kecuali baduwi-baduwi (orang orang dusun), dan diantara bagian besar adalah padang pasir.
Namun, cahaya semangat Al Imam Ahmad Al Muhajir tidak padam dan tidak berhenti di Hadramaut, cahaya kecintaannya yang berpadu dengan para pencinta Khalifah Abu Bakr As Shiddiq RA di kota Tarim Hadramaut dari dakwahnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah berkelanjutan, sampailah datang sembilan orang mulia ke pulau Jawa yang keluar dari keturunan Al Imam Ahmad Al Muhajir bin Isa menuju Gujarat lantas sampai ke pulau Jawa, maka dari ujung Banyuwangi hingga ujung kulon ini rata dengan Kalimat Tauhid. Dari kemuliaan persatuan antara Ahlul Bait dan Sahabat Rasul SAW, mereka sembilan orang ini datang tidak membawa senjata, tidak membawa pasukan, tidak membawa sesuatu bahkan bahasa pun mereka tidak tahu. Tapi mereka membawa semangat keberkahan Ahlul Badr, dan mereka membawa semangat cinta kepada Sayyidina Muhammad SAW.
Ternyata dari sembilan orang mulia ini (wali songo), Allah memberikan keberkahan yang sangat luhur sampai jadilah Indonesia negeri Muslimin terbesar di muka bumi. Demikian hadirin hadirat kemuliaan silsilah yang sangat mulia ini, sampailah kabar agung ini kepada kita Muslimin Muslimat di malam hari ini. Semoga aku dan kalian selalu bersama kemuliaan Ahlul Badr dunia dan akhirat.
اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
( seseorang bersama dengan orang yang dicintainya ).
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Sampailah kita di malam-malam agung di hadapan sepuluh malam terakhir Ramadhan, malam-malam yang penuh dengan cahaya keluhuran, malam-malam yang penuh dengan cahaya kebahagiaan dan kasih sayang Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, meneruskan dari keagungan firman Allah :
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِيْ لَيْلَةِ اْلقَدْرِ¤ وَمَاأَدْرَىكَ مَا لَيْلَةُ اْلقَدْرِ ¤ لَيْلَةُ اْلقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ¤ تَنَزَّلُ اْلمَلاَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ¤ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ اْلفَجْرِ ¤  — القدر : 1-5
Allah memberikan kemuliaan Lailatul Qadr di bulan Ramadhan, Allah befirman “ Bahwa Lailatul Qadr itu lebih mulia daripada seribu bulan, dan di saat itu diturunkan para Malaikat maksudnya untuk membawa rahmah, dan juga malikat Jibril AS, karena yang disebut “ اَلرُّوْحُ “ dalam ayat itu sebagian besar Mufassir mengatakan adalah Jibril AS, turun ke bumi bersama jutaan milyar malaikat yang tidak terhitung untuk membawa rahmat Allah di malam itu”.
Hadirin hadirat..dan ketahuilah bahwa Lailatul Qadr bukanlah satu dua detik, sebagian orang memahami Lailatul Qadr itu satu dua detik saja, Lailatul Qadr itu sepanjang malam di malam itu. Malamnya yang mana ? sekarang kita bahas, jadi yang ibadah di malam itu dikalikan seribu bulan, kira-kira 83 tahun. 1000 bulan itu kalau dibagikan kira-kira 83 tahun, itu hadiah untuk seluruh umat Nabi Muhammad SAW setiap tahunnya, asalkan mereka ibadah apapun di malam itu sampai terbitnya matahari di Lailatul Qadr, maka saat itu mereka mendapat pahala dikalikan 1000 bulan. Kalau cuma shalat isya’ saja seakan ia shalat Isya selama seribu bulan, kalau ia Tarawih 20 rakaat, berarti ia bersujud 40 kali di dalam setiap malam dalam 1000 bulan, kalau ia memakai siwak kalikan 70 kali lipat, kalau ia berjamaah kalikan 27 kali lipat, karena di bulan Ramadhan lebih dari 700 kali lipat kalikan 1000 bulan, MasyaAllah!!!
Lantas Rasul SAW diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari Rasul SAW beri’tikaf di 10 hari malam pertama bulan Ramadhan, maka datanglah malaikat Jibril AS dan berkata : “Wahai Rasul SAW yang kau kehendaki itu masih di depan”. Rasul menantikan malam Lailatul Qadr, masih di depan maksudnya masih nanti. Rasul SAW beri’tikaf lagi sampai 10 hari yang kedua, jadi 20 hari Rasul I’tikaf. Maka Jibril AS berkata : “Ya Rasululallah yang engkau mau itu di depanmu”, maksudnya 10 hari malam terakhir. Maka keesokan harinya Rasul berkhutbah ,pagi tanggal 20 Ramadhan Rasul SAW memanggil para Sahabat dan menyampaikan taushiah bahwa sungguh Allah SWT menentukan malam Lailatul Qadr aku melihatnya di dalam mimpiku, aku bersujud dalam keadaan tanah ini membasah yaitu gerimis.
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ اْلقَدْرِ فِي اْلوِتْرِ مِنَ اْلعَشْرِاْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“ Carilah malam Lailatul Qadr itu di sepuluh malam terakhir” kata Rasul SAW, itu tanggal 20 Ramadhan, malamnya terjadi gerimis shubuh itu Rasulullah sujud para Sahabat melihat di dahinya ada bekas lumpur dari sujud, khutbah beliau kemarin menunjukkan malam Lailatul Qadr malam 21 di saat itu.
Namun Rasulullah SAW bersabda di dalam hadits yang kita baca tadi “ Carilah kemuliaan Lailatul Qadr itu di sepuluh malam terakhir di malam ganjilnya”, jadi malam 21, malam 23, malam 25, malam 27, malam 29 ada lima malam untuk kita, di situ Rasulullah SAW mengatakan inilah malam-malam kemungkinan datangnya Lailatul Qadr. Jadi memperbanyak ibadah bagusnya di setiap malam Ramadhan, malam kesatu, malam kedua, malam ketiga, malam keempat karena sebagian ulama’ mengatakan Malam dengan Tahajjud, doa, cinta , dan rindu kepada Allah adalah Lailatul Qadr baginya. Maka semoga setiap malam kita adalah Lailatul Qadr, lebih lagi kalau di setiap malam Ramadhan kita dalam cinta, rindu dan tangis kepada Allah, lebih lagi jika setiap malam maka salah satu malamnya adalah Lailatul Qadr kalikan dengan 1000 bulan, 83 tahun.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Rahasia kedermawanan Allah sangat luas. Diriwayatkan pula di dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasul SAW bersabda riwayat Sayyidina Bilal Al Muadzzin RA :
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ اْلقَدْرِ فِي السَّبْعِ اْلأَوَاخِرِ
Ada lagi hadits lain yang mengatakan “temui Lailatul Qadr di tujuh malam terakhir”. Hadits ini berbeda dengan hadits yang tadi, kalau tadi dibilang sepuluh malam terakhir, ini hadits bilang tujuh malam terakhir, maka bisa kita ambil yang mana saja, yang amannya ambil sepuluh malam terakhir,
kenapa dijadikan Lailatul Qadr itu di malam-malam terakhir Ramadhan? Karena sifat manusia di awal-awalnya semangat di akhir-akhirnya turun, maka Allah jadikan Lailatul Qadr di sepuluh malam terakhir supaya umat semangat lagi, supaya mereka termuliakan. Allah tidak dapat untung apa-apa daripada kita, Allah ingin kita beruntung dan makin dekat kepadaNya maka dijadikanlah di sepuluh malam terakhir. Nah, sepuluh malam terakhir ini hati-hatilah dan jagalah jangan sampai malah di sepuluh malam terakhir ini kita sibuk memikirkan pakaian baru belum ada dan lain sebagainya. Hadirin hadirat…hal seperti itu syi’ar boleh-boleh saja, tapi ada anugerah yang lebih abadi ditawarkan oleh Allah di hari-hari mulia sepuluh hari terakhir Ramadhan. Semoga Allah memuliakan aku dan kalian dengan kemuliaan Lailatul Qadr.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Perlu juga saya jelaskan dari banyak yang bertanya tentang shalat tarawih yang cepat , sebagian para Salafuna As Shalihin melakukannya, sebagian tidak. Shalat Tarawih dengan cepat teriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari dan ada dalilnya, Rasul SAW melakukan shalat qabliyyah Al Fajr
كَأَنَّهُ مَا يَقْرَأُ فَاتِحَةَ اْلكِتَابِ
(seakan-akan beliau SAW tidak membaca surat Alfatihah) , kata Sayyidatuna Aisyah RA riwayat Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim. Rasul SAW melakukan shalat sunnah qabliyatul Fajr (qabliyah subuh) dua rakaat seakan-akan tidak membaca fatihah dari cepatnya. Dalam riwayat lain di Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, Ummu Hani RA melihat Rasul SAW melakukan shalat Dhuha di hari Fath Makkah dengan cepat , seakan-akan beliau tidak shalat tapi beliau menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.
Di dalam madzhab Syafi’i yang dimaksud dengan tuma’ninah menyempurnakan ruku’ dan sujud itu kadar maksimalnya tidak ada batasnya, sepanjang apapun boleh tapi kadar minimalnya sekadar seorang mengucapkan سُبْحَانَ الله satu kali. Kalau di saat itu ia rukuk dan seluruh tubuhnya diam sekadar sekali mengucapkan سُبْحَانَ الله , itu sudah tuma’ninah maka sah shalatnya. Kalau sampai ruku’nya bergerak, tidak berhenti di saat ruku’ (dan) di saat sujud maka batal shalatnya, jadi hati-hati kalau mau ikut dengan orang-orang yang Imam shalatnya cepat, harus faham caranya ketika ruku’ harus diam kalau sekadar kalimat سُبْحَانَ الله itu kira-kira sedetik tapi harus diam, jangan terus bergerak. Kalau seandainya diam sekadar itu maka shalatnya sah, sah rukuknya, sah sujudnya dan membaca fatihah dengan cepat diperbuat oleh Sang Nabi di dalam qabliyah Al Fajr dan lainnya, terlebih lagi shalat tarawih yang juga termasuk shalat sunnah.
Namun tentunya hal ini makruh jika dilakukan saat shalat fardhu. Jadi yang mau melakukan shalat tarawih secara cepat ada dalilnya. Yang mau melakukan secara lambat shalat sunnah boleh juga, keduanya dilakukan oleh guru mulia kita Al Allamah Al Musnid Al Habib Umar Bin Hafidz, shalat sunnah dengan cepat shalat sunnah dengan lambat. Sekarang beliau melakukan shalat sunnah Tarawih di Darul Musthafa dengan lambat, dalam satu bulan bisa dua atau tiga kali khatam Al qur’an dengan bacaan Al quran, namun beliau juga melakukan shalat sunnah tasbih dengan cepat.
Shalat tasbih, belajar kalau seandainya belum tahu, disunnahkan shalat tasbih meskipun sekali dalam seumur hidup, kalau bisa tiap bulan, kalau bisa tiap minggu, kalau bisa tiap hari tapi guru mulia kita melakukannya disana setiap malam di bulan Ramadhan setelah shalat Maghrib. Beliau melakukan dengan cepatnya shalat tasbih itu paling sulit kenapa? karena membaca
وَاْلحَمْدُلِلهِ وَلَاإِلهَ إِلَّا الله وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ الله
saat ruku’ 10 kali, saat I’tidal 10 kali, saat sujud..terus sampai sempurna 300 kali bacaan tasbih. Guru mulia kita melakukan shalat tasbih sangat cepat, kenapa shalat secepat itu..karena teriwayat shalat sunnah cepat. Tapi kalau sendiri disunnahkan jangan cepat-cepat , kalau untuk kita sendiri nikmati ruku’ dan sujud bersama kemuliaan Allah SWT.
Para Salafuna As Shalih banyak yang melakukan shalat sunnah cepat, banyak yang melakukan shalat yang lambat. Di dalam tafsir Al Imam Ibn Katsir dijelaskan, sebagian dari salaf melakukan shalat sunnah seribu rakaat setiap harinya, shalat sunnah seribu rakaat bagaimana cepatnya!?.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Hal itu diperbuat pula oleh Al Imam Ali Zainal Abidin As Sajjad ibn Husain bin Ali bin Abi Thalib RA, di setiap malam shalat 1000 rakaat , demikian pula Al Imam Syafi’i, dan demikian pula sebagian banyak para Imam, dan adapula yang memanjangkan malam-malamnya dengan shalat sunnah dua rakaat.
Hadirin hadirat, dari semua riwayat ini semoga aku dan kalian dalam keberkahan dunia dan akhirat. Satu hal lagi yang perlu saya bahas, adalah masalah mandi di siang hari bulan Ramadhan, sikat gigi, dan berusaha meringankan puasanya, bagaimana hukumnya? Hukumnya makruh, tapi kalau seandainya perbuatan itu kalau tidak dilakukan bisa membuat puasanya batal maka menjadi Wajib, misalnya lemah kalau saya tidak mandi saya bisa pingsan maka batal puasanya, jadi harus qadha’ maka saya harus mandi, (maka) mandi sewajarnya mau sepuluh kali setiap hari (pun tidak apa apa demi menjaga puasanya), atau kalau saya tidak mandi akhirnya lemah nanti, saya bekerja, saya sekolah, saya mempunyai kesibukan rumah tangga misalnya, maka tentunya yang seperti itu boleh-boleh saja tidak menjadi makruh. Yang menjadi makruh adalah mampu melewati puasa tapi diringan-ringankan, supaya lebih ringan lagi mandi padahal dia tidak mempunyai kesibukan apa-apa, karena apa? Yang dimakruhkan itu adalah meringankan puasa padahal mampu.
Karena Rasul SAW berkata: Paksakan dirimu sampai batas kemampuan jangan lebih dari batas kemampuan, kalau lebih dari batas kemampuan malah menjadi makruh. Jadi kalau mau mandi, mandi saja kalau mau berkeramas, keramas saja.. mau banyak-banyak mandi di siang hari silahkan saja, asalkan hal-hal tersebut tidak dimaksudkan meringankan puasanya, kalau dimaksudkan meringankan puasanya maka itu makruh, yang lebih buruk adalah orang yang memaksakan diri, tidak usah deh keramas di siang hari Ramadhan biar saja keadaan seperti apapun , tidak usah sikat gigi, tidak usah mandi karena makruh, akhirnya sehari dua hari, tiga hari kesal dengan Ramadhan. Ia mau mencari hal yang sunnah, akhirnya dalam hatinya berkata kapan sih Ramadhan selesai capek saya!!, tiap hari tidak sikat gigi, (baiknya sikat gigi sebelum imsak), tidak mandi, perasaan ini bisa membatalkan pahala puasa mu. Ini jauh lebih buruk daripada kita melakukan hal-hal yang makruh, lakukan itu kalau seandainya sudah terganggu puasamu dan khusu’mu , maka jangan sampai hati kita benci dengan Ramadhan.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Inilah indahnya sunnah Nabi kita Muhammad SAW “berbuatlah semampunya”. Semoga Allah SWT memuliakan kita dalam rahasia keagungan Badr Al Kubra ini dan kemuliaan Nuzul Al Qur’an. Rabbi..Rabbi..halalkan seluruh wajah kami mendapatkan cahaya kemuliaan Nuzulul Qur’an, pastikan kami semua kelak dalam kelompok Ahlul Badr, ketika dipanggil di yaumul kiamah wahai Ahlul Badr berdirilah, pastikan kami berdiri diantara para pencinta Ahlul Badr. Ya Rahman Ya Rahim Ya Zal Jalali Wal Ikram…jika kelak di yaumul qiamah masing-masing kelompok dipanggil dengan pencintanya, kelompok pezina, kelompok pemabuk, masing-masing berdiri dengan kelompoknya, maka di saat itu akan dipanggil pula dimana kelompok Ahlul Badr, semoga aku dan kalian berdiri dalam kelompok Ahlul Badr. Semoga aku dan kalian tidak berdiri saat dipanggil mana kelompok penggunjing, mana kelompok pendusta, mana kelompok pencaci, mana kelompok pendosa, Rabbi..jangan Engkau berdirikan (kami) diantara mereka. Pastikan ketika Ahlul Badr dipanggil kami ikut berdiri diantara mereka para pecinta Ahlul Badr, yang telah disabdakan oleh Nabi kami :
اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
(seseorang bersama dengan orang yang dicintainya). Rabbi..kami rindu wajah-wajah Ahlul Badr Al Kubra, kami rindu melihat wajah-wajah damai, kami rindu melihat wajah Khulafaa’ Ar Rasyidin, kami rindu melihat wajah Muhajirin dan Anshar, kami rindu memandang wajah Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, melihat wajah-wajah mulia. Ya Zal Jalali Wal Ikram Ya dzaa At Thawli Wal In’aam Ya Rahman Ya Rahim..pastikan kami di dalam keberkahan dunia dan akhirat dalam kebahagiaan dunia dan akhirat. Demi kemuliaan Badr Al Kubra jawablah seluruh doa kami, hapuskan seluruh dosa kami, singkirkan segala kesulitan kami, jauhkan musibah dari kami sejauh-jauhnya, jauhkan dari kami kemurkaan sejauh-jauhnya. Ya Rahman Ya Rahim..damaikan kami, damaikan masyarakat kami, damaikan bumi Jakarta, damaikan bangsa kami, tenangkan jiwa muslimin muslimat (agar terhindar) dari perbuatan-perbuatan yang hina dan mungkar. Ya Rahman Ya Rahim Ya Zal Jalali Wal Ikram..jadikan jiwa kami dan jiwa saudara-saudara kami muslimin muslimat selalu risau jika ingin berbuat dosa, dan selalu tenang dan senang jika ingin berbuat pahala..
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا : يَا الله…يا الله…يا الله …يَارَحْمنُ يَارَحِيم…
لَاإِلهَ إلَّا الله….لاإله إلاالله مُحَمَّدٌ رَسُولُ الله .. وَصَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ
كَلِمَةُ حَق عَلَيْهَا نَحيَا وعَلَيْهَا نَمُوتُ وعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِينَ ..
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Semoga malam-malam berikutnya kita semakin indah dan mulia, semoga di malam-malam berikutnya kita semakin mencintai dan dicintai Allah SWT, Ya Rahman Ya Rahim..
Dan saya ingatkan malam senin yang akan datang Tabligh Akbar Majelis Rasulullah SAW, ada undangan daripada Pimpinan PBNU KH. Hasyim Muzadi di kediaman beliau, untuk peresmian pesantren beliau . Beliau tidak bisa hadir malam hari ini untuk langsung mengundang , undangan disampaikan kepada saya dan Majelis kita, jika yang mempunyai waktu hadir jika yang sudah mudik maka semoga diberi kemuliaan oleh Allah dan keselamatan, dan yang di Jakarta mudah-mudahan tidak ada halangan untuk termuliakan dalam syi’ar malam-malam terakhir di bulan Ramadhan yang mulia ini. Kita teruskan dengan doa kepada Allah dan munajat bertawassul kepada Ahlul Badr…
صَلاَةُ اللهِ سَلاَمُ اللهِ عَلَى طَه رَسُوْلِ الله
صَلاَةُ الله سَلَامُ الله عَلَى يَس حَبِيْبِ الله
Sebelum kita tutup, saya akan menyampaikan salam dan rindu dari guru mulia kita Al ‘allamah Al Musnid Al Habib Umar bin Hafidz, semalam telah kita sampaikan bahwa acara di Jakarta sukses, kebetulan acara beliau sama di malam yang sama dengan acara kita dan mengadakan Haul Ahlul Badr juga di Tarim Hadramaut. Telah disampaikan bahwa acara di Jakarta sukses dengan zikir lafdzul Jalalah 1000 kali, dan setelah disampaikan berita ini Beliau bergembira, dan juga disampaikan kepada beliau vcd di malam Nisf Sya’ban yang lalu, beliau sangat gembira dengan kesuksesan acara tersebut dan selalu mendoakan kita. Dan InsyaAllah kerinduan beliau untuk hadir ke tempat kita tidak lama lagi, insyaAllah bulan Muharram tepatnya bulan Desember, insyaAllah kita akan mengadakan malam selasa bersama beliau , dan insyaallah acara ini sukses kira-kira tinggal tiga bulan lagi, kita akan buat acara insyaallah yang hadir lebih banyak lagi muslimin muslimat…
أَمِين اللَّهُمَّ أمين يَاذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَام يَاذَا الطَّوْلِ وَاْلإِنْعَام…
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ وَصَلَّى اللهُ علَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى ألِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَأَخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ…
Ditulis Oleh: Hbb.Munzir Bin Fuad Almusawa
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Abdkadiralhamid | BaniAlawiyyinIndonesia
Copyright © 2014. Sejarah Ahlulbait Rasulullah - All Rights Reserved
Blog Created by Creating Website Published by BaniAlawiyyinIndonesia
Proudly powered by Blogger